2.SKEPTISME

https://www.merdeka.com/trending/skeptis-adalah-sikap-ragu-terhadap-sesuatu-pahami-cara-menghindarinya-kln.html

Sejumlah aliran ilmu yang dipelajari manusia hingga saat ini tersebut menyebutkan masing-masing definisi dari skeptis.

ILMU FILSAFAT

Dari sudut pandang ilmu filsafat, skeptis adalah suatu sikap meragu terhadap sesuatu informasi ataupun pengetahuan yang telah diwariskan kepada umat manusia selama ini. Berbagai ilmu yang tertulis di masa lampau dianggap bukan sesuatu hal yang pasti.

Maka dari itu, dibutuhkan diskursus untuk menyempurnakan pengetahuan yang telah diwariskan dari generasi umat manusia di masa lalu. Pemikiran ini bermula dari adanya beberapa tokoh filsafat klasik seperti Socrates hingga Plato yang merenungkan pengetahuan dan informasi.

Sejatinya, tak akan pernah ada kejelasan dan kepastian dari seluruh ilmu yang telah ada di dunia ini. Bagi para filsuf tersebut, sikap skeptis adalah perumpamaan melihat segala bentuk ilmu pengetahuan diibaratkan sebagai apel busuk.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Rene Descartes, filsuf Prancis abad 16. Sikap skeptis akan terus berkembang diibaratkan saat manusia melihat ke dalam sekeranjang apel. Untuk memastikan kondisi apel, maka manusia harus melihatnya secara rasional satu persatu.

 ILMU PSIKOLOGI

Dalam ilmu psikologi, skeptis adalah suatu sikap kecenderungan untuk meragukan pendapat orang lain. Orang lain yang berinteraksi langsung dengannya akan dipandang sebelah mata dan tak memiliki kemampuan kognitif yang sama.

Akibatnya, pertentangan pun seringkali terjadi. Tak jarang, sikap skeptis akan berubah dari pertentangan menjadi konflik jika tak kunjung menemukan persamaan sudut pandang dan resolusi yang tepat.

ILMU SOSIOLOGI

Berbeda lagi dengan ilmu sosiologi saat memandang sikap skeptisisme. Dalam sosiologi atau ilmu yang mempelajari tentang interaksi manusia, skeptis adalah hasil pemahaman kognitif seorang individu yang berbeda dari orang lain.

Hal ini dapat terjadi lantaran pengaruh dari banyak faktor seperti intensitas komunikasi dengan orang lain, lingkungan keluarga, dan lain sebagainya. Sikap meragu terhadap pandangan orang lain ini pun juga akan berpengaruh terhadap bentuk interaksi yang hendak dilakukan individu.