3.Spiritualitas Perikoresis dalam Peristiwa Pentakosta:

Analisis Reinterpretatif Kisah Para Rasul 2:1-13

Harls Evan R. Siahaan Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta evandavidsiahaan@gmail.com

https://sttberea.ac.id › article › download › pdf

Bahasa Roh: Spiritualitas Perikoresis

Bahasa roh bukan titik akhir dalam peristiwa baptisan Roh Kudus, seolah menjadi legalitas bahwa seorang telah dipenuhi Roh Kudus. Sebaliknya, bahasa roh menjadi titik awal (arkhē) merefleksikan spiritualitas perikoresis yang direfleksikan melalui kehidupan jemaat mula-mula. Prinsip Perikoresis kedua adalah  Ruang Bagi Sesama

Ruang bagi Sesama

1.Prinsip perikoresis terkait dengan kata benda khōra yang berarti “memberi ruang” secara mutual untuk saling mengisi (interpenetrasi). Yesus menggunakan istilah saling mengisi ini dalam tulisan Yohanes, seperti dalam pasal 17; Bapa di dalam Yesus, Yesus di dalam Bapa. Bahasa roh yang terucapkan oleh dorongan Roh Kudus melalui 120 orang di hari Pentakosta menjadi khōra bagi bahasa lain yang diidentifikasi oleh para Yahudi diaspora sebagai bahasa daerah asal mereka. Ini tidak berbicara tentang simbol, melainkan spiritualitas perikoresis yang membuka ruang bagi banyak bangsa dan identitas lainnya. Kepenuhan Roh Kudus berarti membuka ruang bagi kebersamaan. Itu sebabnya, apa yang diusung oleh Yong tentang teologi hospitalitas sebagai bingkai pembacaan Kisah Para Rasul merupakan hal yang sangat logis dan mendasar.23 Namun, hospitalitas jemaat mula-mula tidak dapat dilepaskan dari spiritualitas yang mendorong mereka bersikap hospitable, yakni spiritualitas perikoresis; membuka ruang bagi yang lain, yang adalah sesama.

2.Gereja yang mengklaim dirinya penuh oleh Roh Kudus tidak sekadar latah dalam berbahasa roh tanpa mampu dan mau membuka ruang bagi sesama. Bahasa roh merupakan ekspresi khōra yang siap dan sudi diisi. Joas Adiprasetya dan Nindyo Sasongko menerapkan prinsip perikoresis trinitarian ini untuk membuka ruang persahabatan gereja dengan masyarakat luar dan luas.24 Bahasa roh menstimulasi spiritualitas orang percaya untuk tidak tertutup bagi identias luar gereja. Cinta kasih yang diejawantah dalam kehidupan sehari-hari, untuk mengasihi sesama, baik orang percaya maupun manusia pada umumnya, mustahil terlaksana jika tidak memberi ruang bagi orang untuk hadir dan dicinta. Seperti Allah yang begitu tertutup terhadap manusia karena dosanya, oleh energi rahmat Kristus membuka ruang bagi manusia untuk dicinta dan diselamatkan. Bahasa roh bukan identitas tentang orang percaya yang dipenuhi Roh Kudus, melainkan spiritualitas perikoresis tentang keterbukaan dan penerimaan. Keterbukaan akan sangat berisiko, seperti halnya sikap hospitalitas pun mengandung risiko25; namun, tidak berarti memberi ruang akan menuntut syarat. Tidak sedikit orang Kristen yang siap untuk mengisi ruang orang lain, terlebih jika melaluinya dapat mengaktualisasikan diri, namun belum tentu siap untuk menjadi ruang aktualisasi orang lain. Ruang itu bersifat merengkuh segala kemungkinan agar Roh bekerja melaluinya.