6.GLOSSOLALIA DI AGAMA LAIN

Selain di Agama Kristen, beberapa kelompok religius juga tampaknya memiliki praktik dengan bentuk theopneustik glossolalia.

Glossolalia menjadi suatu penjelasan mengenai kemashyuran kuno Oracle dari Delphi, di mana para pendeta dewa Apollo (disebut sebagai seorang sibyl) berbicara dalam ungkapan-ungkapan aneh, seakan-akan Apollo berada di dalamnya, tetapi kemungkinan berhubungan dengan gas alami tingkat tinggi pada sumber mata air di dalam kuil tersebut.

Dalam beberapa naskah gaib Gnostik dari zaman Romawi telah tercatat suku-suku kata tanpa arti seperti “t t t t t t t t n n n n n n n n n d d d d d d d…” dan lain-lain. Kemungkinan besar tulisan ini merupakan transliterasi dari suara yang muncul selama glossolalia. Kitab Koptik dari Mesir juga menyajikan sebuah himne dengan (kebanyakan) suku-suku kata tanpa arti yang kemungkinan merupakan contoh dari glossolalia Kristen mula-mula.

Pada abad ke-19, Spiritisme muncul sebagai semacam agama baru yang didirikan oleh Allan Kardec dan fenomena ini dianggap sebagai salah satu manifestasi yang nyata dari roh-roh. Para kaum Spiritis menyatakan bahwa beberapa glossolalia adalah peristiwa aktual akan xenoglossia (ketika seseorang berbicara dalam bahasa lain yang asing baginya). Bagaimanapun, atribut bahwa glossolalia itu penting dalam spiritisme telah secara signifikan berkurang. Spiritis pada saat ini menganggap fenomena tersebut tidak ada artinya, karena tidak menyampaikan pesan yang dapat dimengerti bagi penggunanya.

Glossolalia juga terdapat di Shamanisme dan agama Voodoo di Haiti; yang mana sering kali dimunculkan dengan pengkonsumsian obat-obatan halusinogenik atau entheogen seperti jamur Psilocybe. Bersambung