ABAD KEPALSUAN

Abad Kepalsuan

Oleh Reza A.A Wattimena

 

Di abad 21 ini, kita hidup di dunia yang penuh kepalsuan. Apa yang tampak tak sesuai dengan apa yang di dalamnya. Orang-orang memakai topeng berlapis untuk menutupi jati dirinya. Padahal, di balik topeng-topeng yang berlapis itu, mereka hidup penuh penderitaan dan kemunafikan.

Manusia-manusia palsu tersebut bermulut manis, namun hatinya penuh dengki. Tampilannya cantik dan ganteng, namun pikirannya jahat dan penuh ambisi yang merusak. Mereka terlihat suka menolong dan baik hati. Namun, semua itu dilakukan untuk meningkatkan pamor “politik” belaka. Tak ada ketulusan di dalamnya.

Bahkan, tubuh pun mereka manipulasi, sekedar untuk meningkatkan pamor. Tak heran, operasi plastik kini semakin menjamur. Orang mengubah wajah mereka, sehingga bisa mencapai ukuran cantik dan ganteng yang dibuat oleh pasar. Jutaan, bahkan milyaran rupiah, dihabiskan untuk mengubah wajah, sesuai dengan keinginan pasar.

Tidak hanya tubuh, pikiran pun kini penuh kepalsuan. Orang sulit untuk berpikir mandiri, karena tekanan sosial dari segala arah, mulai dari keluarga, teman pergaulan sampai trend masyarakat secara umum. Orang tak punya lagi keberanian untuk berkata “tidak” pada kekuatan-kekuatan yang menjajah mereka. Alhasil, pikiran mereka adalah pikiran massa, tanpa keaslian sedikit pun.

Ketika tubuh dan pikiran kehilangan keasliannya, lalu muncullah berbagai bentuk kepalsuan di dalam masyarakat. Kita menemukan politisi palsu yang korup dan rakus kekuasaan. Kita menemukan guru dan pemuka agama palsu yang menyebarkan ajaran-ajaran radikal, serta memperbodoh masyarakat. Kita bahkan menemukan dokter palsu yang menipu pasien dengan obat-obatan yang mahal.

Akar Kepalsuan di Abad 21

Mengapa kepalsuan ini begitu kuat dan tersebar di abad 21? Ada lima hal yang kiranya penting untuk diperhatikan.

Pertama, kita hidup di jaman yang serba kompetitif. Untuk sekedar belajar hal sederhana, kita harus berkompetisi. Untuk mencari nafkah sederhana pun kita harus berkompetisi. Sistem ekonomi politik yang salahlah yang melahirkan iklim kompetisi semu semacam itu.

Dua, akar dari kompetisi adalah perbandingan. Kita terus membandingkan diri kita dengan orang lain. Ini berlangsung di berbagai bidang, dan menciptakan banyak ketegangan, bahkan konflik, yang tak perlu. Tak heran, banyak orang hidup dalam kepalsuan sekedar untuk memenangkan kompetisi semu dalam perbandingan yang juga semu dengan orang lain.

Tiga, pengaruh media sosial jelas amat besar disini. Orang mengumbar hidup pribadinya yang telah dipoles cantik ataupun ganteng hampir setiap detik dalam hidup. Mereka lalu saling membandingkan kehidupan masing-masing setiap saat. Segala bentuk cara-cara palsu pun ditempuh untuk memoles hidup, supaya terlihat lebih indah dari aslinya.

Empat, memang, akar dari semua ini adalah lemahnya kepribadian. Orang tak memiliki nilai dan arah yang jelas dalam hidupnya. Orang terus diperbudak tidak hanya oleh tekanan sosial masyarakat, tetapi juga oleh pikiran dan emosinya. Alhasil, orang bisa terlihat sukses dan bahagia di mata masyarakat, namun hidup dalam derita tiada tara di kamar-kamar pribadinya.

Lima, sistem pendidikan yang bobrok berperan besar di dalam menciptakan masalah-masalah ini. Di Indonesia, pendidikan membunuh akal sehat, dan hanya menekankan pada kepatuhan buta serta hafalan dangkal. Di tingkat internasional, pendidikan hanya berpusat pada pengembangan kecerdasan intelektual belaka. Kedua bentuk pendidikan ini menciptakan manusia-manusia cacat yang tak mampu menangkap keluasan serta kebahagiaan hidup yang sesungguhnya.

Kebahagiaan pun lalu dicari di luar diri dalam bentuk harta dan kuasa. Kompetisi lalu menjadi jalan untuk mencapai kebahagiaan. Kepalsuan  tubuh dan pikiran pun tercipta, tersebar dan bahkan dirayakan sebagai hal yang ideal. Bagaimana keluar dari abad kepalsuan semacam ini?

Melampaui Kepalsuan

Pertama, kita perlu mengubah cara berpikir kita tentang kompetisi. Di dalam hidup, tidak ada kompetisi. Itu hanya ciptaan pikiran manusia yang hidup dalam kesesatan berpikir. Kompetisi menciptakan ketegangan yang tak perlu dalam batin, sekaligus ketegangan antar manusia.

Dua, yang dibutuhkan sebenarnya adalah kooperasi, atau kerja sama. Hanya dengan bekerja sama, manusia bisa mewujudkan hal-hal hebat di dalam hidupnya. Kerja sama hanya mungkin, jika setiap orang mengolah keunikan yang mereka punya menjadi kenyataan. Perbandingan pun lalu menjadi tidak masuk akal, karena setiap orang, sejatinya, adalah unik.

Tiga, sikap kritis di dalam membaca media, terutama media sosial, mutlak diperlukan. Begitu banyak kebohongan tersebar melalui media. Begitu banyak fitnah dan propaganda terkandung di dalamnya. Tanpa sikap kritis di dalam mengolah informasi, masyarakat akan mudah dipecah boleh oleh kepentingan busuk.

Empat, pendidikan secara keseluruhan, terutama di Indonesia, perlu mengalami perubahan besar. Dua hal kiranya perlu menjadi perhatian, yakni pendidikan akal sehat dan pendidikan kesadaran. Akal sehat akan membantu manusia membuat keputusan-keputusan yang waras dalam hidup. Kesadaran akan membantu manusia mengolah emosi dan pikirannya, supaya tidak mengarah pada penderitaan yang berlebihan.

Jika dilakukan secara menyeluruh, keempat hal ini akan menciptakan masyarakat yang autentik. Masyarakat semacam ini tidak menyembunyikan kebenaran demi tampilan luar yang memikat, namun menipu. Kerja sama dan keunikan akan dirayakan lebih daripada kompetisi semu yang merusak.

Kita masih hidup di awal abad 21. Kesempatan untuk berubah masih ada. Abad ini tidak perlu menjadi abad kepalsuan, tetapi abad autentisitas. Semua tergantung pada keputusan-keputusan yang kita ambil.

 

CATATAN KAKI

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018) dan berbagai karya lainnya.

 

diakses dari:  https://rumahfilsafat.com/2019/11/04/abad-kepalsuan/

Leave a Comment