HIDUP MEMBIARA

I.17. HAL HIDUP MEMBIARA

1.Sungguh sangat penting, bahwa dalam banyak hal kita harus belajar mengalah, apabila kita ingin hidup rukun dan damai dengan orang lain.

Sungguh tidak kecil artinya hidup di dalam biara atau di dalam persekutuan bersama orang lain, tanpa keluh kesah, rukun dan damai serta setia sampai mati.

Sungguh bahagialah orang yang telah hidup di kalangan itu dengan baik dan tetap bahagia sampai saat terakhir

Apabila kita ingin tetap berdiri dan maju, sebaiknya kita selalu ingat, bahwa di dunia ini kita adalah sebagai orang buangan dan perantau. Kita harus menjadi orang bodoh sebab Kristus (1 Kor. 4 : 10) bila kita ingin hidup membiara.

2.Pakaian biara dan pangkas rambut tonsure hanya sedikit gunanya. Tetapi memperbaiki kelakuan dan mengendalikan hawa nafsu dengan sempurna itulah membuat kita menjadi orang pertapa yang sesungguhnya.

Barangsiapa ingin mencari sesuatu di luar Tuhan atau mencari lain daripada kebahagian jiwanya sendiri, niscaya ia akan hanya menemukan kesukaran dan kesusahan belaka.

Juga tak akan lama ia merasakan hidup puas, jika ia tidak berusaha menjadi yang paling hina dan paling rendah di antara semua orang.

3.Kita hidup dengan tugas untuk mengabdi, bukan untuk memerintah. Baiklah kita ketahui, bahwa kita dipanggil untuk bekerja dan menderita sengsara, bukan untuk menganggur dan ngobrol-ngobrol.

Di sinilah orang diuji laksana emas di dalam perapian (Kebj 3 : 6)

Di sini orang tak akan dapat bertahan, kecuali dia dengan segenap hatinya mau merendahkan diri karena Tuhan.

SUMBER DIAMBIL DARI:

Judul Buku     : Mengikuti Jejak Kristus (Imitatio Christi)

Penulis:            Thomas A Kempis

Penterjemah: J.O.H. Padmasepotra Pr,

Penerbit           : Obor Jakarta, terbitan 1986

Diakses dari :  https://thomaskempis.wordpress.com/

https://thomaskempis.wordpress.com/buku-1/

 

Leave a Comment