IBLIS

TEOLOGI SISTIMATIKA

TS 14 – IBLIS -MALAIKAT YANG JATUH

 

PENYEBAB KEJATUHAN MALAIKAT

1.Kalau kita setujui bahwa informasi Yeh 28:11-19 dan Yes 14:13-17 menceritakan tentang kejatuhan Malaikat menjadi Iblis yang menentang Allah dengan keinginan untuk sejajar dengan Allah, ada beberapa kesulitan teologis yang besar terjadi. Seperti diketahui, para malaikat itu diciptakan Allah sebagai mahkluk yang sempurna, semua perasaan kasih sayang dalam hati mereka ditujukan kepada Allah; tugas mereka selalu memuji-muji kemuliaan Allah.366 Masalahnya sekarang, darimana keinginan dosa itu muncul pada diri malaikat Allah yang sempurna itu? Ini satu hal yang lebih sulit lagi, bagaimana dosa bisa masuk ke surga, tempat Allah yang maha kudus bersemayam?

Untuk menjawab kesulitan ini, sangat perlu rupanya kita mengingat bahwa mahkluk ciptaan itu pada mulanya memiliki kemampuan posse peccare et posse non peccare, yaitu suatu kemampuan untuk berbuat dosa atau tidak berbuat dosa.367 Artinya, makhluk ciptaan itu diciptakan dalam posisi memiliki kehendak bebas yang otonom (free-will) untuk menentukan arah tindakannya sendiri. Dengan sendirinya kita bisa menarik kesimpulan, bahwa kejatuhan malaikat disebabkan karena mereka sendiri dengan sengaja telah memilih untuk memberontak kepada Allah. Alasan yang paling memungkinkan mengapa mereka memilih memberontak adalah kesombongan mereka ingin sejajar dengar Allah.

2.Kalau argumen seperti ini bisa diterima, maka tampaknya jelas bagi kita, mengapa malaikat Tuhan yang sempurna itu tetap bisa jatuh, dan kemudian diusir dari kekudusan Allah di surga. Potensi dosa rupanya muncul bersamaan sebagai sesuatu yang mengikuti mahkluk ciptaan. Tapi konsekuensi yang perlu diajukan dalam hal ini, apakah ini berarti Allah yang menciptakan dosa atau potensi dosa? Harun Hadiwijono dengan tegas menolak argumen ini.368 Bagi beliau, tentang asal dosa dan sumber dosa tidak mungkin diterangkan.369 Pokok ini merupakan misteri Allah yang tidak mungkin manusia mampu menyingkapkan secara jelas.

 

PRO KONTRA

1.Diskusi kita belum selesai. Tidak semua teolog setuju dengan pemikiran di atas. Pertanyaan bagaimana dosa bisa masuk ke dalam surga yang mahasuci, mahakudus, di mana Allah bersemayam, masih belum tuntas dijawab. Rupanya kesulitan ini serupa dengan pertanyaan yang diajukan atas Kitab Ayub 1 dan 2, yaitu bagaimana Allah bisa bercengkrama dengan Iblis yang jelas-jelas sudah berdosa, bahkan disebut sebagai bapa segala pendusta (Yoh 8:44)?

2.Dalam Tafsiran Alkitab Masa Kini 2 tentang Kitab Ayub, disebutkan bahwa sebenarnya Iblis yang dimaksud bukanlah Iblis sebagaimana yang digambarkan dalam teologia ortodoks, yaitu Iblis yang berasal dari malaikat yang jatuh.370 Heavenor menerima, bahwa Iblis sesungguhnya tidak tampil selaku malaikat yang jatuh, bahkan sebenarnya ia digambarkan selaku mahkluk yang mempunyai kemungkinan untuk datang ke surga (bdk. 1:6; 2:1). Sehingga kalau Ayub 1 dan 2 menyebut suatu dewan surgawi yang dihadiri oleh anak-anak Allah, tidak perlu dipermasalahkan kalau yang termasuk di dalamnya adalah Iblis juga.

3.Komentar ini sejajar dengan Tafsiran Kitab Yesaya yang ditulis oleh Derek Kidner, yang menyatakan bahwa Yes 14:13-17 tidak mungkin ditafsirkan sebagai cerita pemberontakan Iblis terhadap Allah (termasuk halnya dengan Yeh 28:11-19).371 Pendapat sejenis juga dapat ditemukan dalam komentar S.H. Widyapranawa maupun John B. Taylor.372 Pada prinsipnya, masing-masing kitab tersebut sama sekali tidak membicarakan tentang narasi kejatuhan malaikat, tapi merupakan nubuatan nabi Yesaya dan Yehezkiel tentang bangsa-bangsa yang akan dipakai Allah untuk menjajah dan menghukum Israel sebagai umat yang memberontak kepada Allah. Tapi Allah mengingat janji yang pernah Dia ucapkan di depan Musa terhadap umat-Nya Israel (Kel 6:2-6) dan membebaskan mereka dari tangan bangsa kafir tersebut.

4.Sekarang bagaimana? Posisi apakah yang sebaiknya kita ambil dalam menjawab pertanyaan dasar diskusi kita: Asal mula Iblis, dari kejatuhan malaikat dalam dosa? Ataukah Allah sendiri yang menciptakan mereka?

Penulis rasa, sikap yang bijaksana bagi kita menghadapi dialog yang sulit dan masing-masing mempunyai argumen yang kuat untuk pandangan mereka, adalah menerima diskusi ini sebagai misteri Allah yang tidak mungkin terungkap oleh keterbatasan rasio pikir manusia. Karena perdebatan ini bukanlah masalah prinsip iman kekristenan kita. Bahkan dengan sikap yang seperti itu, menunjukkan sikap takluk kita dan mengakui bahwa kita terbatas di hadapan Allah kita yang tidak terbatas. Sepatutnya kita senantiasa. menjaga diri dan bersikap waspada akan kehidupan kita, karena Iblis yang nyata-nyata ada itu senantiasa bekerja mengganggu kehidupan rohani orang percaya untuk keluar dari jalan kasih Allah.

 

KESIMPULAN:

  1. Realitas keberadaan Malaikat dan Iblis tidak pernah diragukan dalam seluruh kitab PL maupun PB.
  2. Umumnya para teolog setuju, bahwa tidak mungkin Allah menciptakan Iblis yang sesungguhnya merupakan bapa segala pendusta, yang seperti singa yang mengaum-aum dan senantiasa berusaha mencari orang yang dapat ditelannya (Yoh 8:441Ptr 5:8).
  3. Sebagian kalangan menerima tafsiran bahwa Yeh 28:12-19dan Yes 14:12-17sebagai cerita tentang kejatuhan malaikat karena kesombongan mereka ingin setara dengan Allah. Tapi sebagian kalangan tidak bisa menerima tafsiran bagian tersebut sebagai narasi. Masing-masing kitab merupakan nubuatan nabi Yesaya dan Yehezkiel mengenai nasib bangsa kafir yang menguasai Israel.
  4. Dari dua argumen tersebut, adalah sikap bijaksana kalau kita hanya bisa mengatakan bahwa bahwa persoalan ini merupakan misteri Allah yang kekal. Kewajiban kita hanyalah, bersikap waspada dan senantiasa mengandalkan kekuatan Allah yang memimpin hidup kita.

 

Ayat hafalan : Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. ( 1 Pet.5:8)

 

SUMBER:

https://alkitab.sabda.org/resource.php?topic=425&res=jpz

https://alkitab.sabda.org/resource.php?topic=426&res=jpz

https://alkitab.sabda.org/resource.php?topic=427&res=jpz

 

Leave a Comment