ISLAM PRIBUMI

ISLAM PRIBUMI DAN ISLAM PURITAN:

Ikhtiar Menemukan Wajah Islam Indonesia Berdasar Proses Dialektika Pemeluknya dengan Tradisi Lokal

Umma Farida

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus Email: mafarahman@gmail.com

https://media.neliti.com/media/publications/61331-ID-islam-pribumi-dan-islam-puritan-ikhtiar.pdf

Islam Pribumi

1.Penamaan Islam Pribumi sejatinya ingin menonjolkan ciri keislaman yang khas Indonesia. Islam Indonesia yang khas dengan keramahan dan toleransinya tidak bisa dilepaskan dari sejarah kehadiran agama tersebut di Indonesia. Menurut Imdadun Rahmat, gagasan ini secara genealogis diilhami oleh gagasan Pribumisasi Islam yang pernah dilontarkan Abdurrahman Wahid akhir tahun 80-an.5

2.Gagasan Wahid dapat disarikan dalam tiga pilar:

2.1.Pertama, keyakinan bahwa Islam harus secara aktif dan substansif ditafsirkan ulang atau dirumuskan ulang agar tanggap terhadap tuntunan kehidupan modern.

2.2.Kedua, keyakinan bahwa dalam konteks Indonesia, Islam tidak boleh menjadi agama negara, dan

2.3.ketiga, bahwa Islam harus menjadi kekuatan yang inklusif, demokratis dan pluralis, bukan ideologi negara yang eksklusif.6

  1. Melalui gagasannya ini, Wahid mendeskripsikan Islam sebagai ajaran yang normatif berasal dari Tuhan diakomodasikan ke dalam kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa kehilangan identitasnya masing-masing, tidak saling mengalahkan, melainkan berusaha mempertemukan jembatan yang selama ini memisahkan antara agama dan budaya.

4.Ini dikarenakan—bagi Wahid—Arabisasi atau proses mengidentifikasi diri dengan budaya Timur Tengah sama artinya dengan melepaskan diri kita dari akar budaya kita sendiri.7 Sebaliknya, Wahid menganjurkan proses kreatif yang menemukan kembali dan mengurai intisari agama dari totalitas Islam. Intisari Islam harus berfungsi sebagai basis inspirasional, bukan basis legal.8

5.Gagasan Wahid terinspirasi dari semangat yang diajarkan Walisongo yang sangat toleran dan akomodatif terhadap budaya setempat selama proses dakwahnya di tanah Jawa sekitar abad 15-16 M. Mereka telah mengadopsi kebudayaan lokal secara selektif, sistem sosial, kesenian dan pemerintahan yang sudah pas tidak diubah, termasuk adat istiadat, banyak yang dikembangkan dalam tradisi Islam. Tatkala nilai Islam dianggap sesuai denganadat setempat, maka tidak perlu lagi diubah sesuai dengan selera, adat, atau ideologi Arab. Karena, jika hal itu dilakukan maka akan menimbulkan kegoncangan budaya. Sementara mengisi nilai Islam ke dalam struktur budaya yang ada jauh lebih efektif daripada mengganti budaya itu sendiri.9

6.Islam pribumi berupaya mendialekkan ajaran-ajaran inti Islam ke dalam budaya-budaya lokal Indonesia. Dalam aksinya, Islam pribumi selalu mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan lokal masyarakat di dalam merumuskan hukum-hukum agama, tanpa mengubah hukum-hukum inti dalam agama.12 Islam pribumi mengakomodir berbagai tradisi lokal dan memasukkan nilai-nilai Islam di dalamnya. Ini dikarenakan dalam sejarahnya, proses islamisasi di Jawa memang tidak bisa dipisahkan dari tradisi dan budaya lokal.