KRISTUS DAN KEBUDAYAAN 2

1.KRISTUS MELAWAN KEBUDAYAAN  ( CHRIST AGAINST CULTURE )

1.Pada masa permulaan dari kekristenan, telah terjadi banyak konflik di antara orang-orang Kristen, orang-orang Yahudi, dan orang-orang yang tidak percaya pada Allah. Sering kali hal itu menimbulkan penganiayaan karena orang Kristen melihat dirinya berperang dengan kebudayaan di sekelilingnya. Sejumlah Bapa-bapa Gereja, penulis-penulis Kristen di masa permulaan setelah periode Perjanjian Baru, menjelaskan bahwa orang Kristen adalah “ras ketiga” yang berbeda dengan Yahudi dan non-Yahudi. Orang-orang Kristen menyembah Allah yang berbeda, hidup berdasarkan hukum yang berbeda, serta memiliki karakter yang berbeda. Segala hal di dunia ini dianggap jahat.

2.Tertullian (160-220 M) menyatakan bahwa orang Kristen tidak boleh terlibat dalam militer, politik, serta dalam perdagangan dengan dunia. Setelah menjadi orang Kristen, Tertullian mengatakan kita tidak membutuhkan filsafat Yunani. Tidak ada hubungan antara Yerusalem dengan Athena. Garis besar dari pandangan ini adalah: kekristenan dan kebudayaan adalah berlawanan, atau saling berlawanan satu dengan yang lain, atau ada peperangan di antara keduanya.

3.Paulus mengambil tema ini: jangan menjadi serupa dengan dunia ini (Rm. 12:2). Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan (1Kor. 1:20-21, 2:6-8, dan lain lain). Orang-orang kudus akan menghakimi dunia (1Kor. 6:2). Paulus mengatakan bahwa dunia ini disalibkan bagi dia dan dia bagi dunia (Gal. 6:14). Tetapi antitesis yang paling menawan adalah di dalam 1 Yohanes 2:15-17: Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.

PENILAIAN

4.Jadi, memang ada antitesis, suatu oposisi, antara Kristus dan dunia ini, dan karena itu, antara orang percaya dengan dunia ini. Namun demikian, kitab suci tidak pernah menyatakan supaya orang Kristen meninggalkan dunia ini. Kenyataannya memang kita tidak bisa meninggalkan dunia ciptaan Allah ini. Apakah hal itu berati kita harus mencoba untuk menjauhi manusia lainnya, menjauhkan diri dari masyarakat manusia yang terkontaminasi oleh dosa? Mungkin sedikit mengejutkan bahwa jawaban Alkitab adalah tidak. Yesus berdoa, bukan supaya Bapa mengangkat para murid dari dunia, tetapi melindungi mereka dari pada yang jahat (Yoh. 17:15). Mereka bukan dari dunia, tetapi sebagaimana Bapa mengutus Yesus ke dalam dunia, demikian pula Ia mengutus para murid-Nya ke dalam dunia (17:11-18).

5.Paulus tidak melarang orang Korintus untuk bergaul dengan orang-orang yang tidak bermoral, serakah, pemfitnah, atau bahkan penyembah berhala, karena ia mengatakan, “jika demikian kamu harus meninggalkan dunia ini” (1Kor. 5:10). Sebagaimana Yesus, kita harus bersinar sebagai terang di dunia ini (Mat. 5:14; Flp. 2:15). Kita harus berada di dunia tetapi bukan dari dunia. Memang hal itu merupakan suatu keseimbangan yang sangat sukar untuk dipertahankan. Jadi, ada dasar Alkitab dari pemikiran mereka dalam kaitan dengan istilah konflik, antitesis.

6.Jangan samakan dunia dengan kebudayaan. Kebudayaan itu lebih luas dari dunia. Jadi Kristus melawan dunia, jawabnya adalah ya; Kristus melawan kebudayaan, jawabnya adalah tidak. Tentu saja, bagi kita ada bagian-bagian dari kebudayaan yang kita tentang, tetapi Allah tidak memanggil kita untuk menentang kebudayaan secara keseluruhan.

SUMBER:

VERITAS 6/1 (April 2005) 1-27

KEKRISTENAN DAN KEBUDAYAAN (Bagian 1 )

* JOHN M. FRAME