METODE ANTROPOLOGI

METODE  STUDI AGAMA AGAMA

Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama 11 (1), 1-16

Oleh:Ahmad Zarkasi

Beberapa metodologi studi agama-agama: Metode; Teologi, Historis, Fenomenologis, Sosiologis, Antropologi dan Psikologis

 METODE ANTROPOLOGI 

Budaya sebagai produk manusia yang bersosialbudaya pun dipelajari oleh Antropologi. Jika budaya tersebut dikaitkan dengan agama, maka agama yang dipelajari di sini adalah agama sebagai fenomena budaya, bukannya agama (ajaran) yang datang dari Tuhan. Menurut Atho Mudzhar,19 fenomena agama ±yang dapat dikaji- ada lima kategori. Meliputi:

  1. Scripture atau naskah atau sumber ajaran dan simbol agama.
  2. Para penganut atau pemimpin atau pemuka agama. Yakni sikap, perilaku dan penghayatan para penganutnya.
  3. Ritus, lembaga dan ibadat. Misalnya shalat, haji, puasa, perkawinan dan waris.
  4. Alat-alat (dan sarana). Misalnya masjid, gereja, lonceng, peci dan semacamnya.
  5. Organisasi keagamaan tempat para penganut agama berkumpul dan berperan. Misalnya seperti Nahdatul Ulama, Muhamadiyah,Persis, Syiah,Gereja Protestan, dllnya

Kelima fenomena (obyek) di atas dapat dikaji dengan pendekatan antropologis, karena kelima fenomena (obyek) tersebut memiliki unsur budaya dari hasil pikiran dan kreasi manusia.

Menurut Amin Abdullah,20 langkah dan tahapanpendekatan antropologis pada penelitian agama memiliki empat ciri fundamental. Meliputi:

  1. Deskriptif : Pendekatan antropologis bermula dan diawali dari kerja lapangan (field work), berhubungan dengan orang dan atau masyarakat (kelompok) setempat yang diamati dalam jangka waktu yang lama, inilah yang biasa disebut dengan (thick description).
  2. Lokal Praktis : Pendekatan antropologis disertai praktik konkrit dan nyata di lapangan. Yakni, dengan ikut praktik di dalam peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan, semisal kelahiran, perkawinan, kematian dan pemakaman. 3. Keterkaitan antar domain kehidupan secara lebih utuh (connections across social domains) : Pendekatan antropologis mencari keterkaitan antara domain-domain kehidupan sosial secara lebih utuh. Yakni, hubungan antara wilayah ekonomi, sosial, agama, budaya dan politik. Hal ini dikarenakan hampir tidak ada satu pun domain wilayah kehidupan yang dapat berdiri sendiri dan terlepas tanpa terkait dengan wilayah domain kehidupan yang lainnya.
  3. Komparatif (Perbandingan) : Pendekatan antropologis ± perlu- melakukan perbandingan dengan berbagai tradisi, sosial, budaya dan agama-agama.