PELAYANAN DI JEMAAT PERTAMA

FS 11-PELAYANAN DI JEMAAT PERTAMA

 

1.Di  Fasal 08 diuraiakan mengenai lulusan STT yang ditempatkan di suatu jemaat untuk memulai tugas pelayanannya. Pengalaman penulis adalah menjalani masa perkenalan selama 3 bulan, kemudian setelah ada kecocokan dari kedua belah pihak maka status ditingkatkan dan diteguhkan menjadi Tua Tua Khusus atau dalam gereja GPIB disebut Vikaris. Kedudukan Tua Tua Khusus adalah sama dengan Tua Tua dalam segala tugas dan kedudukannya, dengan tambahan tugas tugas pendeta seperti kotbah, katekisasi, dllnya., minus tugas sakramen yaitu belum diperbolehkan memimpin perjamuan kudus dan baptisan kudus. Setelah menjalani masa pelayanan Tua Tua Khusus kurang lebih dua tahun maka dapat ditingkatkan status menjadi pendeta melalui suatu kebaktian pentahbisan pendeta, dengan catatan ada kecocokan diantara pengerja dan jemaat.

 

2.Masa pelayanan dijemaat pertama baik sebagai Tua Tua Khusus atau sudah ditahbiskan menjadi pendeta,masa ini adalah masa melayani dan masa belajar dari pelayanan. Jauhkan sifat merasa pintar karena memiliki gelar Sarjana Sains Teologia. Jauhkan sifat menggurui,mengatur apalagi main perintah perintah. Kalau dibimbing oleh pendeta konsulen, bersedia dinasehati dan dibimbing. Hindari dalam masa masa ini konflik dengan pendeta pembimbing, rekan pendeta lain dijemaat, penatua, atau dengan siapapun juga. Belajar rendah hati, sedia lebih banyak mendengar dan mencoba mengerti pihak lain. Bersifat memberi semangat kepada rekan pelayanan penatua, anggota komisi dan kepada anggota jemaat. Usahakan penampilan muka yang cerah dan ramah kepada setiap orang tanpa memandang tingkat social atau tingkat  pendidikan orang yang anda temui. Sebagai Tua Tua Khusus atau pendeta baru, anda  harus dapat menjaga omongan  agar jangan sampai menyinggung orang lain dan juga menjadi orang yang dapat menyimpan rahasia jabatan

 

3.Ketika mendapat giliran  pertama untuk memimpin kebaktian minggu, persiapkan diri dengan baik. Kalau diperlukan setiap kata yang akan diucapkan semua masuk dalam catatan  mulai dari Votum Salam sampai penyampaian berkat akhir. Ini untuk menghindari  apa yang disebut demam mimbar yaitu seseroang kehilangan kata kata  atau menjadi gugup sehingga ada kata kata yang keluar dari control, ini semua karena menghadapi banyak anggota jemaat yang hadir.  Terlebih bahan kotbah harus dipersiapkan dengan baik dan sebaiknya untuk pemula semuanya ditulis dengan lengkap. Tidak cukup hanya ditulis tetapi diperlukan juga latihan menyampaikannya dengan suara yang tidak monoton. Lama kelamaan persiapan menjadi lebih ringan, misalnya tidak semua kata kata dalam liturgi harus dicatat, mungkin juga lama lama kotbah hanya dituliskan garis besarnya saja.

 

4.Dalam melakukan pelawatan usahakan untuk ditemani istri atau suami atau rekan majelis atau bersama anggota tim pelawatan. Hindarkan dari melawat seorang diri apalagi melawat orang dari lain jenis. Ini semua untuk menghindari omongan yang negative.  Hal ini juga berlaku dalam melakukan percakapan konseling dengan anggota jemaat, kalau mungkin ada orang yang menemani lebih baik, kalau tidak biarlah pintu kantor terbuka lebar lebar. Semua ini untuk mencegah hal hal yang tidak diinginkan terjadi. Kalau seseorang apalagi lawan jenis berkali kali terus minta konseling, ini harus dipikirkan bagaimana untuk menanganinya .Minta izin kepada yang bersangkutan agar ada anggota majelis yang mendampingi. Dalam proses konseling yang berkepanjangan kalau dirasakan ada gejala gejala peningkatan perasaan “kemesraan” baik pada diri anda atau anggota jemaat yang konseling,  maka konseling semacam itu harus dihentikan agar jangan sampai berlanjut menjadi affair. Sebaliknya konseling yang lebih dari sekali akan halnya dapat dibagikan kepada satu atau dua anggota majelis yang anda percaya atau kalau ada rekan pendeta lain, halnya dibagikan kepada pendeta tersebut. Ini bukan soal menggosip, tetapi agar kalau dibelakang hari ada omongan omongan miring dari pihak siapapun, ada rekan lain di majelis atau pendeta yang dapat membantu posisi anda karena mengikuti permasalahannya sejak awal.

 

5.Siapkan diri anda sebagai Tua Tua Khusus atau Pendeta  menghadapi orang orang yang berbeda dengan anda termasuk sifat,kebiasaan, cara menyampaikan omongan, dllnya. Siapkan diri juga untuk menerima kritik atas kotbah anda, cara anda melawat, cara anda memimpin rapat, atau juga mungkin kritik terhadap istri anda. Terima dengan lapang dada, ajarkan pula orang yang mengkiritk melakukannya nya secara proporsional dan ada pesan yang hendak disampaikan. Cegah pula agar mereka jangan membully anda, kalau ini mereka lakukan ajak bercakap dengan baik baik. Dalam menghadapi kritik dan orang orang sulit jangan segan segan untuk konsultasi dengan beberapa anggota majelis yang dekat dengan anda dan kalau ada rekan pendeta  kepadanya anda dapat berkonsultasi.   Dalam menghadapi orang orang sulit,jangan lupa bawa mereka dalam doa doa pribadi anda.Hadapi mereka dengan kasih dan pengampunan Kristus. Dalam kesemuanya jaga situasi agar tetap dalam kendali dan tidak sampai menjadi “perang besar.”

 

6.Dalam melaksanakan pelayanan jangan memborong semua pelayanan oleh diri sendiri. Jadilah pemimpin tim kerja, mampu mendelegasikan pelayanan kepada rekan rekan anggota majelis jemaat, mengarahkan, mengkoordinir dan mengevaluasi apa yang sudah dikerjakan.

Masa kerja lima tahun pertama disuatu jemaat akan cepat berlangsung. , Dengan pertolongan dan berkat Tuhan, kiranya anda berhasil dengan baik menyelesaikan masa kerja lima tahun pertama.  Tuhan dipermuliakan melalui pelayanan anda, demikian juga pelayanan anda menjadi berkat bagi jemaat. Dalam menjalani semua pelayanan tetap jaga hubungan pribadi anda dengan Tuhan Yesus yang menjadi sumber kekuatan, memberi kesabaran, memberi ketabahan, memberi sukacita. Disamping itu bina hubungan baik yang saling memperkuat   dengan suami atau istri anda dan anak anak anda. Hubungan keluarga yang baik dan sehat serta kuat  akan memberi kontribusi tersendiri bagi keberhasilan pelayanan anda.

 

Bersambung  KE FS 12 -MUTASI PELAYANAN

Leave a Comment