PEMBERITAAN FIRMAN DAN SAKRAMEN 2

TEOLOGI SISTIMATIKA

TS 39-PEMBERITAAN FIRMAN DAN SAKRAMEN 2

 

BAPTISAN

1.Baptisan yang dimaksud adalah Baptisan Kristen yang berbeda dengan praktek baptisan bangsa kafir dan baptisan Yohanes Pembaptis. Baptisan ini ditetapkan sendiri oleh Kristus setelah kebangkitan-Nya dengan tujuan membawa penerimanya ke dalam satu hubungan yang khusus dengan-Nya

2.Sejak jaman Didache, rumusan “dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” ditetapkan sebagai rumusan yang tetap dalam pembaptisan. Sebelum jaman Reformasi, baptisan digunakan sebagai syarat pengampunan dosa, hidup baru, dan masuk dalam Gereja.

3.Pada masa Reformasi, terdapat perbedaan persepsi mengenai baptisan. Lutheran menekankan pentingnya air yang digunakan dan iman penerimanya. Anabaptis menolak baptisan anak. Reformed menekankan pentingnya baptisan untuk semua orang percaya baik itu dewasa atau pun anak-anak yang lahir dari keluarga yang percaya. Baptisan dewasa diawali dengan pengakuan iman dan untuk menguatkan iman. Meskipun ada penolakan dari kaum Baptis, baptisan anak juga adalah baptisan yang alkitabiah. Perjanjian Allah dengan Abraham (sunat) yang bersifat spiritual dan secara mendasar masih berlaku pada (baptisan) Perjanjian Baru hingga sekarang. Baik PL atau pun PB sama-sama menekankan pentingnya anak-anak sebagai bagian yang integral. Baptisan dalam PB menggantikan sunat dalam PL. Penegasan bahwa anak-anak tidak dibaptiskan dan tidak ada perintah yang eksplisit dalam PB pun tidak tepat sebab jika ada baptisan keluarga proselit pada waktu itu maka anak-anak yang ada dalam keluarga itu tentu juga ikut dibaptiskan. Persoalan berikut adalah mengenai cara baptisan yang benar. Dalam PL, baptisan Yohanes Pembaptis, dan baptisan Yesus, semuanya melambangkan tentang pembersihan dan pemurnian spiritual, bukan bagaimana caranya dan akibat dari cara itu yang mendapat penekanan. Kata bapto dan baptizo tidak hanya selalu berati menyelamkan tetapi juga membasuh, memandikan, dan memurnikan dengan cara membasuh. Dengan kata lain, cara baptisan mana pun tidak menjadi persoalan karena baptisan bukan tentang cara bagaimana tetapi apa tujuannya.

 

PERJAMUAN KUDUS

1.Sakramen kedua adalah Perjamuan Kudus. Dalam PL, perayaan Paskah adalah analogi dari perjamuan Paskah dalam PB. Hanya, PB melihat perayaan itu lebih jauh kepada makna perjumpaan dengan Mesias yang dijanjikan. Pada masa para rasul ,perjamuan kudus disertai dengan perjamuan kasih.

2.Pada masa setelah itu, Perjamuan Kudus dimengerti dalam perdebatan tentang teori pengorbanan dan transubstansiasi tubuh dan darah Kristus. Selama dan setelah reformasi bergulir, doktrin tentang Perjamuan Kudus juga berkembang.

3.Luther menekankan konsubstansiasi,

4.Zwingli menekankan kiasan akan kehadiran Kristus dalam perjamuan kudus, dan

5.Calvin menekankan penolakan terhadap teori Roma Katolik dan Luther dan mengakui kehadiran Yesus secara spiritual yang sedikit berbeda dari pemahaman Zwingli.

6.Istilah-istilah yang digunakan dalam Alkitab untuk merujuk pada sakramen ini adalah Perjamuan Tuhan, meja Tuhan, memecah-mecahkan roti, ucapan syukur (Eucharistia), dan berkat (Eulogia).

7.Penetapan Perjamuan Kudus itu sendiri pun dilaksanakan oleh Gereja Reformed pada masa kini atas dasar contoh yang diberikan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya, mencakup pemecahan roti tidak beragi dan penuangan anggur, perintah untuk makan dan minum roti dan anggur, dan penjelasan tentang perlambangan akan frasa “inilah tubuh Ku”.

8.Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang keikutsertaan dalam Perjamuan Kudus: 8.1) Perjamuan Kudus adalah simbolisasi kematian Kristus; 8.2) melambangkan partisipasi orang percaya dalam penyaliban-Nya; 8.3) mewakili Kristus dalam iman dan anugerah yang diterima;8. 4) melambangkan persatuan antar sesama orang percaya; 8.5) memeteraikan kebesaran kasih Kristus; 8.6) menjamin orang percaya memiliki semua janji anugerah-Nya; 8.7) menjamin perolehan keselamatan; 8.8) sebagai pengakuan dan penerimaan akan Kristus sebagai Juruselamat dan Raja. Sakramen ini ditetapkan oleh Tuhan sendiri sebagai alat dalam pemberian anugerah yang sama dengan yang diterimanya melalui Firman Tuhan.

9.Sakramen ini tentu hanya ditujukan untuk orang yang sungguh-sungguh bertobat, percaya, dan hidup kudus. Anak-anak, orang dalam gereja yang tidak percaya, orang percaya yang berada dalam disiplin gereja, dan orang-orang di luar gereja tidak diikutsertakan dalam sakramen ini.

 

Sumber:

https://www.academia.edu/8962824/Resensi_Buku_Teologi_Sistematika_-_Doktrin_Gereja_Louis_Berkhof_

Resensi Buku: Deflit Dujerslaim Lilo

Pendahuluan Buku Teologi Sistematika – Doktrin Gereja ditulis oleh Louis Berkhof; penerjemah: Yudha Thianto; editor: Rudy Hartono dan Hendry Ongkowidjojo; cetakan kesepuluh; Surabaya; penerbit: Momentum, tahun 2014; xii + 202 halaman; jilid 5; ketebalan buku 21 cm; ISBN 978-602-8165-73-0.

 

Leave a Comment