PENSIUN PENDETA

Fs 15- PENSIUN ATAU EMERITUS

1.Ada waktu memulai, ada waktu menyudahi. Itu berlaku juga dalam pelayanan seorang pendeta di gereja. Mungkin saja pendeta itu melayani seluruh waktu pelayanannya di suatu jemaat, atau mungkin juga pendeta tadi melayani di dua, atau di tiga  jemaat, tetapi semuanya berujung pada suatu waktu harus mengakhiri pelayanannya sebagai pendeta aktif di jemaat itu. Memang disana sini ada kekecualian tergantung konteks gereja. Umumnya gereja gereja Pentakosta tidak mengenal istilah pendeta pensiun; kemudian dalam gereja gereja independent non Pentakosta, pendeta pendiri gereja tidak pensiun juga. Dalam tulisan ini kita berbicara tentang pendeta yang pensiun.

2.Pensiun adalah kata dan pengertian yang umum dikenal dalam dunia perusahaan, baik swasta maupun pemerintah dan juga berlaku dikalangan militer. Usia pensiun berbeda beda tiap instansi. Ada yang memberlakukan usia 55 tahun ada yang 60 tahun ada juga yang lebih, semua tergantung dari peraturan yang berlaku ditempat tersebut. Kebanyakan gereja di Indonesia mempensiunkan pendetanya pada usia 60 tahun. Bagaimana kalau pendetanya masih sehat dan kuat? Ya tetap peraturan harus dijalankan dan pendeta harus pensiun.

3.Ada kekhususan pendeta yang pensiun yang tidak sama dengan perusahaan atau instansi lain. Seseorang yang pensiun dari perusahaan, maka ia akan selesai sudah berhubungan dengan perusahaan tersebut setelah diberikan semua hak hak pensiunnya. Lain halnya dengan pendeta yang pensiun, ia masih terikat hubungan paling tidak dengan sinodenya. Setelah pensiun ia bukan menjadi mantan atau bekas pendeta. Ia masih pendeta dengan gelar kehormatan emeritus, maka gelarnya  menjadi Pdt.Em. (bandingkan dengan perwira tentara yang pensiun mendapat titel  purnawirawan).  Pendeta emeritus masih diakui  sebagai pendeta di lingkungan sinode nya, Cuma saja ia tidak lagi duduk dalam struktur sebagai ketua majelis jemaat atau jabatan struktual lainnya.  Pendeta emeritus menjadi anggota biasa disuatu jemaat, tetapi masih dapat melayani sakramen, pemberitaan firman, dan pelayanan gereja lainnya jikalau ia diundang oleh jemaat itu atau jemaat lainnya  untuk melakukan pelayanan .

4.Yang penting adalah jauh jauh hari sebelum pensiun para pendeta sudah harus menyiapkan diri, secara psikologis,mental, keuangan, dan kegiatan apa yang akan dilakukan. Psikologis mental karena ada perubahan status dari pendeta dengan status aktif, kini menjadi pendeta pensiunan atau pdt emeritus. Pendeta emeritus kehilangan jemaat yang dilayaninya, hilang penghasilan tetap (sekarang terima uang pensiun yang lebih kecil), hilang banyak orang yang “menyanjungnya”, beberapa hilang kesehatan karena gangguan berbagai penyakit..Disini diperlukan konsep diri yang sehat dan penerimaan diri sesuai dengan perubahan. Persiapan keuangan dilakukan dengan cara menabung jauh jauh hari sebelum pensiun untuk menutupi kekurangan uang pensiun, padahal kebutuhan bertambah karena beli macam macam vitamin dan biaya pengobatan. Setelah pensiun berarti bebas pelayanan dan keterikatan dengan suatu jemaat, tetapi bukan berarti boleh bekerja apa saja. SEbaiknya juga tidak usaha dagang karena dalam rumus dagang itu bisa untung, bisa rugi. Kalau rugi uang tabungan bisa habis terkuras belum lagi kalau ada tersisa utang yang harus dilunasi.

Soal kegiatan setelah pensiun, bagi pendeta yang bekerja di kota besar dan termasuk kategori kotbahnya disenangi, maka berbagai undangan kotbah dan pelayanan lain banyak menantinya. Bagi pendeta di kota kecil dan pendeta yang tidak terlalu populer  perlu mempersiapkan suatu kegiatan positif dan konstrutif untuk mengisi masa pensiunnya.

5.Pendeta pendeta yang melayani di gereja gereja GKI, GKJ dan gereja arus utama lainnya, umumnya sekarang mereka telah mempunyai program pendampingan pensiun pendeta. Berbahagialah anda anda dengan adanya program semacam ini sehingga menjadi suatu bekal dalam menjalani masa pensiun. Diluar negeri paling tidak dikalangan Gereja Presbyterian Selandia Baru dimana penulis pernah melayani tidak dikenal program semacam itu. Memang tidak dipungkiri ada program dari sudut finansial. Ada badan pensiun yang setahun sekali atau dua, mereka mengadakan seminar bagaimana memanfaatkan uang pensiun.  Mengapa tidak ada program pedampingan ? Atau sekarang belum ada? Karena pihak pimpinan gereja beranggapan masing masing masing pendeta mampu mempersiapkan dirinya sendiri sendiri baik dengan membaca buku atau mencari keterangan keterangan yang diperlukan.

6.Sampai masa tuamu Aku tetap Dia  dan sampai masa putih rambutmu   Aku  menggendong kamu  , Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul   kamu dan menyelamatkan kamu. (Yes.46:4). Kiranya ayat ini menjadi penghiburan dan bekal menjalani  masa pensiun. Tuhan Allah didalam Yesus Kristus yang kita layani masih tetap sama mengasihi, memperhatikan, memberkati dan menolong dalam setiap perkara. Bertolak dari pemahaman tadi  biarlah  dengan kekuatan iman para pensiunan dapat menjalani hari harinya dalam ucapan syukur dan memakai waktu yang masih diberikan untuk tetap melayani Dia dalam berbagai bentuk dan kemungkinan, sehingga hidup para pensiunan tetap menjadi berkat bagi sesama dan kemuliaan bagi  nama Tuhan Yesus.

 

REKOMENDASI BACAAN:

https://www.facebook.com/notes/gki-surya-utama/emeritus/1126699457346703/

http://sinta.ukdw.ac.id/sinta/resources/sintasrv/nim/01906901

http://sttaletheia.ac.id/wp-content/uploads/2015/04/HAMBA-TUHAN-DAN-PENSIUNNYA-Pdt-Iskandar-Santoso.pdf

 

 

Leave a Comment