SEPULUH HUKUM

MUSA-10 HK

SEPULUH HUKUM

ISRAEL DI SINAI (KEL.19:1-40:38)
1.Selama satu tahun tinggal di Sinai terlaksana dua hal:
1.1 Israel menerima Hukum Allah dan memperoleh pengajaran tentang jalan-jalan Allah;
1.2. orang-orang yang lolos dari Mesir dipersatukan menjadi awal dari satu bangsa. Periode ini paling penting untuk memahami kehendak dan maksud Allah sebagaimana dinyatakan di bagian Perjanjian Lama selanjutnya.
Inilah inti dari apa yang sering disebut di dalam Alkitab sebagai “Taurat.” Catatan dari kehidupan mereka di Sinai serta Taurat yang diberikan kepada mereka di sana bukan hanya merupakan pokok bahasan selanjutnya dari Kitab Keluaran namun juga dari seluruh Kitab Imamat dan pasal-pasal pertama dari Kitab Bilangan.

2.Para kritikus bersikukuh bahwa Taurat yang ada pada kita saat ini sudah dimodifikasi dari Taurat yang asli serta telah banyak disunting pada abad-abad belakangan. Sekalipun bukan mustahil bahwa kepada Taurat telah ditambahkan sejumlah hukuman dan ketetapan, orang-orang yang menganggap Taurat sebagai penyataan dari Allah menerimanya dalam bentuknya sekarang sebagai Taurat yang pada hakikatnya sama dengan yang diterima oleh Musa. Bahkan para kritikus yang secara teori menyangkal hal ini ternyata sulit untuk menentukan ketetapan mana saja yang ditambahkan belakangan.

Sepuluh Perintah Allah (KEL. 20:1-20).
1.Taurat tidak diberikan sebagai sarana untuk mencapai keselamatan. Taurat diberikan kepada bangsa yang sudah menjadi umat Tuhan (19:4; 20:2) untuk mengajar mereka tentang kehendak Tuhan supaya mereka dapat memenuhi maksud Allah bagi mereka sebagai sebuah “kerajaan imam dan bangsa yang kudus” (19:6). Penyataan tersebut diberikan “bukan untuk memberikan kehidupan tetapi untuk menuntun kehidupan” (P. Fairbairn, The Revelation of Law in Scripture, hlm. 274).

2.Pembagian Taurat menjadi hukum Moral, Hukum perdata yang mengatur hidup social dan hukum upacara atau seremonial yang mengatur ibadah. Hukum perdata dan hukum upacara tidak lagi mengikat orang percaya Perjanjian Baru. Keduanya merupakan lambang dan bayangan dari hal-hal lebih baik yang akan datang; semuanya sudah digenapi di dalam Yesus Kristus (Ibr 10:1; bd. Mat 7:12; Mat 22:37-40; Rom 13:8; Gal 5:14; 6:2). Akan tetapi, hukum-hukum ini berisi prinsip-prinsip hikmat dan rohani yang dapat diterapkan pada semua angkatan

3.Pembagian diatas meskipun cocok namun menyesatkan. Taurat itu satu, dan seluruh Taurat itu bersifat rohani, entah membahas masalah panen atau masalah penjahat atau masalah penyembahan. Tafsiran Calvin membahas semua peraturan selanjutnya di bawah salah satu dari Kesepuluh Hukum. Ini merupakan ilustrasi yang sangat bagus dan dapat dibenarkan tentang kesatuan dan semangat Taurat.
“Yang disebut hukum seremonial dengan demikian, dalam aspeknya yang lebih langsung dan primer adalah peragaan berbagai upacara dan penetapan simbolis akan kebenaran yang dituntut oleh Dasa Titah, dan sebuah sarana disiplin melalui mana hati orang dapat dibuat menjadi sesuai dengan kebenaran itu sendiri” (Fairbairn, Typology, II, 157).

4. Kesepuluh hukum yang tercatat di sini (bd. Ul 5:6-21), ditulis oleh Allah sendiri di atas dua loh batu dan diberikan kepada Musa dan bangsa Israel (Kel 31:18; 32:16; Ul 4:13; 10:4).
Diberikan langsung kepada Israel melalui sebuah suara yang dapat didengar dan dahsyat, suara Yehovah sendiri, yang berbunyi bagaikan sangkakala yang terdengar banyak orang (Kel. 19:16; 20:18). Karena pengalaman tersebut, bangsa itu memohon agar Allah tidak lagi berbicara langsung tetapi melalui Musa saja. Maka sisa Taurat tersebut diberikan kepada Musa sebagai perantara, namun intinya sudah disampaikan sebelumnya.

5.Semua Perintah tersebut diulang kembali dengan sedikit perubahan yang tidak berarti di Ulangan 5:6-18. Hal ini merupakan bahan bagi para kritikus untuk berbeda pandangan mengenai usia dan keaslian relatif dari kedua bagian Alkitab ini. Juga ada yang telah berusaha menemukan sebuah “Dasa Titah ritual” di Keluaran 34 namun gagasan tersebut kurang diterima. Sekalipun beberapa kritikus menolak pandangan bahwa Musa ada hubungannya dengan Kesepuluh Hukum, atau bahwa titah-titah ini dikenal oleh Daud, Elia atau bahkan Yeremia, sebagian besar sarjana modern telah dapat menerima apa yang dikatakan Alkitab dan percaya bahwa semua Titah ini berasal dari zaman Musa.

6.Terdapat berbagai cara untuk menggolongkan perintah-perintah ini. Gereja-gereja Lutheran dan Roma Katholik mengikuti Agustinus dengan menjadikan ayat 2-6 menjadi perintah yang pertama dan kemudian memisahkan ayat 17, tentang menginginkan milik orang lain, menjadi dua perintah. Yudaisme modern menjadikan ayat 2 perintah pertama dan ayat 3-6 perintah yang kedua. Pembagian yang paling dini, yang dapat dirunut balik hingga zaman Yosefus pada abad pertama Masehi, menganggap 20:3 sebagai perintah pertama dan 20:4-6 sebagai perintah yang kedua. Pembagian ini memperoleh dukungan penuh dari gereja mula-mula, dan dewasa ini masih dianut oleh gereja Ortodoks Timur dan sebagian besar gereja Protestan.

Kel.20:2
Penting untuk diperhatikan bahwa dasar dari perintah-perintah Allah serta landasan dari kewajiban bangsa itu untuk menaatinya ialah kenyataan bahwa Yehovah adalah Tuhan dan Allah mereka yang telah menyelamatkan mereka. Perintah-perintah ini diberikan kepada bangsa yang sudah diselamatkan dengan tujuan untuk mengajarkan kepada mereka bagaimana hidup menurut kehendak Allah, tetapi kita melihat bahwa “nyaris semua perintah disajikan dalam bentuk negatif berupa larangan, sebab semuanya memperhitungkan adanya dosa dan keinginan jahat di dalam hati manusia”

PEMBAGIAN 10 HUKUM
1.Menurut Katolik Roma dan Lutheran

Pembagian Sepuluh Perintah Allah di kalangan Katolik Roma dan Lutheran mengikuti pembagian yang ditetapkan oleh Santo Agustinus mengikuti tulisan sinagoga pada waktu itu. Ketiga perintah pertama mengatur hubungan Allah dan manusia. Perintah keempat sampai kedelapan mengatur hubungan manusia dengan sesama. Dua perintah terakhir mengatur pikiran pribadi. Informasi tambahan lebih lanjut mengenai Sepuluh Perintah Allah dapat di baca dalam Katekismus Gereja Katolik(1994), seksi 2052-2552.
Teks resmi Sepuluh Perintah Allah untuk Gereja Katolik adalah sebagai berikut
1. Akulah Tuhan, Allahmu, Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepada-Ku saja, dan cintailah Aku lebih dari segala sesuatu.
2. Jangan menyebut Nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat.
3. Kuduskanlah hari Tuhan.
4. Hormatilah ibu-bapamu.
5. Jangan membunuh.
6. Jangan berzinah.
7. Jangan mencuri.
8. Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu.
9. Jangan mengingini istri sesamamu.
10. Jangan mengingini milik sesamamu secara tidak adil.

2.Pandangan Protestan
Bagian pertama sampai keempat mengatur tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sedangkan perintah kelima sampai kesepuluh mengatur hubungan manusia dengan sesama.
1. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku
2. Jangan membuat patung untuk disembah
3. Jangan menyebut nama Tuhan dengan sembarangan
4. Kuduskanlah hari Sabat
5. Hormatilah Orang tua mu
6. Jangan membunuh
7. Jangan berzinah
8. Jangan mencuri
9. Jangan berdusta
10. Jangan mengingini milik orang lain.

RENUNGKAN
SIAPA YANG MENGATUR HIDUP ANDA? KEL 20:1-11
Siapakah yang berhak mengatur hidup Anda? Diri Anda sendiri? Apakah yang Anda gunakan sebagai standar hidup? Hati nurani, hukum pemerintah, atau hukum gereja? Jika Anda mengaku beriman, sudahkah kebenaran Allah saja yang mengatur hidup Anda? Sepuluh Hukum mengatur hubungan umat-Nya dengan diri-Nya dan antar sesama umat-Nya. Kiranya kita mematuhi, mentaati dengan sukacita ,dalam rangka ucapan syukur karena kita telah diselamatkan dalam Yesus Kristus.

Bacaan Keluaran Selanjutyna : Keluaran 21,22, 23

THANK YOU

Leave a Comment