SURVAI DAN PENAFSIRAN KITAB WAHYU

wahyu-144000
SURVAI DAN PENAFSIRAN KITAB WAHYU

PENGANTAR
Kata “Wahyu” dalam judul Kitab ini menterjemahkan kata Yunani yang berbunyi “Apokalipsis”. Kata ini berarti “penyingkapan” atau “wahyu”. Maka setiap “apokalipsis” mengandaikan pewahyuan dari fihak Allah kepada manusia. Dalam pewahyuan itu disingkapkan hal-hal tersembunyi yang hanya diketahui oleh Allah saja.
Sukar sekali dengan jelas dan tepat membedakan jenis sastra yang disebut “apokalipsis” dengan jenis sastra yang disebut “nubuat”. Memanglah apokalipsis l.k. merupakan lanjutan dari nubuat. Tapi nabi-nabi dahulu mendengar wahyu Allah dan menyampaikannya secara lisan, , sedangkan pengarang sebuah apokalipsis mendapat wahyunya berupa penglihatan yang lalu dicantumkannya ke dalam sebuah kitab.
Segala sesuatu atau hampir segala sesuatu dalam sebuah apokalipsis merupakan lambang misalnya: angka, barang, anggota-anggota badan, tokoh-tokoh yang berperan dalam penglihatan itu. Dengan menulis apokalipsisnya si pengarang “menterjemahkan” ke dalam lambang itu gagasan-gagasan yang diilhamkan Allah; dan dalam menterjemahkan gagasan-gagasan itu pengarang menimbun-nimbun barang, warna-warni dan angka-angka yang semua berupa lambang, tanpa ambil pusing apakah keseluruhan yang dihasilkan tersusun rapi dan teratur baik.

GARIS BESAR
Prolog- (Wahy 1:1-8)
I. Tuhan yang Diagungkan dan Jemaat-Jemaat-Nya
(Wahy 1:9-3:22)

II. Anak Domba yang Layak dan Peran-Nya pada Akhir Sejarah
(Wahy 4:1-11:19)
A. Penglihatan dari Ruang Pengadilan yang Megah di Sorga
(Wahy 4:1-5:14)
B. Penglihatan dari Anak Domba Dalam Hubungan Dengan Tujuh Meterai dan Tujuh Sangkakala
(Wahy 6:1-11:19)

III.Tuhan Allah dan Kristus-Nya dalam Konflik Besar Dengan Iblis (Wahy 12:1-22:5)
A. Perspektif mengenai Konflik Itu
(Wahy 12:1-15:8)
B. Perkembangan Terakhir dari Perjuangan Itu
(Wahy 16:1-19:10)
C. Puncak Konflik Itu
(Wahy 19:11-20:10)
D. Sesudah Konflik
(Wahy 20:11-22:5)
1. Penghakiman Takhta Putih yang Besar
(Wahy 20:11-15)
2. Nasib Orang-Orang yang Tidak Benar
(Wahy 20:14-15; 21:8)
3. Langit yang Baru dan Bumi yang Baru
(Wahy 21:1-22:5)
Epilog- (Wahy 22:6-21)

PENAFSIRAN
Kitab ini merupakan kitab PB yang paling sulit untuk ditafsirkan. Sekalipun para pembaca yang mula-mula barangkali memahami makna beritanya tanpa terlalu banyak mengalami kebingungan, namun pada abad-abad berikutnya pandangan yang beranekaragam mengenai makna kitab ini telah mengakibatkan lahirnya empat aliran penafsiran yang besar.
(1) Penafsiran _preterist_ ( pandangan masa lampau) memandang kitab ini dan nubuat-nubuatnya sebagai hal yang telah digenapi pada masa gelaran sejarah asli dari kekaisaran Romawi, kecuali untuk pasal 19-22 (Wahy 19:1–22:21), yang masih menunggu penggenapannya pada masa yang akan datang.

(2) Penafsiran _Historis _ (pendekatan sejarah) memandang kitab Wahyu sebagai suatu prakiraan nubuat dari seluruh perjalanan sejarah gereja sejak zaman Yohanes sampai pada zaman akhir. Peristiwa peristiwa dari Wahyu itu sudah terjadi, masih terjadi dan masih akan terjadi.

(3) Penafsiran _idealist_ (yang menekankan pemikiran ideal) menganggap lambang-lambang dalam kitab ini sebagai hal yang mengungkapkan prinsip-prinsip rohani tertentu tentang kebaikan dan kejahatan dalam sejarah pada umumnya, tanpa menghubungkannya dengan peristiwa-peristiwa nyata dalam sejarah. Pandangan ini menekankan makna spiritual di balik pewartaan Kitab Wahyu. Penglihatan-penglihatan yang dipaparkan dalam kitab ini dipahami sebagai ungkapan kebenaran rohani yang kekal, yang selalu dinyatakan di sepanjang sejarah. Penafsiran ini disebut juga sebagai penafsiran spiritual.
(4) Penafsiran _futurist_ (pandangan masa yang akan datang) mendekati pasal 4-22 (Wahy 4:1–22:21) sebagai nubuat tentang peristiwa-peristiwa dalam sejarah yang hanya akan terjadi pada akhir zaman ini.

Leave a Comment