PENABUR KASIH

HENNY KRISTIANUS : Pendiri Yayasan Tangan Pengharapan, Berjuang Untuk Kaum Papa

http://bestyoungindonesia.blogspot.com/2016/03/henny-kristianus-pendiri-yayasan-tangan.html

Perempuan hebat kelahiran Jakarta 23 Januari 1978 ini mengikuti panggilan jiwanya untuk menolong kaum papa. Dialah Henny Kristianus. Sejak tahun 2007 ia mendirikan Yayasan Tangan Pengharapan. Ibu tiga anak ini berkomitmen terus menjelajahi pelosok Tanah Air dan memberikan kontribusi di bidang pendidikan, kesehatan, serta ekonomi guna meningkatkan kesejahteraan kaum papa.

Ketertarikannya terjun di bidang kemanusiaan bemula dari pengalaman pribadinya. Dulu, kisahnya, ia pernah mengalami masa yang cukup sulit saat ditinggalkan orangtua sejak umur 10 tahun. Kedua orangtuanya bercerai dan masing-masing menikah kembali. Ya, Henny memang terlahir dari keluarga broken home. Hidupnya pun dari belas kasihan kerabat. Karena tidak tahu dimana keberadaan orangtua, ia, kakak, dan adiknya pun seperti hidup terdampar. Sang kakak diadopsi pamannya sejak tahun 1993 dan kemudian bermigrasi ke Australia. Lalu adiknya pernah terkena narkoba, bahkan sempat overdosis dua kali. Ketika umur 18 tahun, Henny pun ‘dibuang’ ke Australia. Meski tinggal di luar negeri, tapi di sana kenyataan hidup yang ia jalani betul-betul penuh perjuangan. Di sana ia pernah berjualan kue, pernah menjadi tukang masak, dan menjadi kasir. Untuk mengirit biaya hidup dan bisa membayar sekolah sendiri, bahkan ia harus rela tinggal di ruang tamu, itupun karena belas kasihan dari teman-temannya di sana yang sharing apartemen. Dari situlah, Henny bisa merasakan betul bagaimana rasanya menjadi orang susah dan tak punya orangtua. Namun semua kenyataan yang ia hadapi itu, diterimanya dengan ikhlas karena percaya itu memang sudah menjadi jalan Tuhan.

Henny mendirikan Yayasan Tangan Pengharapan bermula sejak kepulangannya ke Tanah Air pada tanggal 26 Januari 2006. Sebelumnya, ia telah menikah di Australia. Saat itu ia minta izin ke suaminya, Yohanes Kristianus, ingin beristirahat selama 2 bulan dan pulang ke Indonesia pasca melahirkan kedua anak kembarnya, Chloe Kristianus dan Zoe Kristianus. Saat itu kedua anaknya baru berusia 4 bulan. Sang suami pun setuju bahkan ikut mengantarnya ke Indonesia. Namun selama di Indonesia, suara hatinya seperti menyuruh Henny untuk terus tinggal. Setelah dua bulan berlalu, suaminya yang tetap berada di Australia karena mengurusi bisnisnya di sana pun, datang menjemput. Saat itu juga, Henny menyampaikan niatnya untuk tetap tinggal di Indonesia. Keputusan yang dianggapnya cukup ‘gila’ mengingat di Australia ia dan suami sudah mendapatkan Permanent Residence. Hidupnya di Australia pun terbilang mapan, memiliki rumah, bisnis yang bagus, pun semua keluarga besarnya juga berada di sana. Sementara jika ia tetap tinggal di Indonesia berarti harus memulai semuanya dari nol. Tapi sang suami akhirnya menyetujui keputusannya.

Tak lama setelah itu, suaminya mendapatkan tawaran pekerjaan dari seorang pengusaha yang mereka kenal di Sydney, untuk membantu salah satu gereja di kota Bandung, karena gereja itu kurang berkembang. Henny pun merasa ini jalan yang ditunjukkan Tuhan saat dirinya dan suami memutuskan kembali tinggal di Indonesia. Mereka berdua langsung berangkat ke Bandung. Tapi, saat sampai di pintu Tol Pasteur, Bandung, pandangan Henny tertumpu pada seorang anak kecil yang digendong dan meminta-minta di jalanan dalam kondisi hujan. Ia tak habis pikir, demi untuk mendapatkan uang ada orang-orang dewasa yang sampai rela mengorbankan anak kecil. Seketika ia pun menangis. Walau ia mengerti memang banyak orang miskin di Indonesia, tapi ia tidak bisa mengerti mengapa ada orang yang tega mengorbankan anaknya. Henny pun terus memikirkan hal itu.

Tak hanya itu, setelahnya masih ada lagi kejadian yang semakin membuatnya memutuskan untuk membantu kaum papa. Saat di Bandung ia diberi tempat tinggal di sebuah bangunan ruko di pemukiman yang berdekatan dengan tempat pembuangan sampah. Ia melihat banyak anak-anak yang bekerja sebagai pemulung di sana. Mereka juga kerap bermain di depan ruko sampai malam, tanpa ingat waktu. Aktivitas mereka pun kerap mengganggu dirinya yang tinggal di ruko. Suatu hari, ketika ia ingin memarahi mereka, tiba-tiba suara hatinya mengatakan untuk ‘jangan marah dan coba membangun hubungan’. Akhirnya, ketika membuka pintu, Henny pun hanya bertanya mengapa anak-anak itu tidak sekolah. Mereka menjawab karena tidak punya biaya. Spontan, Henny langsung menawarkan mereka mengajari bahasa Inggris. Mereka menerimanya dengan senang. Akhirnya, ia pun membuka pintu tempat tinggalnya lebar-lebar dan mempersilahkan 5 anak untuk belajar bahasa Inggris di ruang makan. Dari lima anak itu, lalu jumlahnya kemudian berkembang menjadi delapan, lalu sepuluh, hingga lima belas anak. Tak lama, ada pula panti rehabilitasi di Lembang yang memintanya mengajarkan bahasa Inggris kepada para staf. Henny menerimanya dengan senang hati, dan semuanya ia lakukan secara cuma-cuma.

Dari kegiatan itu, Henny seperti menemukan jawaban, bahwa yang paling dibutuhkan orang miskin adalah keluar dari kemiskinan. Dan ia harus bisa membantu mereka untuk keluar dari kemiskinan itu, dengan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, dan membuat taraf hidup mereka meningkat. Inilah sepertinya yang menjadi tujuan utamanya saat merasa harus pulang ke Indonesia. Sejak itu, setiap kali suaminya mendapatkan penghasilan, rutin 30% ia belikan sembako dan membagikan kepada masyarakat tidak mampu agar mereka bisa makan. Singkat cerita, pengusaha yang memperkerjakan mereka kemudian menawarkan agar kembali ke Australia untuk membantu seorang pendeta yang akan membuka gereja. Saat itu mereka ditawari gaji 4000 USD plus rumah dan mobil. Tapi Henny dan suami menolak dan memilih kembali pulang ke Jakarta. Untungnya tak lama Henny ditawari bekerja di sebuah perusahaan yang ingin membuka cabang di Jakarta. Karena mengetahui passion-nya adalah membantu anak-anak tidak mampu, perusahaan itu pun akhirnya ikut membantu memberikan dana meskipun tidak utuh.

Tahun 2007, Henny mulai mendirikan Yayasan Tangan Pengharapan. Awalnya ia dibantu oleh keluarga, kemudian teman-teman. Sejak awal, karena tidak ingin donasi masuk ke rekening pribadi, maka ia sudah membuat rekening khusus yang bisa diaudit, sehingga semuanya berjalan transparan. Pelan-pelan, dari sedikit dana yang masuk lama-lama semakin besar. Bahkan 60% donatur yang dimiliki Henny tak mengenalnya sama sekali karena ia memang tidak pernah menyebarkan brosur. Dari sinilah, Henny mulai membuat program untuk Yayasan Tangan Pengharapan.

Di Jakarta ia membuka 8 feeding center, memberi makanan gratis dan bimbingan belajar gratis. Bulan Oktober 2007, ada 1.028 anak yang dilayani. Namun, pada bulan Maret 2008, program itu ia hentikan karena ternyata ia mendapati bahwa anak-anak jalanan itu sebetulnya tidak butuh makan gratis. Karena ternyata mereka bisa dengan mudah mendapatkan uang Rp 25.000-Rp 30.000 per harinya. Inilah yang membuat mereka tidak mau sekolah dan banyak orangtuanya yang menyuruh anak-anak itu tetap di jalanan karena lebih menguntungkan daripada belajar. Karena putus asa dan kesal, Henny pun pergi ke daerah pelosok yang minim bantuan. Sejak 2008, ia pergi dari satu pulau ke pulau lain untuk misi kemanusiaan. Dari Jawa Tengah, Halmahera, NTT, Papua, Mentawai, Kalimantan Barat, dan terus menjelajahi pelosok Indonesia. Ada beberapa program yang ia buat, antara lain Feeding and Learning Center, yaitu program pemberian makanan bergizi, pemberian pendidikan dan sarananya, sampai keterampilan untuk masa depan yang lebih baik. Selain itu Henny juga membangun Children Resque Home yaitu asrama untuk anak-anak korban tindak kekerasan, anak-anak kurang mampu yang berprestasi, anak yatim piatu dan anak pedalaman yang tak memiliki akses untuk mendapatkan pendidikan. Juga ada program kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan operasi katarak gratis, serta klinik mobil.

Beruntungnya, semua kegiatan itu berkembang dan berjalan dengan baik. Henny berusaha menjawab semua permasalahan dan kebutuhan daerah-daerah pelosok tersebut. Misalnya dengan memberikan modal usaha tanpa bunga, life training center atau program pelatihan singkat untuk mengajarkan berbagai keahlian. Ada juga pembangunan rumah sehat, pembangunan fasilitas MCK umum dan pengadaan air bersih, pelatihan tanggap bencana, hingga sponsorship guru pedalaman. Project terbanyak berada di NTT karena daerah di sana memang masih banyak yang miskin dan butuh bantuan.

Untuk mendekati para penduduk di pedalaman, biasanya Henny langsung mendatangi kepala desa, kepala suku, atau pemuka agama. Saat memperkenalkan yayasannya, ia selalu menegaskan kepada mereka bahwa Yayasan Tangan Pengharapan datang atas nama kemanusiaan dan cinta kasih, tanpa kepentingan apa pun. Tidak atas nama gereja, agama, ataupun politik. Kebetulan Henny juga termasuk orang yang mudah beradaptasi dan cepat menguasai kondisi suatu daerah, termasuk logat bicara setempat. Ia pun bersyukur karena sepertinya hidupnya sudah didesain oleh Tuhan seperti ini. Semuanya ia pelajari secara otodidak sambil berjalan.

Kedua anak kembar Henny, dan si bungsu, Excell Young Kristianus, pun memiliki pengertian yang luar biasa, bahkan mereka bangga dengan aktivitas yang Henny jalani. Memang, ia tidak melakukan kegiatan seperti perempuan pada umumnya, seperti berbelanja, ke salon, atau arisan. Ia hanya menggunakan waktunya untuk keluarga dan yayasan. Henny mengaku memang tipe orang yang family oriented. Kegiatan ke daerah dalam sebulan maksimal dilakukan dua kali, minimal lima hari. Selebihnya waktunya bersama anak-anak. Setiap hari, mereka rutin sarapan bersama jam 7 pagi. Anak-anaknya yang bersekolah homeschooling juga sudah sejak kecil kerap melihat dan terlibat dengan semua kegiatan Yayasan Tangan Pengharapan.

Henny pun masih akan terus mencari daerah-daerah yang belum terjangkau dan terus membangun sekolah. Niatnya ingin bisa menginjakkan kaki ke seluruh pulau di Indonesia. Ia juga masih punya mimpi membuat penjara anak jalanan. Meski terdengar kejam, tapi sebenarnya dengan membiarkan mereka hidup di jalanan itu jauh lebih kejam. Karena hidup mereka di jalanan itu keras sekali, mereka dikuasai preman, tidak bisa lari, bahkan orangtua mereka pun juga memaksa menyuruh mereka tetap berada di jalanan karena lebih menghasilkan. Maka, untuk melepaskan mereka dari preman dan orangtua seperti itu, penjara justru bisa menyelamatkan diri mereka. Penjara ini nantinya seperti asrama yang memberikan mereka berbagai pelatihan dan keterampilan sekaligus sekolah. Karakter mereka pun juga dididik di sana. Dinamakan penjara, sebetulnya itu hanya sekedar sebutan agar orangtua tidak bisa menjemput mereka dan preman pun tidak berani datang. Jadi sebetulnya, itu adalah tempat yang aman untuk mereka, karena kalau bukan penjara, mereka pasti akan datang menjempt anaknya.

HENNY KRISTIANUS Wanita Penabur Cinta @KickAndy

 

Leave a Comment