JOHN WYCLIFFE


JOHN WYCLIFFE
1.John Wycliffe dilahirkan di Yorkshire (Inggris ) pada tahun 1325. Studi teologianya ditempuh di Universitas Oxford dan memperoleh gelar doktor teologia di sana pada tahun 1372. Wycliffe dikenal sebagai seorang mahasiswa yang sangat cerdas. Banyak kalangan sangat menghormatinya sebagai orang yang bijaksana dan berpendidikan. Reputasi Universitas Oxford ikut terangkat karena keberadaan Wycliffe sebagai pengajar di universitas ini, yang telah dimulainya sejak tahun 1361. Hampir sebagian besar hidup Wycliffe akhirnya ia habiskan untuk mengabdi di sekolah ini.

2.Kehidupan Wycliffe pada dasarnya penuh dengan kontroversi. Ia mempunyai kebiasaan berbahaya yaitu mengatakan apa saja yang dipikirkannya. Jika apa yang dipelajarinya membuatnya mempertanyakan tentang ajaran Katolik resmi, maka ia langsung akan menyuarakannya. Namun hal yang membuat gereja mulai bermusuhan dengan Wycliffe adalah ketika ia mempertanyakan tentang hak Gereja atas kuasa duniawi dan kekayaan gereja. Paus telah menuntut bahwa hak milik gereja-gereja di Inggris adalah milik Paus. Wycliffe sangat tidak menyetujui tuntutan seperti itu. Menurutnya harta milik gereja adalah milik negara. Persoalan inilah yang mendorong Wycliffe mulai menyelidiki prinsip dasar kepemilikan dalam Alkitab. Ia menarik kesimpulan bahwa gereja seharusnya tidak memiliki harta duniawi. Gereja harus menjadi miskin dan sederhana seperti gereja pada masa Perjanjian Baru. Dalam hal ini Paus dikritik secara tajam oleh Wycliffe. Menurutnya Paus dan konsili seharusnya berada di bawah hukum Allah, karena Kristus lah Kepala Gereja. Oleh karena Kristus tidak pernah mentahbiskan Paus, maka Paus tidak mempunyai kekuasaan dari Kristus. Bahkan sampai puncaknya Wycliffe menyebut Paus sebagai Si Anti-Kristus.

3.Selain itu Wycliffe juga mempertanyakan tentang penjualan kartu- kartu pengampunan dosa dan jabatan-jabatan gerejawi, penyembahan kepada para santo dan religi yang berbau takhayul. Ia mempertanyakan juga pandangan resmi tentang Ekaristi (doktrin transubstansiasi) yang dikeluarkan oleh Konsili Lateran Keempat. Untuk pandangan- pandangannya inilah Wycliffe sering harus berhadapan dengan para uskup dan konsili-konsili untuk disidang. 4.Namun, Inggris pada dasarnya penuh sentimen terhadap Gereja Roma, khususnya pada tahun- tahun 1300-an. Para pangeran — dan banyak orang awam yang memegang kepemimpinan yang sangat kuat di Inggris.– menyesalkan cara Gereja merampas kekuasaan dan harta rakyat. Dalam hal inilah Wycliffe mendapat dukungan dari John Gaunt (Pangeran Lancaster). Dengan memanfaatkan kecerdasan Wycliffe, John Gaunt sering memakai ide-ide dan kepopuleran Wycliffe untuk berargumentasi dengan Gereja. Sebagai imbalannya, Pangeran John Gaunt memberi Wycliffe semacam perlindungan.

5.Pada tahun 1377, Wycliffe akhirnya diajukan ke persidangan dan diminta menghadap uskup London untuk mempertanggungjawabkan pandangan dan ajaran-ajaran sesat yang dituduhkan kepadanya. Namun persidangan terpaksa dihentikan, sebelum Wycliffe sempat mengeluarkan sepatah kata pun, karena ternyata John Gaunt dan pemimpin persidangan beradu pendapat tentang bagaimana persidangan dijalankan, tentang apakah Wycliffe harus duduk atau berdiri. Namun sejak itu Paus mengutuk pandangan dan ajaran Wycliffe. Tulisan- tulisan Wycliffe mulai dilarang beredar.

6.Selama kritik Wycliffe adalah seputar kebusukan-kebusukan Paus dan tentang penyelewengan terhadap pengambilalihan hak milik gereja, maka Wycliffe merupakan pahlawan yang populer. Paus sangat geram terhadap Wycliffe dan memerintahkannya untuk berhenti berkotbah, bahkan meminta universitas Oxford untuk memecatnya, namun tidak berhasil karena Wycliffe mendapat perlindungan dari John Gaunt. Oxford justru mendukung Wycliffe. Dewan doktor di Oxford menyatakan bahwa tidak satupun tuduhan itu dapat membuktikan bahwa ajaran Wycliffe salah. Buku yang berjudul “Protes” akhirnya ditulis Wycliffe, sebagai pembelaan terhadap ajaran-ajarannya.

7.Namun, ketika Wycliffe mulai menyerang gereja dalam hal doktrin transubstansiasi (roti dan anggur setelah didoakan imam berubah benar benar menjadi daging dan darah Kristus), ia mulai kehilangan banyak pendukung. Hal lain yang terjadi yang akhirnya menyakitkan Wycliffe adalah Skisma Besar yang menyebabkan Inggris menjalin persekutuan dengan Roma dan Pembrontakan Petani (1381) yang dianggap merupakan hasil dari pengajarannya yang sesat. Akibatnya, tulisan-tulisannya dilarang, bahkan diperintahkan untuk dibakar. Wycliffe sendiri akhirnya kehilangan kedudukannya di Oxford dan dilarang berkotbah. Para pengikutnya juga diusir dari Oxford.

8.Akibat pengusirannya ini, Wycliffe justru memanfaatkan waktunya untuk menterjemahkan Alkitab. Menurut Wycliffe, setiap orang harus diberi keleluasaan membaca Kitab Suci dalam bahasanya sendiri. “Oleh karena Alkitab berisikan Kristus, yang diperlukan untuk mendapatkan keselamatan. maka Alkitab sangat diperlukan bagi semua orang, bukan hanya bagi para imam saja,” tulisnya. Maka meskipun Gereja tidak setuju, ia bekerjasama dengan sarjana lain untuk menterjemahkan Alkitab bahasa Inggris pertama yang lengkap. Menggunakan salinan tulisan tangan Vulgata (Alkitab terjemahan bahasa Latin) Wycliffe berusaha keras membuat Kitab Suci agar dapat dimengerti oleh orang- orang sebangsanya. Edisi pertama diterbitkan. Penerbitan kedua mengalami perbaikkan tetapi baru selesai dikerjakan setelah Wycliffe meninggal. Edisi itu dikenal sebagai “Alkitab Wycliffe”, dan dibagi- bagikan secara ilegal oleh para Lollard (skolar dari Oxford).

9.Karena kelemahan badan yang menyerangnya, Wycliffe akhirnya tinggal di Lutterworth dan menghabiskan waktunya di sana untuk menulis. Begitu produktifnya Wycliffe dalam menulis sampai membuat para musuhnya kagum. Pada tanggal 31 Desember 1384 Wycliffe meninggal karena serangan stroke. Tiga puluh satu tahun setelah Wycliffe dikuburkan, Konsili Konstanz mengucilkan dan menghukum dia. Pada tahun 1428 kuburannya digali dan tulang-tulangnya dibakar, abunya disebarkan di sungai Swift.

10.Pengaruh ajaran Wycliffe sangat kuat, khususnya keyakinannya yang sangat dalam terhadap otoritas Alkitab sehingga memberi inspirasi yang luar biasa bagi munculnya gerakan Reformasi di kemudian hari. Itu sebabnya sangat pantas jika John Wycliffe mendapat julukan “Si Bintang Fajar Reformasi”, karena melalui semangatnya Reformasi mulai muncul seperti munculnya fajar di pagi hari.
Pada dasarnya Wycliffe berusaha untuk tetap bertahan di Gereja Roma, namun Gereja tidak lagi menghendakinya. Sesudah Wycliffe, para pengikutnya juga ditindak di Inggris, namun pandangan-pandangannya mulai tersebar dengan cepat ke Eropa. Diantara para pengikut Wycliffe muncul seorang murid Kristus yang setia dan mengikuti jejaknya, yaitu John Hus.

SUMBER:
http://reformed.sabda.org/john_wycliffe_dan_john_hus