ORDO SALUTIS 5


PEMBENARAN

1.Martin Luther sangat bergumul dengan kalimat keadilan Allah, karena dia berpikir bahwa keadilan itu bersifat penghukuman. Dia tidak percaya bahwa keadilan itu dapat menyelamatkan orang seperti yang tertulis dalam Mazmur 31:2 ā€œluputkanlah aku oleh karena keadilanmu. Setelah Luther membaca dan memahami Roma 1:16-17 (sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis : orang benar akan hidup oleh iman), ia menjadi sadar bahwa kebenaran Allah bukanlah keadilan yang menghukum orang-orang berdosa, melainkan suatu kebenaran yang Allah berikan kepada orang-orang berdosa yang membutuhkannya, dan yang dapat mereka terima dengan iman.[37]

2.Istilah Yunani kata membenarkan adalah dikaioo artinya menyatakan atau mendeklarasikan seseorang sebagai yang benar ( Luk. 18:14; Kis. 13:39). Dalam tulisan-tulisan Paulus kata ini berarti menyatakan orang-orang berdosa benar ( Rm. 4:5). Selain kata dikaioo, dalam PB kita menemukan katadikaiosune yang artinya kebenaran (Rm. 3:21-22), atau keadilan (Rm. 3:25-26). Kata ini menunjuk kepada aktivitas Allah untuk membenarkan orang-orang berdosa (Rm. 3:21-22), dan juga menunjuk kepada keadilan Allah artinya Allah selalu bertindak sesuai dengan sifat-Nya sebagai Allah yang adil. Allah tetap adil ketika Dia membenarkan orang-orang berdosa, dan Dia menempati janji-Nya mengenai keselamatan. jadi, anugerah-Nya tidak menggantikan keadilan, melainkan anugerah itu direalisasikan melalui keadilan Allah.
Dengan demikian kata dikaiosune dapat menunjuk kepada :
Kebenaran yang dikerjakan Kristus, yang diperhitungkan kepada orang-orang berdosa yang percaya kepada-Nya.
Keadilan Allah, selalu melakukan apa yang Dia katakan atau janjikan.
Kebenaran yang dilakukan oleh Kristus, menaati kehendak Allah secara sempurna, dan juga harus dilakukan oleh setiap orang percaya.

3.Dalam PB pembenaran karena iman jelas sekali diajarkan Paulus dalam Roma 3:21-28. tentang ini Hoekema menyimpulkan sebagai berikut:[39]
Pembenaran berakar di dalam PL (21) : yang disaksikan dalam kitab Taurat dan kitab para nabi. Maksud Paulus adalah alkitab PL.
Pembenaran ini diterima manfaatnya dengan iman (ay,22): kebenaran ini merupakan karunia Allah yang diterima oleh iman.
Keharusan, pembenaran ini ditekankan dalam ayat 22b-23. dalam ayat 23 dua hal yang ditekankan : (1) semua orang telah berbuat dosa (hemarton) kata ini berbetuk aorist :telah berbuat dosa. Kata ini menggambarkan situasi semua orang sekarang akibat pelanggaran Adam dan Hawa. (2) terus menerus kehilangan atau kekurangan kemuliaan Allah (husterountai) kata ini berbentuk present tense. Maksudnya kekurangan di dalam mempermuliakan Allah dengan cara menjalankan kehendak-Nya secara tidak sempurna.

4.Dasar bagi pembenaran adalah karya pendamaian Yesus Kristus. Ada dua kata yang perlu perhatian khusus yakni
(4.1) pertama, apolutrosis artinya penebusan (ay. 24), yang diartikan membeli kembali budak dan memberikannya kemerdekaan melalui pembayaran sejumlah tebusan. Gambaran ini yang diterapkan kepada karya Kristus. (4.2) hilasterion diterjemahkan pendamaian artinya Kritus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya (ay.25) keadilan dari pembenaran kita. Keadilan Allah tidak dikorbankan. Allah melakukan segala sesuatu dengan adil dan benar. Tidak ada pertentangan dengan anugerah-Nya. Allah menyediakan korban oleh anugerah-Nya dan Kristus menanggung hukuman atas dosa-dosa kita . ayat 25 menjelaskan dosa-dosa orang percaya pada zaman PL dapat secara adil dibiarkan (tidak dihukum) dengan memandang kepada pengorbanan yang akan dilakukan Kristus. Ayat 26, menjelaskan saat ini Allah dapat secara adil membenarkan orang berdosa karena Kristus telah secara sempurna memenuhi tuntutan keadilan Allah bagi umat-Nya.

5.Hoekema menyimpulkan pembahasan ini dengan mengatakan bahwa manusia dibenarkan karena iman, bukan karena perbuatan (Rm. 3:28). Nas-nas lain yang mendukung kesimpulan ini : Galatia 2:16 dan Filipi 2:8b-9. maka kebenaran Allah yang kita peroleh melalui iman merupakan harta yang tidak ternilai sehingga segala hal yang dibandingkan dengannya dilihat sebagai kerugian.

SUMBER:
https://madenopensupriadi.blogspot.co.nz/2017/09/soteriologi-doktrin-keselamatan.html