PASTI MENDATANGI 3

KEMATIAN MENURUT SOREN KIEKERGAARD

1.Kematian menurut Soren Kierkegaard  adalah sebuah tema yang sering dibahas dalam karya-karyanya. Kierkegaard adalah seorang filsuf dan teolog Denmark yang dianggap sebagai bapak eksistensialisme. Ia memandang kematian sebagai suatu realitas yang harus dihadapi oleh setiap manusia, tetapi juga sebagai suatu kesempatan untuk memilih hidup yang autentik dan bermakna. Berikut ini adalah beberapa poin penting tentang kematian menurut Kierkegaard:

2.Kematian adalah suatu paradoks. Di satu sisi, kematian adalah sesuatu yang pasti dan tak terhindarkan bagi setiap manusia. Di sisi lain, kematian adalah sesuatu yang tidak dapat diprediksi dan tidak dapat dimengerti oleh akal manusia. Kematian adalah suatu misteri yang melampaui batas-batas pengetahuan dan pengalaman manusia.

3.Kematian adalah suatu tantangan. Kematian mengancam eksistensi manusia dan memaksa manusia untuk menghadapi ketidakpastian dan ketakutan akan masa depan. Kematian juga menuntut manusia untuk mengambil tanggung jawab atas hidupnya dan membuat pilihan-pilihan yang menentukan nasibnya. Kematian adalah suatu ujian bagi keberanian dan kebebasan manusia.

4.Kematian adalah suatu kesempatan. Kematian memberikan kesempatan kepada manusia untuk merefleksikan hidupnya dan mengevaluasi nilai-nilai yang dipegangnya. Kematian juga memberikan kesempatan kepada manusia untuk mengubah hidupnya dan mencari makna yang lebih dalam dan lebih tinggi. Kematian adalah suatu dorongan bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia

TIGA TINGKAT EKSISTENSI MANUSIA

Kierkegaard membedakan tiga tingkat eksistensi manusia, yaitu: (1) eksistensi estetis, (2) eksistensi etis, dan (3) eksistensi religius. Tingkat-tingkat ini berhubungan dengan cara manusia menghadapi kematian.

1.Eksistensi estetis adalah tingkat eksistensi yang paling rendah, di mana manusia hidup untuk mengejar kesenangan dan kenikmatan duniawi tanpa memperhatikan konsekuensi atau komitmen. Manusia yang hidup dalam eksistensi estetis cenderung menghindari atau menolak kematian sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan dan tidak relevan. Mereka berusaha melupakan atau menutupi kenyataan kematian dengan cara-cara yang dangkal dan semu, seperti hiburan, humor, ironi, atau romansa.

2.Eksistensi etis adalah tingkat eksistensi yang lebih tinggi, di mana manusia hidup untuk menaati norma-norma moral dan hukum-hukum sosial yang berlaku dalam masyarakat. Manusia yang hidup dalam eksistensi etis cenderung mengakui atau menerima kematian sebagai sesuatu yang tak terelakkan dan harus dipersiapkan. Mereka berusaha menghadapi atau mengatasi kenyataan kematian dengan cara-cara yang rasional dan bertanggung jawab, seperti membuat wasiat, mengatur pemakaman, atau melakukan amal baik.

3.Eksistensi religius adalah tingkat eksistensi yang paling tinggi, di mana manusia hidup untuk menjalin hubungan pribadi dengan Allah sebagai sumber kehidupan dan kebenaran. Manusia yang hidup dalam eksistensi religius cenderung mengatasi atau melampaui kematian sebagai sesuatu yang tidak mutlak dan tidak akhir. Mereka berusaha memahami atau menyadari makna kematian dengan cara-cara yang iman dan harapan, seperti berdoa, beribadah, atau bersaksi.

4.Menurut Kierkegaard, hanya eksistensi religius yang dapat memberikan jawaban yang memuaskan dan menyelamatkan bagi masalah kematian. Eksistensi religius didasarkan pada keyakinan bahwa Allah telah mengalahkan kematian melalui karya penebusan Yesus Kristus di kayu salib dan kebangkitan-Nya pada hari ketiga. Barangsiapa yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

REF.

1: Søren Kierkegaard – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

2: EKSISTENSI MANUSIA DALAM FILSAFAT SÖREN KIERKEGAARD – Neliti