Berjalan Melalui, Bukan Meloncati:
Refleksi atas Mazmur 23 dan Yohanes 16:33
PENDAHULUAN
Tulisan ini lahir dari sebuah percakapan sederhana namun jujur — pergumulan seorang saudari seiman yang, setelah menyaksikan rentetan tragedi di sekitarnya, bertanya dengan tulus: apakah sebagai orang Kristen kita kebal dari penderitaan? Pertanyaan ini bukan pertanyaan baru, tetapi selalu menemukan momentumnya sendiri setiap kali dunia terasa begitu rapuh. Jawabannya, sebagaimana disaksikan oleh Alkitab sendiri, adalah tidak. Namun justru di titik itulah iman Kristen menawarkan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar jaminan bebas masalah — ia menawarkan kehadiran Tuhan di tengah masalah itu sendiri.
I.Dunia yang Sudah Dikutuk
Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, dunia ini tidak lagi berada dalam kondisi asali yang baik sempurna. Kejadian 3 mencatat bagaimana dosa membawa serta kutuk atas seluruh ciptaan — bumi menghasilkan duri, kerja menjadi berat, dan relasi menjadi retak. Dalam dunia yang demikian, musibah, penyakit, kehilangan, dan kejahatan bukanlah anomali yang mengejutkan Tuhan, melainkan konsekuensi nyata dari dunia yang sedang menantikan pemulihannya secara penuh. Orang percaya tidak dikeluarkan dari dunia ini untuk hidup di ruang kaca yang steril dari penderitaan. Kita tetap tinggal di dalamnya, merasakan getirnya bersama semua orang lain.
II.Melalui, Bukan Meloncati
Di sinilah Mazmur 23:4 berbicara dengan kekuatan yang luar biasa. Daud tidak menulis bahwa Tuhan akan mengangkatnya melompati lembah kekelaman, atau membuatnya mengambil jalan memutar untuk menghindarinya sama sekali. Ia menulis: “sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelapan, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.” Kata kuncinya adalah berjalan melalui. Ada pengakuan jujur bahwa lembah itu nyata, gelap, dan harus dilalui — namun ada pula pengakuan iman bahwa Sang Gembala berjalan bersama, tongkat dan gada-Nya menenteramkan hati yang gentar. Penghiburan Kristen, dengan demikian, bukanlah penghapusan jalan yang sulit, melainkan kepastian bahwa kita tidak berjalan sendirian melintasinya.
III. Damai Sejahtera di Tengah Kesusahan
Yesus sendiri, jauh sebelum Ia menempuh jalan salib, telah berkata kepada murid-murid-Nya dalam Yohanes 16:33: “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” Perhatikan bahwa Tuhan Yesus tidak menjanjikan pengikut-Nya kehidupan tanpa susah — Ia justru menegaskan sebaliknya, bahwa penderitaan itu pasti ada. Namun di kalimat yang sama, Ia meletakkan dasar pengharapan yang jauh lebih kokoh daripada sekadar tiadanya masalah: kemenangan-Nya atas dunia sudah menjadi fakta yang selesai. Damai sejahtera yang Ia tawarkan bukan damai yang bergantung pada situasi yang tenang, melainkan damai yang berakar pada kepastian bahwa kuasa dosa, maut, dan kejahatan telah dikalahkan di kayu salib dan melalui kebangkitan-Nya.
IV.Menerima Tanpa Menyalahkan
Ketika kita memahami dua kebenaran ini secara bersamaan — bahwa dunia yang jatuh membuat penderitaan tidak terelakkan, dan bahwa Kristus telah menang atas dunia — kita dimampukan untuk menerima tragedi tanpa jatuh pada dua jebakan yang sama berbahayanya. Jebakan pertama adalah teologi kemakmuran yang menjanjikan hidup bebas masalah bagi orang percaya, sehingga ketika musibah datang, iman menjadi goyah karena harapan yang keliru sejak awal. Jebakan kedua adalah sikap menyalahkan Tuhan, seolah penderitaan membuktikan ketidakpedulian atau ketidakhadiran-Nya. Alkitab mengarahkan kita pada jalan tengah yang justru lebih kokoh: mengakui penderitaan sebagai kenyataan dunia yang dikutuk dosa, sambil berpegang teguh pada janji penyertaan dan kemenangan Kristus.
Pesan Pastoral
Kepada Saudara yang saat ini sedang berjalan melalui lembah kekelaman — apa pun bentuknya — ingatlah bahwa Saudara tidak dipanggil untuk berpura-pura lembah itu tidak ada, dan Saudara juga tidak sedang berjalan sendirian melintasinya. Sang Gembala yang baik berjalan tepat di samping Saudara, tongkat-Nya menghalau bahaya, gada-Nya memberi rasa aman. Dan ketika kekuatan Saudara habis untuk terus berjalan, ingatlah firman Tuhan Yesus: Ia telah mengalahkan dunia. Penderitaan hari ini bukanlah kata akhir. Kuatkanlah hati, sebab Ia besertamu — bukan untuk menghindarkanmu dari lembah, tetapi untuk menuntunmu melewatinya, hingga tiba di sisi terang yang lain.