KIS RAS 4:12: BARTH DAN KIERKEGAARD

Keselamatan yang Tunggal dalam Nama Yesus (Kisah Para Rasul 4:12)

Melalui Lensa Karl Barth dan Søren Kierkegaard

Ayat: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4:12)

 

  1. Karl Barth: Anugerah yang Objektif dan Eksklusif

1.Karl Barth, teolog Reformed abad ke-20, menegaskan bahwa keselamatan adalah inisiatif tunggal Allah yang terwujud dalam Yesus Kristus. Bagi Barth, ayat ini bukan sekadar klaim dogmatis, melainkan penyingkapan kebenaran ilahi (Offenbarung) yang melampaui logika manusia. Dalam Church Dogmatics, ia menulis bahwa Yesus adalah “Sabda Allah yang menjadi daging”, satu-satunya jalan di mana Allah menyatakan diri-Nya dan menyelamatkan manusia.

2.Barth menolak semua upaya manusia untuk mencapai keselamatan melalui agama, moral, atau filsafat. Baginya, hanya Kristus yang menjadi “penghubung” antara Allah yang transenden dan manusia yang berdosa. Keselamatan bukanlah hasil pencarian manusia, melainkan anugerah yang turun dari surga. Eksklusivitas nama Yesus dalam Kisah 4:12, menurut Barth, adalah pernyataan radikal tentang kedaulatan Allah: Tidak ada yang setara dengan Dia.

  

II.Søren Kierkegaard: Lompatan Iman yang Subjektif

1.Søren Kierkegaard, filsuf eksistensialis, akan menekankan aspek komitmen personal dalam ayat ini. Dalam Fear and Trembling, ia menggambarkan iman sebagai “lompatan ke dalam kegelapan”, sebuah keputusan yang penuh gairah meski bertentangan dengan rasionalitas duniawi. Bagi Kierkegaard, kebenaran Kisah 4:12 bukanlah untuk dibuktikan secara intelektual, melainkan untuk dihidupi secara eksistensial.

2.Klaim bahwa “tidak ada nama lain” adalah paradoks yang menantang: Bagaimana mungkin satu Pribadi di tengah ribuan agama menjadi satu-satunya jalan? Kierkegaard menjawab: Iman bukanlah kepastian logis, tetapi keberanian untuk berpegang pada Yang Absurd. Yesus bukanlah teori, melainkan Jalan Hidup yang menuntut penyangkalan diri. Keselamatan dalam nama-Nya hanya bermakna ketika kita berani meninggalkan “keamanan palsu” (seperti ritual agama atau prestasi moral) dan bersandar sepenuhnya pada-Nya.

  

III.Sintesis: Anugerah yang Menuntut Respons

1.Barth dan Kierkegaard, meski dari tradisi berbeda, bersatu dalam pesan ini: Keselamatan adalah anugerah Allah dalam Kristus, tetapi anugerah itu menuntut respons radikal dari manusia.

2.Barth mengingatkan kita: Keselamatan bukan hasil usaha kita, melainkan karya Allah yang final.

– Kierkegaard menantang kita: Apakah kita berani hidup seperti orang yang benar-benar percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya Penyelamat?

3.Dalam dunia yang menawarkan banyak “jalan alternatif” (pluralisme, relativisme), Kisah 4:12 adalah seruan untuk kesetiaan pada kebenaran yang tunggal. Ini bukan ajaran untuk sombong, melainkan kerendahan hati mengakui: Kita tidak mampu menyelamatkan diri sendiri.

  

IV.Refleksi untuk Hidup:

  1. Bagaimana sikapmu terhadap klaim eksklusif Yesus? Apakah itu sumber pengharapan atau batu sandungan?
  2. Apakah imanmu kepada-Nya telah mengubah cara hidupmu? Kierkegaard akan berkata: “Iman yang sejati adalah api yang membakar segala kepura-puraan.”
  3. Apakah kamu bersandar pada anugerah-Nya setiap hari? Seperti kata Barth: “Allah tidak membutuhkan prestasimu, hanya kepasrahanmu.”

 

Doa:

Tuhan, ajarku untuk percaya bahwa hanya dalam nama-Mu ada keselamatan. Bantu aku meninggalkan semua sandaran palsu, dan berani hidup sebagai saksi-Mu yang radikal. Amin.

 

Renungan ini mengajak kita merenungkan kebenaran abadi dengan kepala (teologi Barth) dan hati (iman Kierkegaard), agar iman tidak menjadi dogma mati, tetapi hidup dalam tindakan.