SIAPA YANG MENGATUR HIDUP ANDA?

SUDAH DIATUR ATAU KITA  MENGATUR?

 

Apakah Hidup Kita Sudah Diatur atau Kita yang Mengatur?

Pertanyaan yang dikemukakan ini diturunkan dari PEMIKIRAN FILSAFAT :  “Mana Yang Lebih Dahulu Eseni (Hakekat) atau Eksistensi (Keberadaan)?

 

PENDAHULUAN

Pertanyaan Sederhana yang Bikin Kita Mikir

Pernahkah Anda bertanya-tanya: apakah hidup Anda sudah diatur dari sananya, atau Anda yang punya kendali penuh atas hidup Anda? Pertanyaan ini ternyata sudah diperdebatkan para pemikir selama berabad-abad, dan jawabannya bisa mengubah cara kita melihat hidup.

 

I.Dua Cara Pandang yang Berbeda

A.Hidup Sudah Diatur (Esensi) Ini seperti percaya bahwa setiap orang lahir dengan “manual” hidup yang sudah ditentukan. Misalnya:

  • Ada yang lahir dengan bakat musik, jadi takdirnya jadi musisi
  • Ada yang punya sifat penyayang, jadi cocoknya jadi dokter atau guru
  • Setiap orang punya “jodoh” yang sudah ditentukan dari sananya

 B.Kita yang Mengatur Hidup (Eksistensi) Pandangan ini percaya bahwa kita bebas menentukan mau jadi apa dan bagaimana. Contohnya:

  • Mau jadi apa saja terserah kita, asal mau belajar dan berusaha
  • Tidak ada “jodoh”, yang ada adalah pilihan kita untuk mencintai seseorang
  • Kita bisa mengubah kepribadian dan nasib dengan keputusan-keputusan yang kita ambil

 

II.Kierkegaard: Pemikir yang Punya Solusi Unik

1.Ada seorang pemikir yaitu filsuf  bernama Søren Kierkegaard yang punya jawaban menarik. Dia bilang: “Kenapa harus pilih salah satu? Kenapa nggak keduanya?”

2.Menurut dia:

  • Mungkin memang ada “rancangan” untuk hidup kita (dari Tuhan, genetik, atau bakat alami)
  • Tapi kita tetap harus memilih mau mengikuti rancangan itu atau tidak
  • Hidup yang bermakna adalah ketika kita sadar akan kedua hal ini

3.Contoh sederhana: Anda mungkin lahir dengan bakat menggambar, tapi tetap harus memilih apakah mau jadi seniman atau tidak. Tidak otomatis jadi seniman hanya karena berbakat.

 

III.Relevansi di Zaman Sekarang: Era Media Sosial

A.Kebebasan yang Membingungkan

1.Di media sosial, kita merasa bebas jadi siapa saja:

  • Bisa ganti foto profil kapan aja
  • Bisa “pamer” sisi terbaik diri kita
  • Bisa “reinvent” diri lewat konten yang kita posting

2.Tapi paradoksnya, banyak orang justru bingung: “Siapa sih aku yang sebenarnya?”

 B.Algoritma yang Mengendalikan

Di sisi lain, algoritma YouTube, Instagram, dan TikTok sebetulnya sudah “menentukan” apa yang kita lihat dan suka. Jadi meskipun merasa bebas, kita sebetulnya dikontrol juga sama teknologi.

 C.Tips dari Kierkegaard untuk Zaman Digital

  1. Jangan cuma ikut trend – Cari tahu apa yang benar-benar Anda suka dan percayai
  2. Pilihan tetap penting – Meskipun algoritma menyarankan konten, Anda tetap bisa pilih mau menonton apa
  3. Autentik lebih penting dari viral – Lebih baik jadi diri sendiri yang asli daripada pura-pura demi likes
  4. Berani ambil keputusan sulit – Kadang kita harus pilih yang benar meskipun tidak populer

 

IV.Contoh Praktis dalam Hidup Sehari-hari

A.Soal Karir

  • Esensi: “Saya dari kecil suka masak, mungkin memang takdir saya jadi chef”
  • Eksistensi: “Tapi saya harus tetap belajar, berlatih, dan memilih mau kerja di mana”
  • Gabungan: Mengakui bakat alami tapi tetap berusaha mengembangkannya

 B.Soal Cinta

  • Esensi: “Mungkin memang ada orang yang cocok untuk saya”
  • Eksistensi: “Tapi saya harus pilih untuk berkomitmen dan berjuang mempertahankan hubungan”
  • Gabungan: Percaya pada kecocokan tapi tetap bekerja keras untuk hubungan

 C.Soal Kepercayaan/Agama

  • Esensi: “Mungkin saya lahir dalam keluarga beragama tertentu”
  • Eksistensi: “Tapi saya harus pilih sendiri mau percaya atau tidak”
  • Gabungan: Menghargai latar belakang tapi tetap mencari sendiri

 

Kesimpulan: Hidup itu Kompleks, dan Itu Normal

A.Mungkin pertanyaan “hidup diatur atau kita yang mengatur” tidak perlu dijawab dengan mutlak. Yang penting:

  1. Terima bahwa mungkin ada hal-hal yang sudah “given” dalam hidup kita (bakat, keluarga, kondisi lahir)
  2. Tapi ingat bahwa kita tetap punya kekuatan untuk memilih bagaimana merespons kondisi tersebut
  3. Hidup autentik: Jadi diri sendiri, bukan ikut-ikutan atau pura-pura
  4. Berani mengambil keputusan: Meskipun tidak sempurna, keputusan kita sendiri lebih bermakna

 B.Pertanyaan untuk Anda

Setelah membaca artikel ini, coba refleksi:

  • Dalam hidup Anda, mana yang lebih terasa: hal-hal yang sudah “ditentukan” atau pilihan-pilihan yang Anda buat sendiri?
  • Bagaimana cara Anda menyeimbangkan antara menerima kondisi yang ada dan tetap berusaha mengubah yang bisa diubah?

Ingat, tidak ada jawaban yang benar atau salah. Yang penting adalah Anda hidup dengan sadar dan bermakna, sesuai dengan nilai-nilai yang Anda percayai.

“Hidup harus dijalani ke depan, tapi cuma bisa dipahami kalau kita lihat ke belakang.” – Søren Kierkegaard