KEBANGUNAN ROHANI MODEL PS JOHN ANOSIKE

TINJAUAN DARI SUDUT TEOLOGIA REFORMED ( CALVINIS )

PENDAHULUAN

1.Model pelayanan yang berpusat pada kebangunan rohani (revival) dan pengalaman emosional, seperti yang dipraktikkan oleh Pastor John Anosike dari Cape Town, Afrika Selatan,  seringkali menjadi daya tarik bagi banyak orang di era modern.

2.Kedatangan Anosike ke Selandia Baru  tgl 22 -23 AGUSTUS 2025 disambut dengan antusiasme besar, mencerminkan adanya kerinduan masyarakat akan pengalaman spiritual yang langsung, kuat, dan terasa nyata.

 

I.Api Emosi: Gerbang Awal Menuju Iman

1.Model pelayanan ini berfokus pada manifestasi Roh Kudus, penyembuhan, dan khotbah yang energik. Bagi banyak orang, ini adalah pendekatan yang sangat efektif untuk memulai perjalanan iman. Alasan utamanya adalah karena model ini secara langsung menyentuh sisi emosional manusia.

2.Di dunia yang serba logis dan sering kali terasa hampa, pengalaman emosional yang intens dapat menjadi katalisator bagi perubahan. Khotbah yang berapi-api, musik yang membangkitkan, dan suasana yang penuh harapan bisa memecah kebekuan hati yang sudah lama mengeras. Seseorang yang mungkin sedang dilanda keputusasaan, sakit penyakit, atau masalah hidup yang berat, bisa menemukan secercah harapan di tengah “badai” tersebut. Pengalaman yang terasa seperti mukjizat dapat meyakinkan mereka bahwa Tuhan itu nyata dan peduli.

 

II.Fondasi yang Kokoh: Tanggapan dari Teologi Reformed

1.Namun, di sinilah diskusi teologis menjadi sangat penting. Dari sudut pandang Teologi Reformed, iman yang hanya didasarkan pada emosi rentan terhadap keruntuhan. Meskipun pengalaman emosional dapat menjadi “pintu masuk,” ia tidak bisa menjadi satu-satunya “bahan bakar” untuk pertumbuhan iman jangka panjang.

2.Teologi Reformed menekankan pentingnya kedaulatan Allah, kebenaran Firman Tuhan, dan pertumbuhan yang sistematis dalam pemahaman rohani.

Berikut adalah beberapa poin utama tanggapan dari perspektif ini:

2.1. Iman Bukan Hanya Perasaan, tapi Keyakinan yang Rasional

Iman sejati, menurut teologi Reformed, adalah keyakinan yang dibangun di atas kebenaran Firman Tuhan, bukan hanya sensasi atau perasaan. Iman harus melibatkan akal budi (rasio) untuk memahami doktrin-doktrin penting seperti hakikat dosa, penebusan oleh Kristus, dan anugerah. Tanpa pemahaman yang benar, seseorang bisa terombang-ambing oleh ajaran yang tidak Alkitabiah atau menjadi korban manipulasi emosional. Apologetika, atau pembelaan iman secara logis, menjadi alat penting untuk membantu orang-orang menghadapi keraguan dan tantangan intelektual.

2.2. Pertumbuhan yang Berakar pada Firman Tuhan

Jika pengalaman emosional diibaratkan sebagai “bibit,” maka studi Firman Tuhan adalah “tanah” tempat bibit itu bertumbuh. Pertumbuhan spiritual sejati tidak hanya terjadi dalam acara-acara revival yang singkat, tetapi dalam kehidupan sehari-hari melalui disiplin pribadi. Ini mencakup membaca Alkitab secara teratur, merenungkannya, dan mendoakan kehendak Tuhan.

Tantangannya adalah, ketika “api” emosional meredup, apakah iman seseorang masih bisa bertahan? Jika pondasinya hanya emosi, kemungkinan besar tidak. Itulah mengapa Teologi Reformed mendorong jemaat untuk mendalami Alkitab, melalui studi yang serius, agar iman mereka memiliki akar yang kuat yang tidak mudah goyah.

2.3. Karakter vs. Sensasi

Tujuan akhir dari pertumbuhan iman adalah pembentukan karakter yang menyerupai Kristus, bukan sekadar mencari sensasi atau pengalaman spiritual yang “tinggi.” Buah Roh Kudus—kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri—adalah bukti nyata dari pertumbuhan rohani. Buah-buah ini tidak bisa dihasilkan dari satu atau dua kali acara revival, melainkan dari proses yang panjang dan konsisten dalam hidup sehari-hari.

2.4. Bahaya Potensial

Ada risiko inheren dalam model yang terlalu berfokus pada emosi.

Pertama, bisa ada kecenderungan untuk mengejar “pengalaman” daripada Tuhan itu sendiri.

Kedua, ada potensi untuk mengabaikan pentingnya doktrin yang benar, yang bisa membuka pintu bagi ajaran sesat.

Ketiga, ketika seseorang tidak mengalami “mukjizat” yang dijanjikan, bisa timbul kekecewaan dan keraguan terhadap Tuhan.

 

Kesimpulan: Perpaduan yang Seimbang

1.Maka, bagaimana kita bisa menanggapi model pelayanan seperti Pastor John Anosike? Bukannya menolak sepenuhnya, melainkan melihatnya sebagai satu bagian dari perjalanan iman.

2.Pengalaman emosional dapat menjadi “starter” yang efektif, yang menarik orang-orang ke dalam gereja. Namun, setelah mereka masuk, sangat penting bagi gereja untuk menyediakan “makanan” rohani yang lebih substansial—yaitu, pengajaran Firman Tuhan yang solid dan komunitas yang sehat yang mendorong pertumbuhan karakter.

3.Dengan kata lain, kita memerlukan “api” untuk memanaskan hati yang dingin, tetapi kita juga membutuhkan “fondasi” yang kokoh untuk membangun rumah iman yang tahan badai. Pendekatan yang paling ideal adalah ketika keduanya bisa bekerja sama: emosi menarik orang, dan kebenaran Firman Tuhan menopang mereka dalam jangka panjang.