MASA TUA: ANTARA MAKNA DAN PRESTASI

Masih Berbuah di Masa Tua: Antara Makna dan Prestasi

  1. Ayat yang Indah, Tetapi Bisa Disalahpahami

“Pada masa tuapun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar.”
Demikian bunyi Mazmur 92:15.

Ayat ini terdengar menguatkan. Namun di zaman yang sangat menekankan produktivitas, kita bisa salah mengartikannya. Apakah “masih berbuah” berarti harus terus berprestasi? Terus aktif, relevan, dan menghasilkan sesuatu yang terlihat? Jika demikian, bukankah itu bisa menjadi beban — terutama bagi lansia yang kekuatan fisiknya sudah berkurang?

  1. Antara Hirarki Kebutuhan dan Tekanan Prestasi

Kita hidup dalam budaya yang dipengaruhi pemikiran  Psikolog Abraham Maslow tentang hirarki kebutuhan. Manusia dipandang bergerak dari kebutuhan dasar menuju puncak yang disebut aktualisasi diri — menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Tidak salah untuk bertumbuh. Namun ketika aktualisasi diri diartikan sebagai pencapaian tanpa henti, maka usia lanjut bisa terasa seperti kemunduran. Tubuh melemah, ruang pengaruh menyempit, dan kesempatan berprestasi berkurang. Jika ukuran hidup adalah “naik tangga”, maka masa tua bisa terasa seperti turun tangga.

Mazmur 92 tidak memakai gambaran tangga. Ia memakai gambaran pohon.

  1. Berbuah Bukan Berprestasi

Orang benar digambarkan seperti pohon kurma dan aras di Lebanon. Pohon tua tidak berlomba. Ia tidak membandingkan diri dengan pohon lain. Ia hanya berdiri, berakar, dan tetap menghasilkan buah sesuai musimnya.

Di sinilah perbedaannya:

  • Berprestasi berbicara tentang pencapaian.
  • Berbuah berbicara tentang kehidupan yang mengalir.

Berprestasi sering membutuhkan tenaga besar dan pengakuan publik.
Berbuah sering terjadi dalam kesetiaan yang tenang.

Bagi lansia, buah di masa tua tidak harus berupa proyek besar. Buah itu bisa berupa:

  • Hikmat yang lahir dari pengalaman panjang.
  • Kesabaran yang ditempa oleh penderitaan.
  • Doa syafaat yang tekun.
  • Kesaksian tentang kesetiaan Tuhan selama puluhan tahun.

Itu bukan kompetisi. Itu kedalaman.

  1. Rahasia Mazmur 92: Ditanam, Bukan Dipaksa

Mazmur 92 menekankan bahwa mereka “ditanam di rumah Tuhan.” Artinya, sumber buah bukan usaha memaksakan diri, tetapi kedekatan dengan Tuhan.

Menariknya, dalam perkembangan pemikirannya, Maslow juga berbicara tentang melampaui diri sendiri (self-transcendence) — hidup bagi sesuatu yang lebih besar dari ego. Dalam iman Kristen, makna tertinggi bukanlah membesarkan diri, melainkan berakar dalam Allah dan memuliakan-Nya.

Di masa tua, seseorang mungkin tidak lagi produktif menurut standar dunia. Namun ia bisa sangat “subur” secara rohani.

Seorang nenek yang mendoakan cucunya setiap hari mungkin tidak tampil di panggung mana pun. Tetapi ia sedang menabur benih kekekalan.

  1. Pesan Pastoral: Untuk Lansia dan Dewasa

Untuk para lansia:
Jangan merasa gagal hanya karena Anda tidak lagi sekuat dahulu. Tuhan tidak menilai Anda dari kecepatan, jabatan, atau pencapaian. Kehadiran Anda, doa Anda, kesetiaan Anda — itulah buah yang berharga. Anda tetap bermakna, bahkan ketika dunia tidak lagi memberi sorotan.

Untuk kaum dewasa lainnya:
Belajarlah sejak sekarang bahwa hidup bukan sekadar mengejar puncak. Tanamlah diri Anda dalam Tuhan. Karena suatu hari, ketika tenaga berkurang, yang akan menopang Anda bukan prestasi masa lalu, tetapi akar yang dalam.

Pada akhirnya, hidup yang berbuah bukanlah hidup yang paling tinggi naiknya, melainkan hidup yang paling dalam akarnya.