MENGAPA AGAMA BUDDHA TIDAK MENGENAL TUHAN YANG BISA DIAJAK BICARA
I.Dua Cara Orang Beragama Memandang Tuhan
Ada agama yang percaya bahwa Tuhan adalah sosok yang bisa diajak bicara lewat doa. Tuhan dalam agama Yahudi, Kristen, dan Islam itu seperti “seseorang” — Ia mendengar, menjawab, marah, mengasihi, dan punya rencana untuk kita. Kita bisa memohon kepada-Nya, dan Ia bisa membalas.
Agama Buddha berbeda. Bukan berarti orang Buddha jahat atau tidak percaya apa-apa. Mereka hanya punya cara berpikir yang lain tentang hidup dan alam semesta.
II.Buddha Lebih Suka Diam Soal Tuhan
Suatu hari, murid-murid bertanya kepada Sang Buddha: “Apakah Tuhan itu ada?” Buddha tidak menjawab. Ia diam.
Mengapa? Karena bagi Buddha, pertanyaan itu seperti orang yang tertusuk panah lalu malah sibuk bertanya: “Panah ini dari kayu apa? Siapa yang membuatnya?” Padahal yang penting adalah segera cabut panahnya dan obati lukanya.
Bagi Buddha, yang penting bukan soal Tuhan ada atau tidak — yang penting adalah bagaimana kita berhenti menderita dalam hidup ini.
III.Tidak Ada “Aku” yang Kekal, Termasuk Tuhan
Ajaran Buddha yang paling mendasar adalah ini: tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang benar-benar tetap dan abadi — termasuk diri kita sendiri. Tubuh kita berubah. Perasaan kita berubah. Pikiran kita berubah. Semuanya mengalir seperti air sungai.
Nah, kalau “aku” kita saja tidak kekal, lalu bagaimana mungkin ada “Tuhan yang berpribadi” — yang punya perasaan, kehendak, dan pikiran seperti manusia — yang bersifat abadi? Bagi Buddha, itu tidak masuk akal.
IV.Nasib Kita Ditentukan oleh Perbuatan Kita Sendiri
Dalam Islam dan Kristen, nasib kita ada di tangan Tuhan. Doa dan iman kepada-Nya sangat penting.
Dalam Buddhism, nasib kita ditentukan oleh karma — yaitu akibat dari perbuatan kita sendiri. Kalau kita berbuat baik, kebaikan akan kembali. Kalau kita berbuat jahat, akibatnya akan kita tanggung. Tidak ada Tuhan yang perlu dimohon ampunannya. Yang diperlukan adalah kesadaran dan perubahan dari dalam diri.
Kesimpulan: Jalan yang Berbeda, Sama-sama Serius
Agama Abrahamik bertanya: “Bagaimana kita dekat dengan Tuhan?” Agama Buddha bertanya: “Bagaimana kita berhenti menderita?”
Keduanya adalah pertanyaan yang dalam dan serius. Hanya saja, jalannya berbeda. Buddhism bukan agama yang kosong atau gelap — ia penuh kebijaksanaan, hanya saja berjalan tanpa sosok Tuhan yang bisa diajak bicara.