Saat Kita Meminta Tuhan Menghapus Kejahatan, Siapkah Kita Jadi Korbannya?
PENDAHULUAN
Pernahkah Anda melihat berita tentang kejahatan yang begitu keji lalu berteriak dalam hati, “Tuhan, kalau Engkau memang ada dan baik, kenapa Engkau tidak hapus saja semua kejahatan di dunia ini sekarang juga?”
Itu adalah pertanyaan yang sangat manusiawi. Kita merasa dunia ini sudah terlalu rusak. Namun, seorang teolog bernama R.C. Sproul memberikan jawaban yang cukup menohok: “Mengapa Allah tidak menghapus semua kejahatan? Karena bila Allah menghapus semua kejahatan, kamu akan mati.”
Mari kita bedah pelan-pelan kenapa ucapan ini sangat penting bagi kita hari ini.
I.Siapa yang Kita Sebut “Jahat”?
1.Masalah utama kita saat berbicara tentang kejahatan adalah perspektif. Seringkali, saat kita membayangkan “kejahatan”, pikiran kita langsung tertuju pada koruptor, pembunuh, atau teroris. Kita menempatkan diri kita sebagai “orang baik” yang sedang menonton “orang jahat” dari kejauhan.
2.Namun, dalam kacamata teologis yang disebut Total Depravity (Kebejatan Total), standar “baik” itu bukan dibandingkan dengan tetangga kita, melainkan dengan kesucian Tuhan yang sempurna. Jika Tuhan menggunakan standar-Nya yang absolut untuk menyapu bersih kejahatan hari ini pukul 12 siang, apakah kita yakin kita akan tetap berdiri tegak? Atau jangan-jangan, bibit kebohongan kecil kita, rasa benci yang kita simpan diam-diam, dan keegoisan kita juga masuk dalam daftar “kejahatan” yang harus dihapus?
II.Keadilan yang Kita Takuti
1.Secara filosofis, kita sering menuntut Keadilan Retributif—yaitu hukuman yang setimpal bagi pelaku kejahatan. Kita ingin Tuhan bertindak sebagai hakim yang tegas. Tapi inilah ironinya: kita ingin Tuhan menjadi Hakim bagi orang lain, tapi ingin Dia menjadi Sahabat bagi kita.
2.Dr R.C. Sproul ingin mengingatkan bahwa keadilan Tuhan itu tidak pilih bulu. Jika Allah menghapus kejahatan secara total, Dia tidak hanya menghapus “perbuatannya”, tapi juga “pelakunya”. Karena setiap manusia pernah melakukan kesalahan, maka pembersihan total berarti pemusnahan massal. Di sinilah kita menyadari bahwa keberadaan kita saat ini bukanlah karena kita “cukup baik” untuk selamat, melainkan karena apa yang disebut sebagai Common Grace atau Anugerah Umum. Tuhan masih menahan diri agar kita punya kesempatan untuk berubah.
III.Masalah Kebebasan Kehendak
1.Ada konsep penting yang disebut Theodicy, yaitu upaya menjelaskan mengapa Tuhan yang baik mengizinkan adanya penderitaan. Salah satu penjelasannya berkaitan dengan kehendak bebas.
2.Jika Tuhan menghapus kemampuan kita untuk berbuat jahat secara otomatis, kita tidak lagi menjadi manusia, melainkan robot. Kejahatan adalah konsekuensi tragis dari kebebasan yang disalahgunakan. Jika Tuhan “menghapus” kemungkinan kita berbuat jahat, Dia juga menghapus kemanusiaan kita. Itulah mengapa Dr. Sproul mengatakan “kamu akan mati”—bukan hanya secara fisik, tapi kehilangan esensi diri sebagai makhluk yang bebas memilih.
IV.Menghadapi “Shadow” dalam Diri
1.Secara psikologis, ini mirip dengan apa yang disebut Carl Jung sebagai The Shadow (Sisi Bayangan). Kita semua punya sisi gelap yang seringkali kita sangkal. Saat kita menuntut Tuhan menghapus kejahatan di luar sana, kita seringkali sedang memproyeksikan “bayangan” kita sendiri ke orang lain.
2.Ucapan Teolog Dr Sproul memaksa kita untuk berhenti menunjuk orang lain dan mulai melihat ke dalam. Sebelum kita meminta Tuhan membersihkan dunia, sudahkah kita siap jika Dia mulai membersihkan hati kita sendiri? Seringkali, apa yang kita sebut sebagai “kesabaran Tuhan” sebenarnya adalah kesempatan bagi kita untuk berdamai dengan sisi gelap tersebut dan mencari pengampunan.
Kesimpulan: Syukur dalam Penundaan
Jadi, jawaban Sproul bukan bermaksud mengatakan bahwa Tuhan itu kejam. Justru sebaliknya, itu adalah pernyataan tentang betapa besarnya Patience of God (Kesabaran Allah).
Dunia memang masih penuh dengan kejahatan, dan itu menyakitkan. Namun, fakta bahwa dunia ini masih berputar dan kita masih bernapas adalah bukti bahwa Tuhan sedang memberi waktu. Dia tidak langsung menghapus kejahatan bukan karena Dia tidak mampu, tapi karena Dia lebih memilih untuk menyelamatkan manusia daripada sekadar memusnahkan masalahnya.
Lain kali kita merasa ingin protes pada Tuhan tentang kejahatan di dunia, mungkin kita perlu berbisik pelan, “Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak menghapus semuanya hari ini. Termasuk aku.”
Istilah Teknis untuk Pendalaman:
- Total Depravity: Doktrin bahwa dosa telah merusak setiap aspek keberadaan manusia.
- Common Grace: Anugerah Tuhan yang diberikan kepada semua orang tanpa memandang moralitasnya (seperti sinar matahari dan hujan).
- Theodicy: Cabang filsafat/teologi yang mempertahankan kebaikan Tuhan di tengah adanya kejahatan.
Keadilan Retributif: Teori keadilan yang menyatakan bahwa hukuman yang adil adalah respon terbaik terhadap kejahatan