Membaca Panggilan Romo Stefanus Fernandis Harsono, Pr
Pendahuluan: Sebuah Peristiwa yang Mengundang Pertanyaan
Pada 29 April 2026, Gereja Bunda Maria Dukuh Semar, Cirebon (dalam wilayah ke uskupan Bandung), menjadi saksi sebuah peristiwa yang tidak biasa. dr. Stefanus Fernandis Harsono, Sp.A, pada usia 46 tahun, ditahbiskan menjadi imam diosesan dengan nama Romo Stefanus Fernandis Harsono, Pr.
Seorang dokter spesialis anak—yang terbiasa dengan jas putih dan stetoskop—kini mengenakan stola. Perubahan ini memunculkan pertanyaan yang wajar: apakah ia menyia-nyiakan pengabdiannya sebagai dokter? Bukankah profesi dokter juga adalah pelayanan kepada Tuhan?
I.Bukan Pensiun, Melainkan Mutasi dalam Kerajaan Allah
Peristiwa ini bukanlah “pensiun dini” dari dunia medis, melainkan sebuah mutasi dalam Kerajaan Allah. Dalam Kisah Para Rasul 13:2, Tuhan berkata, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan.”
Tuhan yang memberi karunia sebagai dokter adalah Tuhan yang sama yang berhak mengalihkan panggilan. Dalam Alkitab, panggilan Tuhan sering datang tidak pada usia muda: Abraham dipanggil pada usia 75 tahun (Kej. 12:4), Musa pada usia 80 tahun (Kel. 7:7). Maka usia 46 bukanlah keterlambatan, melainkan waktu Tuhan—kairos (Pkh. 3:11).
II.Dokter dan Imam: Pertentangan yang Sebenarnya Tidak Ada
Sering kali kita membagi kehidupan menjadi dua kotak: “sekuler” dan “rohani”. Namun Alkitab tidak mengenal dikotomi ini.
Kolose 3:23 menegaskan bahwa apa pun yang kita lakukan harus dilakukan seperti untuk Tuhan. Selama lebih dari 20 tahun sebagai dokter anak, Romo Stefanus telah menjalankan panggilan ilahi: menenangkan anak yang sakit, memberi imunisasi, dan mendampingi keluarga.
Dalam tindakan-tindakan itu, ia telah menjadi seperti Orang Samaria yang baik hati (Luk. 10:33–34). Ia menjalankan imamat orang percaya (1 Ptr. 2:9). Maka, tidak ada satu pun dari masa lalunya yang sia-sia (1 Kor. 15:58).
III.Tahbisan: Penyempurnaan, Bukan Pembatalan
Tahbisan bukanlah penghapusan karunia lama, melainkan penyempurnaan.
Lukas tetap seorang tabib ketika menulis Injil (Kol. 4:14), dan ketelitiannya sebagai dokter terlihat dalam penulisan yang teratur (Luk. 1:3). Demikian pula, Romo Stefanus tidak kehilangan keahliannya dalam pediatri.
Kini ia menggembalakan umat dengan perspektif yang lebih utuh—menyentuh tubuh, jiwa, dan roh (1 Tes. 5:23). Seperti Paulus dalam Filipi 3:7–8, masa lalu bukan dianggap salah, tetapi dilampaui oleh panggilan yang lebih tinggi dalam Kristus.
IV.Logika Manusia vs Logika Kerajaan Allah
Secara manusiawi, kita mungkin berpikir: “Indonesia
kehilangan satu dokter anak. Bagaimana dengan ribuan pasien?”
Namun Kerajaan Allah tidak bekerja dengan logika matematika sederhana. 1 Korintus 3:7 menyatakan bahwa bukan manusia yang menentukan hasil, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. Tuhan mampu membangkitkan banyak dokter baru, tetapi mungkin Ia memanggil satu Romo Stefanus untuk tugas yang sangat spesifik.
Yesaya 55:11 mengingatkan bahwa firman Tuhan tidak akan kembali dengan sia-sia. Bahkan satu khotbah dapat menginspirasi panggilan-panggilan baru. Sebaliknya, yang berbahaya adalah menolak panggilan Tuhan demi pertimbangan pragmatis, seperti Yunus yang melarikan diri (Yun. 1:3).
V.Sintesis Teologis: Tuhan sebagai Subjek Utama
Dalam memahami panggilan, kita harus menempatkan Tuhan sebagai pusat.
Yakobus 1:17 menyatakan bahwa setiap pemberian yang baik berasal dari atas. Ayub 1:21 mengingatkan bahwa Tuhan memberi dan Tuhan juga mengambil. Jika kita terlalu fokus pada “dampak bagi manusia”, kita berisiko memindahkan pusat kemuliaan dari Tuhan kepada manusia (Yes. 42:8).
Pertanyaan yang benar
bukanlah “lebih berguna mana, dokter atau imam?”, melainkan seperti yang Yesus katakan dalam Yohanes 21:22: “Ikutlah Aku.”
Dan Romo Stefanus telah menjawab panggilan itu dengan ketaatan.
VI.Aplikasi Praktis: Belajar dari Altar Cirebon
Pertama, panggilan harus diuji, bukan didasarkan pada gengsi. Pada usia 46, di puncak karier medis, ia berani memulai kembali.
Kedua, kita perlu menghargai semua bentuk pelayanan. Tidak ada dikotomi antara “rohani” dan “sekuler”. Semua pekerjaan dapat menjadi ibadah (1 Kor. 7:20).
Ketiga, serahkan hasil kepada Tuhan. Mazmur 127:1 menegaskan bahwa tanpa Tuhan, semua usaha sia-sia.
Keempat, gereja membutuhkan pelayan yang memahami realitas hidup umat, termasuk kesehatan anak dan keluarga. Dalam konteks ini, panggilan Romo Stefanus menjadi sangat relevan (Mat. 9:37).
Penutup: Tidak Ada yang Sia-Sia di Tangan Tuhan
Romo Stefanus tidak menyia-nyiakan masa lalunya sebagai dokter. Ia menyerahkan semuanya kembali kepada Sang Pemberi.
Stetoskopnya mungkin kini tergantung, tetapi kepekaannya terhadap penderitaan justru semakin dalam. Tangan yang dahulu menyuntik vaksin kini memberkati umat.
Seperti yang dikatakan Yesus kepada Petrus (Yoh. 21:18), hidup dalam panggilan berarti menyerahkan kendali kepada Tuhan.
Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah apakah seseorang menjadi dokter atau imam. Yang terpenting adalah keberanian untuk berkata “ya” ketika Tuhan memanggil—bahkan pada usia 46 tahun.
Dan ketaatan seperti itu cukup untuk membuat surga bersukacita (Luk. 15:7).
Dari Cirebon, kita diingatkan: Tuhan belum selesai memanggil. Ladang-Nya masih luas, dan mimbar-Nya masih menunggu untuk diisi.
Ref.: Dokter Spesialis Anak Menjadi Imam