MENGENAL TUHAN YANG MAHA PENYAYANG

Seri Kasih yang Banyak Sisi (Bagian 1): Mengenal Tuhan yang Maha Penyayang

PENDAHULUAN

Selamat datang di bagian pertama dari seri esai blog kita. Di sini, kita akan berjalan bersama untuk menjelami keindahan hati Tuhan. Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, hakikat dasar Tuhan adalah Kasih. Kasih bukan sekadar sesuatu yang dilakukan-Nya sesekali, melainkan diri-Nya sendiri. Nah, karena diri-Nya adalah Kasih, maka saat bersentuhan dengan hidup kita yang penuh dinamika ini, Kasih itu memancar menjadi berbagai sifat yang sangat indah—seperti sepotong berlian murni yang memantulkan warna-warni berkilauan saat diterpa cahaya.

Sifat pancaran kasih Tuhan yang pertama dan paling sering kita rasakan adalah Penyayang (Compassionate / Merciful).

 

I.Pancaran Kasih Tuhan: Hati yang Tergerak

Apa artinya Tuhan itu Maha Penyayang? Sifat ini adalah bentuk nyata dari kasih Tuhan saat Ia melihat kelemahan, kesusahan, dan penderitaan kita sebagai manusia. Tuhan bukanlah sosok penguasa yang duduk jauh di atas awan, bersikap dingin, atau tidak peduli pada air mata kita.

Bayangkan seorang ibu yang sedang berada di dapur, lalu mendengar anak balitanya menangis tersedu-sedu karena terjatuh di ruang tengah. Sang ibu tidak akan tinggal diam atau menceramahi anaknya dari jauh. Ia akan segera mematikan kompor, berlari mendekat, berlutut, dan langsung memeluk anak itu erat-erat untuk menenangkannya.

Persis seperti itulah hati Tuhan. Ketika kita terpuruk, gagal, atau merasa remuk karena keadaan hidup, Tuhan tidak pernah menjauh. Kasih-Nya justru membuat-Nya melangkah mendekat untuk merangkul dan memulihkan jiwa kita.

 

II.Kontras dengan Manusia: Mengapa Kita Berbeda?

Sekarang, mari kita bercermin. Mengapa sifat penyayang pada manusia sering kali terasa sulit dan pasang surut? Jawabannya adalah karena hakikat manusia bukanlah kasih itu sendiri. Manusia adalah makhluk yang rapuh dan egois.

Ketika melihat orang lain susah atau menderita, reaksi pertama kita sebagai manusia sering kali adalah menghakimi terlebih dahulu (“Ah, itu pasti karena dia malas,” atau “Itu akibat kesalahannya sendiri”). Kita cenderung menjaga jarak dari orang-orang yang sedang kesulitan karena takut merepotkan diri sendiri atau takut ikut tertular kesusahan mereka. Sifat penyayang pada kita adalah sebuah perjuangan yang harus dilatih, bukan sesuatu yang otomatis keluar dengan murni.

 

III.Aplikasi Praktis: Menjawab Kasih Tuhan

Lalu, bagaimana kita mempraktikkan pengenalan ini dalam hidup sehari-hari? Ada dua arah yang bisa kita lakukan:

  1. Kepada Tuhan: Belajar Datang Apa Adanya

Banyak dari kita yang merasa enggan atau malu berdoa kepada Tuhan saat hidup kita sedang berantakan atau saat kita baru saja melakukan kesalahan. Kita merasa tidak layak.

  • Aksinya: Ubah cara pandang Anda. Karena Tuhan itu Penyayang, bicaralah kepada-Nya apa adanya di dalam doa Anda. Ceritakan rasa lelah Anda, akuilah kegagalan Anda tanpa ada yang ditutupi. Datanglah kepada-Nya seperti seorang anak yang berlari ke pelukan ibunya saat terluka.
  1. Kepada Sesama: Hadir Tanpa Menghakimi

Kita dipanggil untuk mengalirkan rasa sayang yang sudah kita terima dari Tuhan kepada orang-orang di sekitar kita.

  • Aksinya: Ketika ada teman, anggota keluarga, atau rekan kerja yang sedang tertimpa masalah atau membuat kesalahan, tahan lidah Anda untuk tidak mengkritik, menasihati secara berlebihan, atau menghakimi mereka. Cukup hadir di dekat mereka. Tawarkan bantuan nyata—misalnya mendengarkan keluh kesah mereka tanpa menyela, memberikan pelukan penguatan, atau membantu menyelesaikan tugas mereka yang terbengkalai. Menjadi penyayang berarti memilih untuk meringankan beban orang lain, bukan menambahnya.