BURUNG INGIN JADI ELANG?

Kitab Cermin: Ketika Burung Ingin Menjadi Elang

Leonardo da Vinci bukan hanya seorang pelukis dan ilmuwan. Ia juga meninggalkan sejumlah fabel pendek yang sederhana, tetapi menyimpan pengamatan tajam tentang manusia. Salah satu yang menarik adalah kisah tentang burung yang ingin menjadi elang. Cerita ini dapat dibaca sebagai sebuah cermin: kita melihat bukan terutama burung itu, melainkan diri kita sendiri.

 

I.Ketika Burung Tidak Puas Menjadi Dirinya

Dikisahkan seekor burung melihat seekor elang terbang tinggi di angkasa. Ia mengagumi kekuatan, kecepatan, dan kebebasan elang. Dalam hati ia berkata, alangkah indahnya kalau aku dapat terbang seperti dia.

Keinginan itu semakin kuat. Ia tidak lagi bersyukur dengan sayap yang dimilikinya. Ia ingin memiliki kekuatan, kemampuan, dan kemuliaan yang bukan menjadi bagiannya.

Di sinilah fabel itu menjadi cermin kehidupan manusia. Kita sering melihat keberhasilan orang lain, lalu mulai merasa bahwa kehidupan kita sendiri kurang berharga. Kita membandingkan pelayanan, keluarga, ekonomi, pendidikan, kesehatan, bahkan usia kita dengan orang lain.

Padahal, tidak semua yang kita kagumi memang harus menjadi milik kita.

 

II.Bahaya Membandingkan Diri

Pelajaran utama fabel ini adalah bahaya kehilangan diri karena ingin menjadi seperti orang lain.

Perbandingan sering dimulai secara sederhana: “Mengapa hidup saya tidak seperti dia?” Tetapi perlahan-lahan rasa syukur berubah menjadi ketidakpuasan. Kita mulai menganggap pemberian Tuhan kurang baik karena Tuhan memberikan sesuatu yang berbeda kepada orang lain.

Alkitab mengingatkan bahwa tubuh Kristus mempunyai banyak anggota dengan fungsi yang berbeda (1 Korintus 12:12–27). Mata tidak perlu menjadi tangan. Tangan tidak perlu menjadi kaki. Nilai seseorang tidak ditentukan oleh kemiripannya dengan orang lain, melainkan oleh kesetiaannya menjalankan panggilan Tuhan.

Burung itu tidak dipanggil menjadi elang. Ia dipanggil menjadi burung.

Demikian juga kita. Panggilan Tuhan bukanlah menjadi orang lain, melainkan menjadi pribadi yang Tuhan kehendaki.

 

III. Cermin bagi Kehidupan Kita

Ada masa ketika kita melihat kehidupan orang lain dan berkata, “Seandainya saya seperti dia.” Seandainya pelayanan saya sebesar dia. Seandainya keluarga saya seperti keluarganya. Seandainya saya masih muda. Seandainya kesehatan saya seperti dahulu.

Keinginan semacam itu dapat membuat kita gagal melihat kasih karunia yang masih Tuhan berikan hari ini.

Paulus berkata, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu” (2 Korintus 12:9). Cukup bukan berarti semua keadaan menjadi ideal. Cukup berarti Kristus tetap hadir di tengah keadaan yang tidak ideal.

Bagi pembaca yang sedang memasuki masa tua, menghadapi keterbatasan, atau merasa hidupnya tidak lagi sehebat dahulu, pesan ini sangat penting: jangan mengukur nilai hidup berdasarkan apa yang sudah tidak dapat kita lakukan. Lihatlah apa yang masih dapat kita lakukan bagi Tuhan.

Doa yang sederhana, kata-kata penghiburan, kesetiaan dalam keluarga, kesaksian hidup, dan perhatian kepada sesama mungkin tampak kecil. Namun di tangan Tuhan, semuanya mempunyai arti.

 

IV.Pegangan Pastoral: Jadilah Diri yang Tuhan Percayakan

Fabel Leonardo da Vinci mengajak kita berhenti sejenak di depan “cermin”. Jangan bertanya terus-menerus, “Mengapa saya tidak seperti orang lain?” Lebih baik bertanya, “Tuhan, dengan kehidupan yang Engkau berikan kepada saya sekarang, apa yang masih dapat saya lakukan bagi-Mu?”

Kita tidak perlu menjadi elang untuk hidup bermakna. Burung kecil pun mempunyai tempat dalam ciptaan Tuhan.

Demikian pula kita. Tidak semua orang dipanggil menjadi besar di mata manusia. Tetapi setiap orang percaya dipanggil untuk setia di hadapan Tuhan.

Mungkin hidup kita tidak seperti yang dahulu kita bayangkan. Namun selama Kristus masih menjadi Tuhan kita, hidup ini belum kehilangan tujuan.

Jangan habiskan sisa hidup dengan iri melihat sayap orang lain. Syukurilah sayap yang Tuhan berikan, dan terbanglah sejauh yang Tuhan kehendaki.