CONTOH HUBUNGAN TRANSAKSIONAL DI ALKITAB

Tulisan HS  alumnus STT DW di group alumni

Dapat dibaca sebagai suplemen thd artikel  ROTI HIDUP sebelumnya yang berjudul ;KASIH KARUNIA ATAU JUAL BELI ?

Di KISAH RASUL 8:18-19

1   Kisah 8:18-19, Ketika Simon melihat bahwa Roh itu diberikan melalui penumpangan tangan rasul-rasul itu, ia menawarkan uang kepada mereka, serta berkata, “Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia menerima Roh Kudus.”  Ini contoh sikap traksaksional yang sangat jelas: talenta dan berkat Tuhan ditukar dengan uang. 

2   Ayat 10, Tetapi Petrus berkata kepadanya: “Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang!”  Sikap transaksional seperti itu dipandang sebagai kejahatan terhadap Tuhan.

DI PERJANJIAN LAMA 

3   Sikap transaksional terkandung juga dalam tindakan “bernazar”.  Orang yang bernazar menjanjikan sesuatu sebagai balasan kepada Tuhan apabila doanya dikabulkan. Ulangan 23:21, Pengkhotbah 5:3-5 dan Bilangan 30:2 mengingatkan agar orang yang bernazar tidak menunda-nunda untuk membayar nazarnya supaya tidak berdosa kepada Tuhan. 

4   Contoh nazar dalam alkitab: nazar Yakub (Kejadian 28), nazar Yefta (Hakim-hakim 11) dan nazar Hana (1 Samuel 1).  Pendapat saya: kita sebaiknya jangan bernazar, karena tindakan transaksional seperti itu menurunkan kehormatan Allah. TUHAN tidak dapat dimotivasi dengan imbalan apapun untuk pengabulan doa kita.

 

NAZAR YEFTA

 Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran.” (Hakim 11:30)

 1   Sungguh menggelegar nazar Yefta itu! Sebenarnya tidak perlu mengucapkan nazar yang demikian karena Allah tidak bisa dimotivasi dengan imbalan apapun untuk mengabulkan doa. Nazar adalah tindakan yang memandang  TUHAN serupa dengan illah-illah lain yang bisa dibujuk dan disuap.

 2   Bangsa-bangsa primitif mempersembahkan manusia sebagai korban bakaran demi melunakkan hati illah mereka. Tetapi TUHAN secara tegas melarang bangsa Israel untuk melakukan hal yang keji tersebut (Imamat 18:21). Nazar Yefta mengikuti tradisi primitif itu dan mengabaikan perintah TUHAN.

 3   Nazar Yefta adalah tindakan arogan terhadap TUHAN. Bagaimana perasaan TUHAN ketika mendengar Nazar yang melecehkan perintah-Nya itu? Tentulah Ia tidak berkenan. Nazar itu juga sangat sembrono. Kambing kurbankah yang akan menyambutnya ketika ia kembali ke rumahnya?

 4   Ketika anak perempuannya keluar menyambutnya, Kondisinya menjadi dilematis. Jika ia merealisasikan nazarnya itu, maka ia akan melanggar larangan TUHAN. Imamat 18:21 berkata, “Janganlah kauserahkan seorang dari anak-anakmu untuk dipersembahkan kepada Molokh, supaya jangan engkau melanggar kekudusan nama Allahmu.” Tetapi setiap nazar harus dipenuhi supaya tidak menjadi dosa. (Ulangan 23:21)

 5   Yefta memang seorang kepala perampok yang kejam (Hakim 11:3). Tetapi ia mencintai anaknya. Nampaknya ia tidak jadi mempersembahkannya sebagai kurban bakaran, hanya membuatnya hidup tidak bernikah saja. Alternatif yang baik, namun bagaimanapun ia sudah mengingkari nazarnya sendiri.

 6   Sekarang sebaiknya kita tidak lagi bernazar, karena nazar adalah perwujudan dari sikap dagang dengan  Allah. Apapun yang kita lakukan bagi-Nya, biarlah kita lakukan dengan rasa syukur karena Ia sudah melakukan yang terbaik bagi kita: mengorbankan Anak-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus, untuk menyelamatkan kita. (HS)

 

KOMENTAR DARI ROTI HIDUP

Artikel ini menyajikan refleksi teologis yang tajam tentang bahaya pendekatan transaksional dalam relasi dengan Tuhan.

I.Kekuatan artikel:

  • Argumen alkitabiah kuat: Kasus Simon dalam Kisah Para Rasul 8 menunjukkan penolakan tegas terhadap upaya “membeli” berkat rohani. Respons keras Petrus menegaskan bahwa karunia Allah tidak dapat ditransaksikan.
  • Analisis berani: Penulis mengkritisi praktik bernazar yang populer, mempertanyakan apakah ini mencerminkan relasi yang sehat dengan Allah atau justru sikap transaksional terselubung.
  • Konsistensi teologis: Referensi dari Ulangan, Pengkhotbah, dan Bilangan memperkuat bahwa meski nazar dikenal dalam Alkitab, ada kekhawatiran serius tentang motivasi di baliknya.

II.Nilai positif: Artikel ini mengingatkan kita untuk mendekati Tuhan dengan kerendahan hati yang tulus, bukan dengan mentalitas “give and take”. Ini mengajak kita pada spiritualitas yang lebih matang—di mana kita mengasihi dan menaati Tuhan bukan karena mengharapkan balasan, melainkan karena Dia layak untuk dimuliakan dan karena Dia terlebih dahulu telah menyatakan anugerahNya didalam Yesus Kristus,

Refleksi yang menantang sekaligus membangun!