DOA BAGI PASIEN KANKER

Doa bagi Pasien Kanker: Perbandingan Perspektif Reformed dan Pentakosta-Karismatik

I. Titik Berangkat yang Berbeda

Ketika seorang pasien kanker didoakan, tampak seperti tindakan yang sama—doa dipanjatkan, tangan mungkin diletakkan, harapan disampaikan. Namun di balik tindakan yang serupa itu, terdapat dua kerangka teologis yang berbeda secara mendasar: tradisi Reformed dan tradisi Pentakosta-Karismatik. Perbedaan ini bukan sekadar soal gaya atau emosi, melainkan berakar pada ontologi (pemahaman tentang hakikat penyakit dan kuasa Allah) serta epistemologi (bagaimana kita mengetahui kehendak Allah) yang berbeda.

II. Perbedaan Ontologis: Hakikat Penyakit dan Kuasa Allah

Dalam pandangan Reformed, penyakit—termasuk kanker—dipahami dalam kerangka providensia Allah yang berdaulat atas seluruh ciptaan, termasuk dunia yang telah jatuh dalam dosa. Sakit-penyakit adalah bagian dari realitas dunia yang belum disempurnakan (already but not yet), dan kesembuhan, bila terjadi, adalah anugerah dari Allah yang berdaulat, bukan hasil otomatis dari doa yang “benar.” Allah bisa menyembuhkan, tetapi Ia juga bisa memilih untuk menyertai seseorang melalui penderitaan demi maksud yang lebih besar (bdk. 2 Korintus 12:7-9, tentang “duri dalam daging” Paulus yang tidak diangkat).

Dalam pandangan Pentakosta-Karismatik, penekanan ontologisnya berbeda: kesembuhan sering dipahami sebagai bagian dari penebusan yang sudah tersedia di kayu salib (bdk. Yesaya 53:5, “oleh bilur-bilur-Nya kita sembuh”), sehingga sakit-penyakit dilihat lebih sebagai serangan kuasa kegelapan yang harus dilawan dengan iman dan otoritas rohani. Kesembuhan dipandang sebagai hak yang telah dijamin dalam penebusan, yang tinggal “diklaim” melalui doa dan iman yang cukup.

III. Perbedaan Epistemologis: Bagaimana Kita Mengetahui Kehendak Allah

Perbedaan ontologis ini melahirkan perbedaan epistemologis. Tradisi Reformed cenderung menekankan bahwa kehendak Allah yang spesifik dalam suatu kasus (apakah seseorang akan sembuh atau tidak) tidak dapat diketahui sebelumnya melalui perasaan atau nubuatan pribadi, melainkan hanya diketahui sesudah kejadian terjadi—melalui providensia-Nya yang tersingkap dalam sejarah. Karena itu doa Reformed cenderung berbentuk permohonan yang tunduk pada kehendak Allah: “Jikalau Engkau mau” (bdk. doa Yesus di Getsemani, Matius 26:39), disertai penyerahan diri sepenuhnya.

Tradisi Pentakosta-Karismatik cenderung menekankan epistemologi pengalaman langsung: melalui karunia-karunia Roh seperti nubuatan, perkataan hikmat, atau “urapan” khusus, seseorang dapat mengetahui bahwa kesembuhan adalah kehendak Allah bagi kasus tertentu, sehingga doa dipanjatkan dengan keyakinan penuh dan otoritas—bukan sebagai permohonan yang ragu, melainkan sebagai perintah iman yang menyatakan kesembuhan itu terjadi.

IV. Implikasi bagi Bentuk dan Isi Doa

Perbedaan ini menghasilkan bentuk doa yang berbeda secara nyata. Doa Reformed bagi pasien kanker umumnya berisi permohonan akan kekuatan, penghiburan, kesabaran, dan kesembuhan bila itu kehendak Allah, disertai pengakuan bahwa Allah tetap baik sekalipun kesembuhan tidak terjadi—doa ini menyiapkan hati untuk menerima kedua kemungkinan.

Doa Pentakosta-Karismatik cenderung berbentuk deklaratif dan penuh keyakinan, sering menyertakan penumpangan tangan, “mematahkan” kuasa penyakit dalam nama Yesus, dan menyatakan kesembuhan sebagai fakta iman yang sedang terwujud, bukan sekadar harapan.

V. Menyikapi dengan Kerendahan Hati

Kedua tradisi ini sama-sama lahir dari kerinduan tulus untuk melihat Allah bekerja dan pasien dipulihkan. Tidak ada tradisi yang memonopoli kasih Allah kepada orang sakit. Yang penting bagi jemaat dan pendeta adalah memahami akar teologis di balik cara berdoa masing-masing tradisi, sehingga tidak terjadi penghakiman sepihak—baik menuduh yang satu “kurang iman” maupun menuduh yang lain “gegabah secara teologis.”

Pesan Pastoral

Bagi siapa pun yang sedang mendampingi pasien kanker: berdoalah dengan iman yang sungguh-sungguh, namun juga dengan hati yang tunduk pada kedaulatan Allah. Doa yang berkuasa bukanlah doa yang memaksa Allah tunduk pada kehendak kita, melainkan doa yang membawa kita—dan pasien yang kita doakan—semakin dekat kepada hati Allah, apa pun hasil akhirnya. Dalam sukacita maupun dalam air mata, Allah tetap setia, dan Ia menyertai umat-Nya sampai kesudahan zaman.