Polemik Luther dan Erasmus tentang Kehendak Bebas
PENDAHULUAN
Salah satu perdebatan teologis paling penting dalam sejarah Reformasi adalah perselisihan antara Martin Luther dan Desiderius Erasmus tentang kehendak bebas manusia. Perdebatan ini terjadi pada tahun 1520-an dan menghasilkan dua karya penting yang saling berseberangan.
I.Latar Belakang Perdebatan
Erasmus adalah humanis Katolik yang awalnya mendukung reformasi gereja, tetapi tidak seradikal Luther. Ia percaya pada pendekatan moderat dan dialog. Luther, sebaliknya, adalah reformator yang tegas menentang ajaran Gereja Katolik tentang keselamatan melalui perbuatan baik.
II.Pandangan Erasmus: “De Libero Arbitrio” (1524)
Erasmus menulis buku berjudul “Mengenai Kehendak Bebas” (De Libero Arbitrio). Ia berargumen bahwa:
.Manusia memiliki kehendak bebas untuk bekerja sama dengan anugerah Allah dalam keselamatan. Meskipun manusia membutuhkan pertolongan Allah, mereka tetap punya peran aktif dalam memilih kebaikan atau kejahatan.
Erasmus menggunakan banyak ayat Alkitab yang menunjukkan perintah Allah kepada manusia (seperti “pilihlah kehidupan”), yang menurutnya tidak masuk akal jika manusia tidak punya kemampuan memilih.
Ia takut bahwa jika kehendak bebas dihapuskan, manusia akan menjadi malas dalam kehidupan rohani dan menganggap dosa sebagai takdir Allah.
III.Pandangan Luther: “De Servo Arbitrio” (1525)
Luther merespons dengan keras melalui bukunya “Mengenai Perbudakan Kehendak” (De Servo Arbitrio). Ia menyatakan:
Kehendak manusia adalah budak dosa setelah kejatuhan Adam. Manusia yang belum dilahirkan kembali tidak bisa memilih Allah atau kebaikan rohani tanpa campur tangan Allah terlebih dahulu.
Luther menekankan bahwa keselamatan 100% adalah karya Allah melalui anugerah-Nya. Jika manusia bisa berkontribusi sedikit pun, maka keselamatan bukan lagi anugerah murni tetapi hasil usaha manusia.
Ia berargumen bahwa kehendak manusia memang bebas dalam hal-hal duniawi (seperti memilih pekerjaan), tetapi dalam hal keselamatan, kehendak manusia sepenuhnya tergantung pada Allah yang berdaulat.
IV.Inti Perselisihan
Perdebatan ini sebenarnya tentang: Siapa yang berhak mendapat pujian atas keselamatan?
- Erasmus: Allah dan manusia bekerja sama. Manusia harus merespons anugerah Allah.
- Luther: Allah saja yang berdaulat penuh. Manusia tidak bisa berbuat apa-apa untuk keselamatannya.
V.Dampak Perdebatan
Perselisihan ini memecah hubungan antara humanisme Kristen dan Reformasi Protestan. Erasmus tetap dalam Gereja Katolik, sementara Luther semakin teguh dalam keyakinan Reformasinya.
Perdebatan ini juga membentuk doktrin Protestan tentang sola gratia (hanya anugerah) dan sola fide (hanya iman), yang menjadi pilar teologi Reformed hingga hari ini.
Bagi jemaat awam, perdebatan ini mengingatkan kita: keselamatan adalah anugerah Allah yang harus kita terima dengan rendah hati, sambil tetap hidup bertanggung jawab dalam iman.