KEHENDAK BEBAS: JOHN CALVIN DAN SAM HARRIS

Rebutan Kemudi Hidup — Renungan Singkat

Pendahuluan

Pernahkah Anda bertanya-tanya di pagi hari: apakah Anda benar-benar bebas memilih, atau ada kekuatan lain yang telah mengaturnya sejak awal? Pertanyaan tentang kehendak bebas ini telah menggelisahkan para pemikir selama berabad-abad. Bayangkan sebuah ruang tunggu imajiner, tempat John Calvin—reformator abad ke-16—dan Sam Harris—ilmuwan saraf masa kini—duduk bersama untuk membahasnya. Meski yang satu berbicara tentang Tuhan dan yang lain tentang otak, keduanya sampai pada kesimpulan yang sama: manusia tidak sebebas yang ia duga.

 

I.Dua Tokoh, Satu Kesimpulan

Bagi Calvin, segala sesuatu di alam semesta—sekecil apa pun—telah ditetapkan oleh rencana kekal Tuhan sejak sebelum dunia dijadikan. Setiap pilihan yang Anda ambil terjadi karena kedaulatan Allah yang mengarahkannya demi rencana-Nya yang besar. Jika manusia dapat bertindak di luar rencana itu, kata Calvin, maka Tuhan bukan lagi penguasa mutlak atas ciptaan-Nya.

Sam Harris tiba pada kesimpulan serupa dari arah yang berlawanan. Ia berargumen bahwa keputusan kita sesungguhnya digerakkan oleh susunan saraf, kode genetik, pengalaman masa kecil, dan hukum alam. Riset neurosains bahkan menunjukkan otak sudah “memutuskan” sepersekian detik sebelum kesadaran kita menyadarinya. Karena kita tidak memilih gen atau cara kerja otak kita sendiri, Harris menyimpulkan bahwa kehendak bebas hanyalah ilusi.

Di titik inilah keduanya, tanpa saling mengenal, sama-sama melepaskan “kemudi” dari tangan manusia—Calvin menyerahkannya kepada kedaulatan kasih Allah, Harris menyerahkannya kepada hukum alam dan biologi. Keduanya sepakat: manusia tidak benar-benar memegang kendali penuh atas takdirnya.

 

II.Mengapa Kita Merasa Bebas?

Jika kemudi hidup bukan di tangan kita, mengapa kita tetap merasa bebas memilih setiap hari? Jawabannya sederhana: kita tidak dapat melihat proses di balik layar—baik cara Tuhan merajut takdir (menurut Calvin), maupun miliaran sinyal saraf yang bekerja di kepala kita (menurut Harris). Karena prosesnya tersembunyi, kita mengira diri kitalah penentu utamanya.

Di sinilah kedua tokoh mulai berbeda jalan. Bagi Harris, karena kehendak bebas hanya ilusi, konsep hukuman dan balas dendam seharusnya diganti dengan sistem perbaikan sosial yang lebih rasional. Namun bagi Calvin, meskipun Allah berdaulat penuh, manusia tetap bertanggung jawab atas pilihannya yang salah—sebab dosa dilakukan secara sukarela, didorong oleh hati yang sudah tercemar keegoisan, bukan karena paksaan dari luar.

Perbedaan ini membawa dampak besar bagi makna hidup. Pandangan Harris cenderung mereduksi manusia menjadi robot biologis tanpa arah spiritual. Sebaliknya, pandangan Calvin justru memberi kelegaan: ketidakberdayaan kita bukan tanda ketiadaan makna, melainkan tanda bahwa kita sedang dituntun oleh tangan yang jauh lebih bijaksana daripada nalar kita.

 

III.Kedamaian di Tengah Ketidakpastian

Mendengar perdebatan antara takdir ilahi dan determinisme sains ini bisa membuat kita merasa kecil dan tak berdaya. Namun di sinilah iman Kristiani yang berakar pada teologi Reformed menawarkan jawaban yang menenangkan.

Kita bukan robot mekanis yang digerakkan alam tanpa tujuan, sebagaimana diandaikan sains sekuler. Sebaliknya, ketidakmampuan kita mengendalikan hidup sendiri adalah anugerah: kemudi hidup kita berada di tangan Yesus Kristus, Sang Raja Damai, yang memegang kendali bukan untuk menindas, melainkan untuk menuntun kita pada kebaikan.

Kita pun tidak perlu terbebani menjadi “tuhan” atas hidup sendiri, tidak perlu cemas menebak setiap detail masa depan. Tugas kita hanyalah melangkah setia dan taat hari demi hari, mempercayakan bagian yang tidak kita pahami kepada rencana Allah yang berdaulat. Pada akhirnya, keterbatasan kehendak kita di dunia yang rusak ini akan dipulihkan sepenuhnya dalam pengharapan eskatologis akan Langit Baru dan Bumi Baru—tempat kehendak manusia diselaraskan sempurna dengan kehendak Allah, tanpa air mata maupun konflik lagi.

 

IV.Pegangan Pastoral

Saudara-saudari yang kekasih, ketika beban hidup terasa terlalu berat untuk dipikul dan dikendalikan sendiri, lepaskanlah ambisi untuk mengontrol segala hal. Jangan biarkan dirimu dicemaskan oleh analisis dunia yang dingin, atau oleh keputusasaan bahwa hidupmu tidak berarti.

Alkitab mengingatkan bahwa rambut di kepala Anda pun telah terhitung oleh Bapa Surgawi. Ketika tangan Anda terasa terlalu kecil untuk memegang kemudi kehidupan, ingatlah bahwa ada Tangan yang jauh lebih besar—penuh bekas paku tanda kasih—yang sedang memeluk dan menuntun langkah Anda. Latihlah hati untuk bersyukur, setialah melakukan bagian terbaik hari ini, dan sandarkanlah segala kekhawatiran kepada Kristus yang kedaulatan-Nya mendatangkan damai sejahtera. Amin.