Renungan 6: Keheningan yang Kudus
1 Raja-raja 19:12
“Dan setelah gempa bumi itu datanglah api. Tetapi TUHAN tidak ada dalam api itu. Dan setelah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa. Dan TUHAN ada dalam bunyi angin itu.”
Dunia digital tidak pernah sepi. Notifikasi tanpa henti, berita viral yang memancing emosi, narasi politik yang memecah belah. Kita kehilangan kemampuan untuk diam, untuk mendengar suara yang lembut dan halus.
Seperti Elia yang menemukan Tuhan bukan dalam gempa, angin kencang, atau api, tetapi dalam “bunyi angin sepoi-sepoi basa”—bisikan lembut yang hampir tak terdengar. Begitu pula kita perlu menemukan keheningan yang kudus di tengah kebisingan zaman.
Keheningan bukan kekosongan, melainkan ruang di mana jiwa bisa bernapas. Di sana kita belajar membedakan suara Tuhan dari trending topic, firman-Nya dari opini netizen.
Mari kembali pada keheningan yang kudus. Matikan notifikasi, diamkan hati, dengarkan Dia yang tetap berdaulat ketika dunia terasa kacau balau.
CATATAN:
Renungan Harian Ini terhubung dengan Renungan Mingggu Roti Hidup 24 Agustus 2025 yang berjudul :MELEPASKAN SIKAP “BERHAK” DI ERA DIGITAL