Mengejar Kekudusan: Perspektif Teologi Puritan vs. Pelagianisme
I.Dilema Istilah: Mengejar dari Titik Nol?
Dalam tradisi teologi Kristen, dikotomi antara istilah mengejar atau mengamalkan kekudusan (holiness) memegang peranan krusial untuk memahami dinamika kehidupan rohani orang beriman. Secara permukaan, penggunaan kata “mengejar” sering kali disalahartikan sebagai sebuah usaha manusia yang bertolak dari titik nol—sebuah perjuangan moral yang berangkat dari kekosongan untuk meraih kelayakan di hadapan Allah.
Pemahaman “mengejar dari titik nol” ini sesungguhnya lebih mencerminkan ajaran Pelagianisme, sebuah pemikiran abad ke-5 yang digagas oleh Pelagius. Pelagianisme memandang bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan netral tanpa kecacatan dosa asal (original sin). Dalam kerangka ini, mengejar kekudusan benar-benar dimulai dari titik nol: manusia mengandalkan kehendak bebas dan kemampuan moral alaminya sendiri untuk menaati hukum Allah agar layak menerima keselamatan. Keselamatan dan kekudusan dalam Pelagianisme adalah pencapaian (achievement) moral murni manusia, bukan pemberian rahmat.
II.Fondasi Teologi Puritan: Titik Start Adalah Pengudusan Definitif
Sebaliknya, dalam kerangka berpikir para teolog Puritan abad ke-17 seperti John Owen, Richard Baxter, dan Thomas Watson, istilah “Mengejar Kekudusan” (The Pursuit of Holiness) dipahami secara bertolak belakang dari Pelagianisme. Penggunaan istilah “mengejar” oleh kaum Puritan dipijakkan langsung pada bahasa Kitab Suci (seperti Ibrani 12:14 dan Filipi 3:12-14), namun dengan fondasi bahwa titik start dalam mengejar kekudusan sama sekali bukanlah titik nol. Seseorang tidak mungkin, dan tidak akan pernah sanggup, mengejar kekudusan jika ia belum terlebih dahulu dikuduskan dan dibenarkan di dalam Yesus Kristus.
Secara doktrinal, Puritan membedakan kekudusan ke dalam dua tahapan yang saling berurutan:
A.Pengudusan Definitif (Definitive Sanctification): Ini adalah titik start kehidupan beriman, bukan titik nol. Ketika seseorang dibenarkan (justified) oleh iman melalui anugerah Allah (Sola Gratia), status hukumnya seketika diubahkan. Kuasa perhambaan dosa dipatahkan, dan ia dimeteraikan sebagai “orang kudus” (saint) di dalam Kristus.
B.Pengudusan Progresif (Progressive Sanctification): Berangkat dari status baru yang sudah pasti tersebut, orang percaya dipanggil untuk “mengejar” kekudusan praktis sepanjang hidupnya. Proses ini melibatkan pertumbuhan bertahap dalam mematikan keinginan daging (mortification of sin) dan menghidupkan manusia baru di dalam Kristus (vivification).
III. Mengapa “Mengejar” Lebih Tepat daripada “Mengamalkan”?
Istilah “mengamalkan kekudusan” jarang digunakan dalam tradisi Reformed-Puritan karena kata tersebut cenderung membawa konotasi pelaksanaan tugas, kewajiban formal, atau ritus moral yang statis. Bagi Puritan, kehidupan Kristiani bukanlah sekadar penerapan amalan moral, melainkan suatu peperangan rohani yang intensif (spiritual warfare). Kata “mengejar” dianggap lebih tepat karena berhasil menangkap elemen kehausan batin, kegigihan, kesungguhan, dan fokus yang dinamis dari jiwa yang telah diperbaharui oleh Roh Kudus.
Kesimpulan
Dengan demikian, mengejar kekudusan dalam teologi Puritan bukanlah perjuangan Pelagian untuk membeli keselamatan dari titik nol, melainkan respons kasih dan syukur atas keselamatan yang telah selesai dikerjakan oleh Allah Tritunggal. Orang percaya tidak mengejar kekudusan supaya diterima oleh Allah, melainkan mengejar kekudusan karena ia telah diterima, diadopsi, dan dimampukan oleh Roh Kudus yang berdiam di dalam dirinya.