KERAKUSAN ONTOLOGIS

 KETIKA MANUSIA TIDAK PUAS MENJADI CIPTAAN

 

I.Bukan Sekadar Ingin Memiliki Lebih Banyak

Kita biasanya memahami kerakusan sebagai keinginan memiliki lebih banyak: lebih banyak uang, makanan, rumah, jabatan, kekuasaan, atau barang. Tetapi ada bentuk kerakusan yang jauh lebih dalam. Saya menyebutnya “kerakusan ontologis” (ontological greed).

Istilah ontologis berasal dari ontology, yaitu cabang filsafat yang membicarakan hakikat keberadaan: Apa artinya menjadi manusia? Siapakah saya? Apa batas keberadaan saya?

Karena itu, kerakusan ontologis bukan sekadar keinginan untuk memiliki lebih banyak, tetapi keinginan untuk menjadi lebih daripada diri kita sebagai manusia.

Manusia berkata dalam hatinya: “Saya tidak cukup hanya menjadi manusia yang terbatas. Saya ingin lebih kuat, lebih hebat, lebih berkuasa, lebih sempurna, bahkan kalau mungkin tidak lagi dibatasi oleh kematian.”

Di sinilah persoalannya menjadi sangat dalam. Yang dipersoalkan bukan lagi barang yang kita miliki, melainkan ketidakpuasan terhadap kondisi kita sebagai makhluk ciptaan.

II.Akar Kerakusan Ontologis: “Kamu Akan Menjadi Seperti Allah”

Gagasan ini mempunyai akar yang sangat tua. Dalam Kejadian 3:5, ular berkata kepada manusia: “Kamu akan menjadi seperti Allah.”

Dosa pertama manusia dapat dilihat bukan hanya sebagai pelanggaran terhadap sebuah perintah. Di baliknya terdapat sebuah keinginan: manusia tidak mau menerima dirinya sebagai makhluk yang bergantung kepada Allah.

Manusia ingin menentukan sendiri apa yang baik dan jahat. Ia tidak lagi mau menerima posisi sebagai creature, ciptaan. Ia ingin menjadi pusat bagi dirinya sendiri.

Dalam perspektif Reformed, di sinilah kita melihat kedalaman human depravity—kerusakan manusia akibat dosa. Manusia tidak hanya melakukan dosa; arah hatinya telah berbalik dari Allah kepada dirinya sendiri.

Kerakusan ontologis dengan demikian dapat dirumuskan sebagai hasrat manusia untuk melampaui batas yang diberikan Allah kepada keberadaannya.

III. Dari Konsumerisme sampai Narsisisme

Kerakusan ontologis tidak selalu tampak dalam bentuk yang spektakuler. Ia dapat muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Konsumerisme berkata, “Kalau saya mempunyai lebih banyak, saya akan merasa lebih berharga.”

Narsisisme berkata, “Kalau orang lain mengagumi saya, saya akan merasa bahwa keberadaan saya penting.”

Pengejaran kekuasaan berkata, “Kalau saya dapat mengendalikan orang lain, saya akan merasa kuat.”

Bahkan obsesi terhadap popularitas dapat mempunyai akar yang sama: “Saya ingin dikenal supaya keberadaan saya terasa berarti.”

Dengan demikian, masalahnya bukan semata-mata berapa banyak yang kita miliki, tetapi mengapa kita membutuhkan semuanya itu untuk merasa bahwa diri kita cukup.

Barang, uang, jabatan, kecantikan, kepandaian, bahkan prestasi dapat berubah menjadi alat untuk membangun identitas.

Kita tidak lagi berkata, “Saya memiliki sesuatu,” tetapi secara diam-diam menjadi, “Karena saya memiliki sesuatu, maka saya adalah seseorang.”

IV.Kerakusan Ontologis dan Teknologi Modern

Pada zaman modern, kerakusan ontologis memperoleh bentuk baru melalui perkembangan teknologi.

Teknologi pada dirinya sendiri bukan dosa. Penemuan medis, komputer, kecerdasan buatan, dan berbagai teknologi lainnya dapat menjadi berkat yang luar biasa.

Namun muncul pertanyaan yang lebih mendasar ketika manusia mulai berkata: Bagaimana kalau keterbatasan manusia dapat dihapus seluruhnya?

Di sinilah kita bertemu dengan transhumanism. Salah satu gagasan transhumanisme adalah bahwa manusia dapat menggunakan teknologi untuk meningkatkan kemampuan tubuh dan pikirannya, memperpanjang kehidupan, bahkan pada akhirnya mengatasi sebagian keterbatasan biologis manusia.

Pertanyaan teologisnya bukan apakah teknologi boleh dikembangkan. Pertanyaannya adalah:

Apakah manusia sedang berusaha menyembuhkan penderitaan, atau sedang berusaha melarikan diri dari kenyataan bahwa dirinya adalah ciptaan yang terbatas?

Perbedaannya sangat penting.

Mengobati penyakit adalah tindakan belas kasih. Tetapi keinginan untuk menghapus seluruh keterbatasan manusia karena kita tidak mau menerima bahwa kita adalah makhluk fana dapat menjadi bentuk baru dari kerakusan ontologis.

V.Nietzsche dan Keinginan Melampaui Manusia

Di sini pemikiran Friedrich Nietzsche menjadi menarik. Nietzsche berbicara tentang Übermensch, manusia yang melampaui bentuk manusia yang ada sekarang.

Kita tidak perlu menyamakan Nietzsche dengan transhumanisme modern. Keduanya mempunyai konteks yang berbeda. Namun terdapat sebuah pertanyaan yang sama: Apakah manusia harus menerima dirinya sebagaimana adanya, atau harus menciptakan bentuk keberadaan yang lebih tinggi?

Dalam perspektif Kristen, jawabannya sangat berbeda.

Alkitab tidak mengajarkan bahwa manusia harus menemukan keselamatan dengan melampaui dirinya sendiri. Keselamatan datang ketika manusia diperdamaikan dengan Allah melalui Kristus.

Manusia tidak menjadi “lebih ilahi” dengan merebut posisi Allah. Ia justru menemukan kemanusiaannya yang benar ketika kembali hidup dalam relasi yang benar dengan Penciptanya.

VI.Kontras Kristus: Dari “Menjadi Seperti Allah” kepada “Mengosongkan Diri”

Kontras paling indah terhadap kerakusan ontologis terdapat dalam Filipi 2:6–8.

Adam menginginkan apa yang bukan haknya. Kristus, yang “dalam rupa Allah,” justru mengambil rupa seorang hamba dan merendahkan diri.

Di sinilah Injil membalik logika kerakusan ontologis.

Kerakusan berkata:

“Saya harus naik supaya menjadi besar.”

Kristus menunjukkan:

“Kasih bersedia turun untuk melayani.”

Kerakusan berkata:

“Saya harus menjadi lebih supaya bernilai.”

Injil berkata:

“Nilai manusia tidak diperoleh dengan merebut status yang lebih tinggi, tetapi diterima sebagai anugerah Allah.”

Ini bukan berarti manusia harus pasif dan tidak berkembang. Kita boleh belajar, bekerja, mencipta, mengembangkan teknologi, menjaga kesehatan, dan memperbaiki kehidupan. Tetapi semuanya dilakukan sebagai ciptaan yang menerima hidup sebagai anugerah, bukan sebagai makhluk yang sedang berusaha merebut tempat Allah.

VII. Sebuah Peringatan bagi Gereja

Konsep kerakusan ontologis juga perlu menjadi cermin bagi gereja.

Gereja dapat jatuh ke dalam kerakusan yang sama ketika keberhasilan diukur dengan jumlah gedung, pengikut, pengaruh, popularitas, atau kekuasaan.

Pelayanan bahkan dapat berubah menjadi pencarian identitas pribadi: “Saya harus semakin dikenal. Saya harus semakin besar. Saya harus semakin berpengaruh.”

Padahal Yohanes Pembaptis memberikan prinsip yang sederhana tetapi dalam: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yohanes 3:30).

Ini bukan penghancuran diri. Ini adalah reposisi diri: manusia kembali menempatkan dirinya sebagai ciptaan dan Kristus sebagai Tuhan.

VIII. Menjadi Cukup karena Anugerah

Pada akhirnya, kerakusan ontologis adalah masalah ketidakpuasan terhadap siapa kita di hadapan Allah.

Kita ingin memiliki lebih banyak karena merasa belum cukup. Kita ingin dikenal karena takut tidak berarti. Kita ingin berkuasa karena takut lemah. Kita ingin mengatasi kematian karena tidak mau menerima keterbatasan kita sebagai manusia.

Tetapi Injil menawarkan jalan yang berbeda: grace—anugerah.

Saya tidak perlu menjadi Allah untuk mempunyai nilai. Saya tidak perlu menjadi manusia super untuk dikasihi. Saya tidak perlu menguasai dunia untuk mempunyai makna.

Saya adalah ciptaan. Saya terbatas. Saya fana. Namun saya dikenal dan dikasihi oleh Sang Pencipta.

Mungkin justru di situlah kebebasan manusia yang sejati: bukan ketika kita berhasil menjadi lebih daripada manusia, tetapi ketika kita berdamai dengan siapa kita sebagai manusia di hadapan Allah.

Kerakusan ontologis ingin berkata, “Saya harus menjadi lebih.”
Iman Kristen belajar berkata, “Cukuplah kasih karunia-Mu bagiku.”