KHOTBAH DAN NUBUAT?

Apakah Khotbah Sama dengan Nubuat? Menimbang 1 Korintus 14:3

I. Pendahuluan

Paulus menulis, “Siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati, dan menghibur” (1 Kor. 14:3). Karena fungsinya tampak serupa dengan khotbah, sebagian orang menyamakan keduanya. Pertanyaannya: apakah khotbah otomatis adalah nubuat, dan apakah nubuat masih ada hari ini?

II. Persamaan Tujuan

Nubuat dan khotbah sama-sama melayani jemaat. Keduanya bertujuan membangun, menasihati, dan menghibur. Dalam buahnya bagi tubuh Kristus, tidak ada pertentangan di antara keduanya. Khotbah yang setia dapat menguatkan jemaat sebagaimana nubuat.

III. Perbedaan Sumber dan Cara

Namun Alkitab membedakan keduanya. Nubuat dalam 1 Korintus 14 berkaitan dengan penyingkapan (apokalupsis, ay. 30), yaitu pesan yang diterima secara spontan oleh dorongan Roh. Khotbah adalah penguraian Firman yang sudah tertulis: dipelajari, ditafsirkan, disusun, lalu diterapkan. Yang pertama bertumpu pada penyingkapan langsung, yang kedua pada kerja pengkajian dan akal budi yang dipimpin Roh.

IV. Perdebatan Cessationist dan Continuationist

Pembedaan di atas bergantung pada pertanyaan yang lebih mendasar: apa sebenarnya hakikat nubuat, dan apakah karunia ini berlanjut hingga kini? Para penafsir berbeda pandangan, dan jawaban mereka memengaruhi cara kita memandang hubungan nubuat dengan khotbah.

Kaum cessationist berpendapat bahwa karunia nubuat yang membawa pewahyuan berhenti ketika para rasul wafat dan kanon Alkitab lengkap. Mereka merujuk pada Efesus 2:20, yang menyebut para rasul dan nabi sebagai dasar jemaat, serta Yudas 3, yang menegaskan bahwa iman telah disampaikan “satu kali untuk selama-lamanya”. Bagi mereka, tidak ada lagi nubuat yang dapat dibandingkan dengan khotbah. Fungsi membangun, menasihati, dan menghibur kini dijalankan melalui pemberitaan Firman yang sudah lengkap.

Kaum continuationist menjawab bahwa Alkitab tidak pernah menyatakan karunia ini berakhir. Mereka menafsirkan “yang sempurna” dalam 1 Korintus 13:10 sebagai kedatangan Kristus kembali, dan menunjuk Kisah Para Rasul 2:17-18 tentang pencurahan Roh atas anak-anak laki-laki dan perempuan. Bagi mereka, khotbah dan nubuat adalah dua karunia berbeda yang hidup berdampingan. Sebagian dari mereka membedakan nubuat jemaat, yang dapat keliru dan harus diuji, dari firman para nabi dan rasul yang berotoritas mutlak. Nubuat tidak menggantikan khotbah dan tidak pernah setara dengan Kitab Suci.

Kedua kubu sepakat pada hal pokok: khotbah tidak otomatis disebut nubuat, kanon Alkitab telah tertutup, dan Kitab Suci tetap menjadi tolok ukur tertinggi. Karena itu, pembedaan di atas sebaiknya dipegang dengan kerendahan hati dan tanpa saling menghakimi.

V. Keduanya Harus Diuji

Baik nubuat maupun khotbah tunduk pada otoritas Kitab Suci. Paulus meminta nubuat dinilai (1 Kor. 14:29) dan menasihati, “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (1 Tes. 5:21). Jemaat Berea pun memeriksa Kitab Suci untuk menguji ajaran Paulus sendiri (Kis. 17:11).

VI. Kesimpulan

Khotbah yang setia memberitakan Firman dapat berdampak sebesar nubuat, tetapi tidak otomatis disebut nubuat. Entah seseorang cessationist atau continuationist, yang terpenting bukan label, melainkan kesetiaan kepada Firman Tuhan dan kesediaan diuji olehnya.