Makna “Gambar dan Rupa Adam” dalam Kejadian 5:3: Warisan Ilahi yang Diturunkan
Kejadian 5:3 mencatat sebuah kalimat yang penuh makna: “Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu menamainya Set.” Ayat ini menghadirkan konsep teologis yang mendalam tentang transmisi “gambar dan rupa” dari Adam kepada keturunannya.
Konteks Penciptaan Manusia
Untuk memahami makna Kejadian 5:3, kita harus merujuk kepada Kejadian 1:26-27, di mana Allah menciptakan manusia “menurut gambar dan rupa Allah.” Istilah Ibrani yang digunakan adalah tselem (gambar) dan demut (rupa). Tselem merujuk pada representasi atau cerminan yang konkret, sementara demut menunjukkan kemiripan atau keserupaan yang lebih abstrak.
Transformasi Setelah Kejatuhan
Yang menarik dalam Kejadian 5:3 adalah urutan kata yang berubah. Jika dalam penciptaan disebutkan “gambar dan rupa Allah,” maka dalam kelahiran Set disebutkan “rupa dan gambar Adam.” Perubahan urutan ini bukanlah kebetulan. Para teolog menafsirkan bahwa setelah kejatuhan dalam dosa, kondisi manusia mengalami perubahan signifikan.
Manusia tetap memiliki gambar Allah, namun gambar tersebut kini ternoda oleh dosa. Set lahir tidak hanya mewarisi sifat ilahi yang tersisa pada Adam, tetapi juga sifat manusiawi yang telah jatuh. Ini menjelaskan mengapa setiap manusia lahir dengan kecenderungan berbuat dosa, meskipun masih memiliki jejak kemuliaan Allah.
Implikasi Teologis yang Kompleks
Ketiadaan penyebutan eksplisit “gambar Allah” pada Set menimbulkan pertanyaan mendalam tentang kondisi manusia pasca-kejatuhan. Jika gambar Allah benar-benar hilang, maka manusia kehilangan esensi spiritualnya yang fundamental. Namun jika masih ada, mengapa tidak disebutkan?
Kemungkinannya adalah bahwa “gambar Adam” dalam konteks ini merujuk pada kondisi manusia yang telah mengalami perubahan fundamental – bukan lagi gambar Allah yang murni, melainkan gambar yang telah terdistorsi oleh dosa. Teks tampaknya menekankan realitas bahwa keturunan Adam mewarisi kondisi fallen nature sebagai kondisi default, bukan gambar Allah yang asli.
Relevansi Kontemporer
Pemahaman tentang “gambar dan rupa Adam” memberikan perspektif seimbang tentang sifat manusia. Manusia bukanlah makhluk yang sepenuhnya jahat, karena masih memiliki gambar Allah. Namun, manusia juga bukan makhluk yang sempurna, karena gambar tersebut telah rusak oleh dosa.
Konsep ini mendasari pemahaman Kristen tentang perlunya penebusan melalui Kristus, yang disebut sebagai “Adam kedua” yang memulihkan gambar Allah yang sempurna dalam kemanusiaan. Melalui karya penebusan, gambar Allah dalam manusia dapat diperbaharui dan dipulihkan kepada keadaan semula.
Kejadian 5:3 mengingatkan kita bahwa setiap manusia adalah pembawa gambar ilahi yang berharga, sekaligus makhluk yang membutuhkan kasih karunia Allah untuk pemulihan rohani.