MENGENANG HENDRA G.A.

Sahabat dan Saudara Seiman

 

I.Persahabatan yang Dimulai dari Bangku SMA

Ada persahabatan yang lahir sederhana, tetapi kemudian menjadi bagian dari perjalanan hidup yang panjang. Demikianlah persahabatan saya dengan Hendra G.A. Persahabatan itu dimulai sejak masa SMA dan, tanpa kami sadari, berlangsung selama kurang lebih 63 tahun.

Masa muda mempertemukan kami dalam banyak kenangan. Ketika memasuki perguruan tinggi, jalan pendidikan kami mulai berbeda. Hendra memilih Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, sedangkan saya memilih Fakultas Hukum Unpad. Dua tahun kemudian, saya meninggalkan Bandung untuk melanjutkan studi di STT Duta Wacana, Yogyakarta. Hendra tetap melanjutkan studinya di Bandung.

Perbedaan jalan pendidikan ternyata tidak mengakhiri persahabatan kami.

 

II.Jarak yang Tidak Memisahkan

Setelah menyelesaikan studi, saya menjalani panggilan pelayanan sebagai pendeta, mula-mula di Bogor, kemudian melanjutkan pelayanan di Singapura. Walaupun kami menjalani kehidupan dan panggilan yang berbeda, persahabatan itu tetap terpelihara.

Setahun sekali, ketika saya berkunjung ke Bandung, kami selalu berusaha bertemu. Pertemuan itu menjadi kesempatan yang sangat kami nikmati. Tidak selalu diperlukan acara istimewa. Duduk bersama, berbicara tentang kehidupan, mengenang masa lalu, dan saling berbagi cerita sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.

Kemudian saya pindah dan menjadi pdt di  Selandia Baru. Selama sekitar 25 tahun kami tidak lagi dapat bertemu secara langsung. Jarak yang begitu jauh tentu membuat kebersamaan fisik menjadi sesuatu yang tidak mungkin dilakukan seperti dahulu. Namun komunikasi tetap kami jaga melalui WhatsApp. Kami saling bertukar kabar dan mengikuti perjalanan hidup masing-masing.

 

III. Kabar yang Membuat Hati Terdiam

Kemarin, melalui WhatsApp, saya menerima kabar dari  istri alm yaitu Bu Yohana bahwa Hendra telah dipanggil pulang ke rumah Bapa di surga.

Kabar itu membuat hati terdiam. Ada rasa kehilangan, tetapi sekaligus ada rasa syukur. Kehilangan karena seorang sahabat yang telah berjalan bersama selama 63 tahun kini tidak lagi dapat kami jumpai di dunia ini. Namun kami juga bersyukur untuk kehidupan yang Tuhan anugerahkan kepadanya dan untuk persahabatan yang begitu panjang dan indah.

Yang tersisa kini adalah kenangan. Kenangan tentang masa muda, pertemuan-pertemuan di Bandung, percakapan, tawa, dan berbagai cerita kehidupan yang pernah kami bagi bersama.

 

IV.Pengharapan di Rumah Bapa

Sebagai orang percaya, perpisahan karena kematian bukanlah akhir dari segala sesuatu. Kami percaya bahwa di dalam Kristus ada pengharapan akan kehidupan kekal. Karena itu, di balik air mata dan rasa kehilangan, tersimpan keyakinan bahwa suatu hari kelak kami akan bertemu kembali di rumah Bapa.

Selamat jalan, Hendra, sahabat dan saudara seiman. Terima kasih untuk persahabatan yang telah Tuhan pelihara selama 63 tahun. Kenangan indah itu akan tetap hidup dalam hati.

Doa saya menyertai Bu Yohana, anak-anak, menantu-menantu, dan cucu-cucu. Kiranya Tuhan sendiri yang menghibur, menguatkan, dan memberikan ketabahan dalam menjalani masa dukacita ini. Kiranya pengharapan dalam Kristus menjadi kekuatan: perpisahan ini bukan selamanya, sebab di dalam Tuhan ada perjumpaan kembali.