NARASI DAN DOKTRIN SALING MELENGKAPI

Ringkasan  Esai sebagai Gambaran umum

  1. Perdebatan inti: mana yang menjadi titik masuk—narasi (kisah Alkitab) atau doktrin (rumusan teologis)?
  2. Narasi adalah deskriptif: mencatat apa yang Allah lakukan dalam sejarah tertentu.
  3. Doktrin adalah preskriptif: merumuskan prinsip yang berlaku lintas zaman.
  4. Urutan yang sehat bukan piramida satu arah, melainkan spiral hermeneutik: narasi → doktrin → uji kembali ke narasi.
  5. Ekstrem pertama: menjadikan narasi sebagai hukum mutlak (setiap detail wajib ditiru).
  6. Ekstrem kedua: menjadikan doktrin menutup dan mengabaikan narasi yang tidak cocok dengannya.
  7. Jalan tengah: doktrin lahir dari narasi, dan doktrin menuntun pembacaan narasi secara lebih utuh.
  8. Kesimpulan: narasi dan doktrin saling membentuk, bukan saling meniadakan.. Selanjutnya esai ini akan menjelaskan hubungan keduanya dalam Bahasa yang sederhana.

 

Kisah yang Berputar Kembali kepada Kita

Renungan sederhana NARASI DAN DOKTRIN

I.Sebuah Perumpamaan Sederhana

Bayangkan Saudara sedang mendengar cerita dari kakek tentang bagaimana keluarga besar Saudara dulu bertahan hidup di masa sulit. Kakek bercerita panjang lebar. Lalu, di kemudian hari, seorang paman merangkum cerita itu menjadi nasihat singkat: “Keluarga kita selalu saling menolong, apa pun keadaannya.” Nasihat itu benar, tetapi ia lahir dari cerita. Dan setiap kali keluarga Saudara ragu tentang arti nasihat itu, mereka kembali mendengarkan cerita kakek lagi. Begitulah kira-kira cara Alkitab bekerja dalam hidup kita: ada narasi atau cerita, dan ada doktrin atau rumusan makna. Keduanya saling membutuhkan, bukan saling meniadakan.

 

II.Cerita Dahulu, Baru Rumusan

Sebagian besar Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, berbentuk cerita. Allah menyatakan diri-Nya bukan pertama-tama lewat daftar aturan, melainkan lewat peristiwa: Abraham dipanggil, umat Israel keluar dari Mesir, Yesus lahir dan bangkit, jemaat mula-mula menerima Roh Kudus. Cerita-cerita ini adalah data dasar iman kita. Kalau kita melompati cerita dan langsung lari ke rumusan, kita kehilangan kekayaan dan kejutan dari cara Allah bekerja dalam sejarah manusia.

 

III. Ketika Cerita Perlu Dirangkai

Namun cerita saja bisa membingungkan kalau dibiarkan berdiri sendiri tanpa penjelasan. Karena itu, surat-surat rasul seperti Roma, Efesus, atau 1 Korintus hadir untuk merangkai makna dari peristiwa-peristiwa itu. Rasul Paulus, misalnya, menjelaskan makna teologis dari pengalaman jemaat mula-mula supaya jemaat di kemudian hari tidak salah paham. Inilah yang disebut doktrin—bukan sesuatu yang asing atau kaku, melainkan buah renungan iman atas cerita yang telah terjadi.

 

IV.Jangan Berhenti, Kembali Lagi

Di sinilah letak kebijaksanaan yang sering terlupakan. Setelah kita merumuskan doktrin, kita tidak boleh berhenti di situ seolah rumusan itu sudah final dan menutup pintu bagi cerita. Kita perlu kembali membaca cerita itu lagi untuk menguji: apakah rumusan kita masih setia pada seluruh kekayaan kisah yang Allah berikan? Proses ini seperti spiral, bukan tangga yang hanya naik satu arah. Kita bergerak dari cerita menuju rumusan, lalu kembali lagi kepada cerita untuk memperdalam pengertian kita.

 

V.Dua Jalan yang Keliru

Ada dua sikap yang perlu kita waspadai bersama. Pertama, sikap yang menjadikan setiap detail cerita sebagai hukum yang wajib ditiru persis, seakan setiap pengalaman jemaat mula-mula harus terulang sama persis di gereja kita hari ini. Kedua, sikap sebaliknya, yang menjadikan rumusan doktrin begitu berkuasa sehingga cerita-cerita Alkitab yang tidak cocok dengan rumusan itu diabaikan atau dipaksakan maknanya. Kedua sikap ini, meski tampak berlawanan, sama-sama melupakan bahwa cerita dan rumusan seharusnya saling menghidupkan, bukan saling mengalahkan.

 

VI.Manfaat bagi Kita, Umat Awam

Bagi kita yang bukan ahli teologi, renungan ini punya makna yang sangat praktis.

1.Pertama, ia mengajar kita untuk tidak takut membaca cerita-cerita Alkitab apa adanya, tanpa buru-buru mencari “aturan” di baliknya.

2.Kedua, ia mengajar kita untuk menghargai pengajaran gereja dan pengakuan iman sebagai buah pergumulan iman yang panjang, bukan sekadar aturan kaku dari atas.

3.Ketiga, dan yang terpenting, ia melatih kita untuk rendah hati: bahwa pemahaman kita akan Firman Tuhan selalu bisa diperdalam, selama kita terus kembali membaca dan merenungkannya bersama saudara-saudara seiman.

 

VII. Penutup

Rumusan paling sehat yang bisa kita pegang barangkali sederhana saja: biarkan cerita membentuk pemahaman kita, dan biarkan pemahaman itu menuntun kita membaca cerita dengan lebih utuh. Jika kita hanya berpegang pada cerita tanpa rumusan, iman kita mudah liar dan tanpa arah. Namun jika kita hanya berpegang pada rumusan tanpa kembali kepada cerita, iman kita bisa menjadi kering, kehilangan kehangatan perjumpaan dengan Allah yang hidup. Semoga kita, sebagai umat awam, terus berani membaca Alkitab dengan hati yang terbuka—siap dibentuk oleh cerita, dan siap pula memperdalam cerita itu lewat pengajaran yang benar.