Ketika Dosa yang Dipelihara Menjadi Pembunuh
I.Kisah yang Menggoncangkan
Kisah Caleb Flynn mengguncang banyak orang. Ia dijatuhi hukuman seumur hidup karena membunuh istrinya, Ashley Flynn. Mereka memiliki dua putri, berusia 10 dan 12 tahun. Keluarga ini aktif di Christian Life Center, Ohio, dan Caleb melayani sebagai pastor musik.
Menurut kabar yang beredar, Caleb menjalin hubungan gelap dengan salah satu penyanyi di tim musiknya, Aleigha. Hubungan itu berujung pada pembunuhan. Ashley ditembak saat tidur. Caleb merekayasa seolah-olah seorang penyusup masuk ke rumah, lalu menelepon 911 dan berpura-pura menjadi korban. Ketika polisi dan mertuanya tiba, ia menangis dan memerankan duka dengan meyakinkan.
II.Para Pelaku dan Para Korban
Ada Caleb, pelayan yang berdiri di depan jemaat menuntun pujian. Ada Aleigha, yang keluarganya telah lama beribadah di gereja itu, turun-temurun. Ada Ashley, seorang ibu yang mengajarkan kasih Yesus kepada anak-anaknya, dan ia dibunuh oleh orang yang paling wajib melindunginya.
Korbannya jauh lebih banyak dari satu orang. Kedua putri kehilangan ibu sekaligus ayah, dan salah satunya bertanya kepada bibinya apakah Yesus sungguh nyata. Anak-anak sekolah minggu terguncang, dan seluruh keluarga jemaat ikut remuk. Pertanyaan yang menyesakkan pun muncul: bagaimana seorang yang melayani Tuhan bisa sampai ke sana?
III. Membedah dengan Pisau John Owen
John Owen, teolog Puritan, menulis dalam The Mortification of Sin: “Bunuh dosa, atau dosa yang akan membunuh Anda.” Kalimat ini bertumpu pada Roma 8:13. Dosa tidak pernah netral. Ia tidak mati karena dibiarkan, melainkan tumbuh dan menuntut lebih banyak. Tidak ada dosa kecil yang aman untuk dipelihara.
Owen juga mengingatkan bahwa karunia dan jabatan rohani tidak mematikan dosa. Kemampuan memimpin pujian bisa berjalan berdampingan dengan hati yang sedang membusuk, bahkan pelayanan dapat menjadi kedok yang membuat kita merasa aman. Kejatuhan jarang terjadi mendadak. Ada tahapnya: kedekatan yang tidak dijaga, rahasia yang disimpan, pembenaran diri, kebohongan yang makin besar, hingga tipu daya tampak sebagai satu-satunya jalan keluar. Pembunuhan hanyalah buah terakhir dari akar yang lama dibiarkan.
Owen menuntut agar kita menyerang akar, bukan sekadar menyembunyikan buah. Caleb melakukan kebalikannya: ia menyembunyikan, menyusun skenario, dan berakting. Dosa yang tidak dimatikan akhirnya mematikan, bukan hanya pelakunya, tetapi juga orang-orang yang tidak bersalah di sekitarnya.
IV.Kristen Turun-Temurun: Saling Mengenal, Belum Tentu Mengenal Kristus
Keluarga Aleigha adalah keluarga Kristen yang sudah turun-temurun beribadah di gereja yang sama, dan semua orang saling mengenal. Dari luar, inilah gambaran jemaat yang sehat: akar yang dalam, ikatan yang erat, warisan iman yang panjang. Namun kisah ini mengingatkan bahwa keakraban sebuah komunitas tidak sama dengan kehidupan rohani yang sungguh-sungguh.
Pertama, iman tidak diwariskan seperti nama marga. Orang tua dapat mewariskan kebiasaan, lagu, dan tempat duduk di bangku gereja, tetapi tidak dapat mewariskan kelahiran baru. Yesus berkata kepada Nikodemus, seorang yang sangat religius, “Kamu harus dilahirkan kembali” (Yohanes 3:7). Setiap generasi harus berjumpa sendiri dengan Kristus. Tuhan tidak memiliki cucu rohani; Ia hanya memiliki anak-anak yang dilahirkan oleh Roh-Nya.
Kedua, keakraban dapat menjadi selimut bagi dosa. Ketika semua orang saling mengenal, mudah tercipta rasa aman yang palsu: kita mengira dikenal berarti diperiksa, padahal hanya dikenal di permukaan. Orang dapat bernyanyi, melayani, dan makan bersama selama bertahun-tahun tanpa seorang pun tahu apa yang bergolak di dalam hati. Budaya yang terlalu nyaman justru sering enggan menegur dan bertanya hal yang sulit.
Ketiga, Alkitab telah memperingatkan tentang “bentuk ibadah tanpa kuasanya” (2 Timotius 3:5). Kekristenan yang berhenti pada budaya, tradisi, dan jaringan pertemanan tampak hidup, tetapi tidak sanggup mematikan dosa. Yang mematikan perbuatan tubuh adalah Roh (Roma 8:13), bukan latar belakang gerejawi, bukan jabatan, dan bukan lamanya kita berada di dalam gereja.
V.Kesaksian di Ruang Sidang
Di tengah gelapnya kisah ini, ada satu cahaya. Pada sidang vonis, Kayla Keyt, saudari Ashley, menyampaikan pernyataan dampak korban. Ia mengenang bagaimana keluarga dahulu memercayai Caleb sebagai saudara sendiri. Ia takut tindakan Caleb membuat orang meninggalkan iman, lalu mengajak setiap pendengar memandang kepada Yesus, bukan kepada perbuatan manusia.
Kepada kedua keponakannya ia mengajarkan bahwa Yesus tidak menjanjikan hidup tanpa penderitaan, tetapi menjanjikan kehadiran-Nya di tengah penderitaan itu. Ia mengajak mereka “memetik bunga aster”, yaitu mengenali berkat-berkat kecil setiap hari sebagai pegangan harapan. Ia memilih mengampuni agar kebencian tidak menggerogoti hidupnya, sambil tetap menegaskan bahwa kejahatan ini layak mendapat konsekuensi hukum yang berat. Pengampunan tidak meniadakan keadilan; keduanya berdiri berdampingan.
VI.Pesan Pastoral
Saudara yang terkasih, jangan membaca kisah ini dengan sikap “untung bukan saya”. Ujilah hati Anda: adakah dosa yang sedang dipelihara, rahasia yang dilindungi, atau kedekatan yang tidak lagi suci? Datanglah kepada Tuhan dan kepada saudara seiman yang dapat dipercaya selagi dosa itu masih kecil. Pengakuan yang tulus jauh lebih ringan daripada kepura-puraan yang berkepanjangan.
Para pelayan, panggung tidak menyucikan hati. Jagalah kehidupan pribadi Anda sebelum menjaga penampilan pelayanan Anda. Orang tua, doakan dan ajarkan anak-anak Anda sampai mereka sendiri mengenal Tuhan, bukan sekadar mengenal gereja. Jemaat, bangunlah persekutuan yang lebih dari sekadar saling kenal: saling menjaga, saling mengaku dosa, dan saling menegur dalam kasih (Yakobus 5:16).
Bagi yang terguncang, termasuk anak-anak dan jemaat yang bertanya apakah Yesus sungguh nyata: kegagalan seorang pelayan tidak membatalkan kebenaran Kristus. Justru karena manusia bisa jatuh sedalam itu, kita membutuhkan Juruselamat yang tidak pernah jatuh. Dialah yang mematikan dosa di kayu salib, dan Dia menyertai kita di tengah duka.
.
Ref.:
He Sang About His Wife on American Idol. Then He Was Found Guilty of Killing Her