Penciptaan & Neraka: Sebuah Pergumulan Iman
“Jika Tuhan tahu segalanya tentang masa depan, mengapa Ia tetap menciptakan manusia yang sudah diketahui-Nya akan berakhir di neraka? Apakah ini berarti Tuhan itu kejam—membiarkan manusia menderita dan masuk neraka, padahal Dialah yang menciptakan manusia itu sendiri?”
Pertanyaan ini wajar muncul. Banyak orang percaya pernah bergumul dengannya, bahkan sampai merasa ragu pada kebaikan Tuhan. Mari kita renungkan bersama, pelan-pelan, tanpa terburu mencari jawaban yang terlalu mudah.
I. Tuhan Tahu, Tapi Tidak Memaksa
Bayangkan seorang ayah yang tahu persis anaknya akan membuat pilihan yang salah. Pengetahuan sang ayah tentang apa yang akan terjadi tidak sama dengan dialah yang memaksa anak itu memilih yang salah. Begitu juga dengan Tuhan. Tuhan tahu segala sesuatu yang akan terjadi, tapi pengetahuan-Nya itu tidak berarti Dialah yang membuat manusia berdosa. Manusia diciptakan dengan kemampuan untuk memilih—dan pilihan itu sungguh-sungguh nyata, bukan sekadar sandiwara.
II. Tuhan Menciptakan karena Kasih, Bukan karena Ingin Menghukum
Ketika Tuhan menciptakan manusia, tujuan-Nya bukan untuk menjebak manusia masuk neraka. Tujuan-Nya adalah supaya manusia mengenal-Nya dan hidup dalam hubungan kasih dengan-Nya. Dalam kisah penciptaan di Kejadian, manusia diciptakan sebagai gambar Tuhan sendiri—diberi kehormatan dan kepercayaan untuk memilih. Sayangnya, manusia memilih memberontak. Kejatuhan itu bukan rencana Tuhan, melainkan pilihan manusia yang sungguhan.
III. Jadi, Apakah Tuhan Kejam?
Ini pertanyaan yang jujur, dan pantas dijawab dengan jujur juga. Jika Tuhan hanya diam saja membiarkan manusia binasa tanpa berbuat apa-apa, mungkin tuduhan “kejam” itu masuk akal. Tapi itu bukan yang Tuhan lakukan. Justru sebaliknya: Tuhan yang tahu manusia akan jatuh, tidak tinggal diam. Ia mengutus Anak-Nya, Yesus Kristus, untuk turun ke dunia dan menanggung hukuman yang seharusnya jatuh pada manusia. Itu bukan tindakan yang kejam—itu tindakan yang mahal dan penuh pengorbanan.
Neraka bukan sesuatu yang Tuhan inginkan bagi manusia. Neraka adalah akibat dari manusia yang menolak jalan keluar yang sudah Tuhan sediakan dengan susah payah lewat salib. Ibarat seseorang yang ditawarkan obat penyembuh tapi menolak meminumnya—penyakit yang berlanjut bukan salah si dokter yang sudah berusaha menyembuhkan.
IV. Ketika Pertanyaan Berubah Jadi Doa
Mungkin jawaban paling jujur atas pertanyaan ini bukan sekadar penjelasan logis, tapi sikap hati yang rendah di hadapan Tuhan. Rasul Paulus sendiri pernah bergumul dengan misteri seperti ini, dan pada akhirnya ia tidak menutup dengan argumen, tapi dengan pujian: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia” (Roma 11:36).
Saudara yang sedang bergumul dengan pertanyaan ini, Anda tidak sendirian. Dan pergumulan seperti ini, jika dibawa dengan hati yang terbuka, justru bisa membawa Anda lebih dekat kepada Tuhan yang ternyata jauh lebih penuh kasih daripada yang kita sangka—dan jauh lebih serius menanggapi dosa daripada yang kita duga.