Membongkar Akar Perang: Dilema “Cinta yang Memilih”
PENDAHULUAN
Dunia kita hari ini tidak jauh berbeda dengan Periode Negara-Negara Berperang di Tiongkok kuno tempat Mozi hidup sekian abad sebelum masehi. Mengapa senjata terus menyalak, polarisasi media sosial makin meruncing, dan kebencian antar-kelompok tak kunjung padam?
Kita sering menuduh perbedaan politik, budaya, atau agama sebagai biang keladinya. Namun, Mozi menawarkan diagnosis yang mengejutkan: akar dari perpecahan justru adalah karena kita terlalu mencintai kelompok kita sendiri. Kita terjebak dalam cinta yang diskriminatif—cinta yang memilah-milah antara “kita” dan “mereka”.
Dari sudut pandang Iman Reformed, diagnosis Mozi ini terasa sangat familier sekaligus menampar. Alkitab menyebut kondisi ini sebagai perwujudan nyata dari Total Depravity (Kerusakan Total). Sejak kejatuhan manusia dalam dosa (Kejadian 3), hati manusia telah terdistorsi. Dosa egoisme kolektif ini membuat kita membangun “menara-menara Babel” modern untuk meninggikan kelompok sendiri seraya merendahkan yang lain.
I.Logika Jian Ai dan Standar Keadilan Allah
Menghadapi kehancuran zamannya, Mozi menawarkan konsep Jian Ai—cinta universal tanpa pilih bulu. Mozi berargumen bahwa perdamaian hanya akan tercipta jika kita memperlakukan orang lain, suku lain, dan negara lain dengan standar kepedulian dan keadilan yang persis sama dengan kita memperlakukan diri atau kelompok sendiri.
Menariknya, kaum Mohis bukan sekadar pemikir di menara gading. Mereka adalah para praktisi. Melalui logika dan diplomasi yang brilian, Mozi bahkan pernah menggagalkan rencana agresi militer sebuah negara besar hanya dengan simulasi taktik pertahanan di atas meja, membuktikan bahwa perang adalah tindakan yang tidak logis dan merugikan semua pihak.
Bagi orang Kristen Reformed, konsep Jian Ai ini memancarkan kilasan Common Grace (Anugerah Umum). Allah, di dalam kedaulatan-Nya, menaruh benih kebenaran ini di dalam hati seorang filsuf kuno. Ide Jian Ai sejatinya bergema kuat dengan hukum kedua yang terutama: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:39). Allah menuntut standar keadilan yang universal karena setiap manusia—tanpa kecuali—diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Imago Dei).
II.Relevansi Hari Ini: Ilusi Keadilan di Era Digital
Di era media sosial hari ini, ego kelompok (in-group favoritism) menemukan bahan bakar baru. Algoritma internet menciptakan ruang gema (echo chamber) yang membuat kita makin mencintai kelompok kita dan makin membenci kelompok luar. Kita merasa sedang menegakkan keadilan, padahal kita hanya sedang memuja berhala baru: identitas kelompok kita.
Di sinilah letak batas terjauh dari pemikiran Mozi, sekaligus tempat di mana Iman Reformed memberikan jawaban yang radikal. Mozi percaya manusia bisa diyakinkan untuk mempraktikkan Jian Ai melalui argumen logis dan utilitarian. Namun, teologi Reformed menyadari bahwa karena dosa telah merusak kehendak manusia secara radikal, kita tidak akan pernah bisa mencintai sesama secara universal hanya dengan modal logika atau kekuatan tekad sendiri.
III.Cinta yang Sempurna di Bukit Golgota
Jian Ai yang sejati, sebuah cinta universal yang tak memandang bulu, pada akhirnya tidak ditemukan dalam traktat filsafat politik, melainkan telah menjadi daging di dalam diri Yesus Kristus.
Ketika manusia terjebak dalam permusuhan melawan Penciptanya, Kristus tidak memilih-milih. Melalui karya penebusan-Nya di kayu salib, Dia meruntuhkan tembok-tembok pemisah antar-suku dan bangsa (Efesus 2:14). Kristus mempraktikkan “Cinta Universal” yang radikal: Dia mati bagi kita, bukan saat kita menjadi sekutu-Nya, melainkan ketika kita masih menjadi musuh-Nya (Roma 5:8).
Sejarah membuktikan bahwa manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari lingkaran setan kebencian. Kita membutuhkan hati yang baru, hati yang telah mengalami regenerasi (Born Again) oleh Roh Kudus. Hanya ketika kita telah dikasihi tanpa syarat oleh Allah di dalam Kristus, ego kelompok kita dihancurkan, dan kita dimampukan untuk mengasihi dunia ini dengan keadilan yang sejati.
Perang dan perpecahan akan terus membayangi dunia. Namun sebagai umat Reformed, kita dipanggil untuk menjadi agen perdamaian seperti kaum Mohis di zaman kuno, membawa terang keadilan Allah ke dalam ruang-ruang polarisasi modern, sembari menaruh pengharapan penuh pada hari di mana Kristus akan datang kembali untuk memulihkan segala sesuatu.