PEREMPUAN NON ISRAEL_SILSILAH MESIAS

Naama dan Perempuan-perempuan Non-Israel dalam Silsilah Mesias

 

I.Naama dalam Catatan Alkitab

Naama disebut dalam 1 Raja-raja 14:21, 31 dan 2 Tawarikh 12:13 sebagai ibu Rehabeam, “seorang perempuan Amon”. Alkitab tidak mencatat ucapan, tindakan, atau imannya. Ia hanya hadir sebagai nama dan asal-usul. Penulis Raja-raja mencatat nama ibu hampir setiap raja Yehuda, tetapi hanya Naama yang asal bangsanya ditegaskan dua kali.

II.Perempuan Non-Israel dalam Garis Daud

Naama tidak sendirian. Beberapa perempuan dari luar Israel muncul di sepanjang garis yang menuju Daud dan Mesias:

  • Tamar (Kej. 38; Mat. 1:3). Ia hidup di lingkungan Kanaan, dan teks tidak menyebut asal bangsanya secara eksplisit. Ia melahirkan Peres, leluhur Daud.
  • Rahab, perempuan Kanaan dari Yerikho (Yos. 2; 6:25; Mat. 1:5).
  • Rut, perempuan Moab (Rut 4:13-22; Mat. 1:5).
  • Istri Uria, orang Het (2Sam. 11:3; Mat. 1:6). Batsyeba sendiri putri Eliam, tetapi Matius menyebutnya melalui suaminya yang non-Israel.
  • Naama, perempuan Amon, ibu Rehabeam.

Ada satu perbedaan penting. Matius menyebut keempat perempuan pertama dalam silsilahnya, tetapi tidak menyebut Naama (Mat. 1:7). Namanya tercatat dalam arsip raja-raja, bukan dalam daftar Matius. Karena itu, kita tidak boleh mengatakan Matius memasukkan Naama.

III. Latar Hukum dan Peringatan

Taurat melarang orang Amon dan Moab masuk jemaah TUHAN (Ul. 23:3-4), dan Salomo dinilai bersalah karena mengasihi banyak perempuan asing (1Raj. 11:1-2). Namun Rut, perempuan Moab, tetap menjadi nenek moyang Daud. Teks tidak menyembunyikan ketegangan ini. Ia membiarkan larangan dan anugerah berdiri berdampingan, dan itu menunjukkan bahwa Allah tidak terikat oleh batas-batas yang manusia tarik.

IV.Arti Teologisnya

Pertama, janji kepada Abraham sedang digenapi. Allah berfirman bahwa dalam Abraham “semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej. 12:3). Kehadiran perempuan-perempuan non-Israel dalam garis Daud adalah tanda awal bahwa janji ini menjangkau bangsa-bangsa.

Kedua, keanggotaan umat Allah bertumpu pada anugerah, bukan darah. Silsilah Mesias tidak bersih secara etnis, dan tidak pula secara moral. Tamar, Rahab, dan istri Uria terhubung dengan kisah-kisah yang memalukan. Allah menenun kasih karunia-Nya justru melalui kisah-kisah itu.

Ketiga, Kristus datang untuk semua orang. Paulus menyatakan bahwa mereka yang dahulu “jauh” kini menjadi “warga sesama dari orang-orang kudus” (Ef. 2:12-19), dan bahwa dalam Kristus tidak ada lagi perbedaan bangsa (Gal. 3:28). Silsilah Matius sudah mengisyaratkannya sejak halaman pertama Perjanjian Baru.

Keempat, tidak semua kisah dituliskan. Rut mendapat satu kitab utuh, sedangkan Naama hanya satu baris. Teks tidak menjelaskan alasannya. Kita tidak perlu mengisi kekosongan itu dengan spekulasi tentang iman Naama. Cukup bersyukur bahwa Allah memelihara garis janji-Nya melalui orang-orang yang tidak kita ketahui seluruh ceritanya.

V.Pesan Pastoral

Bagi Saudara yang merasa berada di pinggiran, entah karena latar belakang, masa lalu, atau peran yang tidak terlihat, silsilah ini menegaskan bahwa Allah mengenal nama Saudara dan sanggup memakai kehidupan yang tampak biasa bagi rencana-Nya. Bagi gereja, silsilah ini mengingatkan agar kita membuka pintu bagi orang yang berbeda, sebab Tuhan kita sendiri datang melalui garis yang terbuka bagi bangsa-bangsa.

Pengharapan kita tidak bertumpu pada kesempurnaan asal-usul, tetapi pada kesetiaan Allah yang menggenapi janji-Nya.