Refleksi Teologis · Seri Topeng & Keutuhan
PENDAHULUAN
Dari Mana Kata Itu Berasal?
Sebelum bicara soal keaslian diri, ada baiknya kita bertanya: apa sebenarnya yang kita maksud ketika menyebut kata “persona”? Jawabannya tersimpan jauh di panggung teater kuno.
Kata-kata bisa menyimpan sejarah yang panjang di dalamnya. Kalau kita hanya memakai sebuah kata tanpa mengenal asal-usulnya, kita berisiko salah memahami konsep yang sedang kita bicarakan — dan lebih parah lagi, kita bisa salah menerapkannya dalam kehidupan. Inilah yang sering terjadi dengan dua kata yang sangat dekat satu sama lain: person dan persona. Keduanya tampak serupa, tetapi perjalanan maknanya menyimpan perbedaan yang justru penting secara teologis.
I.Panggung sebagai titik berangkat
1.Untuk memahami kata persona, kita perlu berjalan mundur ke teater Yunani dan Romawi kuno. Di panggung pertunjukan itu, seorang aktor tunggal bisa memainkan empat hingga enam peran sekaligus dalam satu lakon. Agar penonton dapat mengikuti siapa yang sedang berbicara — apakah ini raja, budak, dewa, atau rakyat jelata — sang aktor mengenakan topeng kayu yang berbeda-beda untuk setiap karakter.
2.Topeng itu disebut persona. Ia memiliki dua fungsi yang saling terkait: pertama, menyuarakan — dari kata Latin per-sonare, yang berarti “suara yang melewati lubang mulut topeng”; dan kedua, menyatakan peran — penonton tidak melihat wajah aktor, mereka melihat karakter yang sedang dimainkan. Topeng itu bukan dusta. Ia adalah konvensi panggung yang disepakati bersama.
II.Dari panggung ke masyarakat
1.Kata persona kemudian bermigrasi dari dunia teater ke dalam kehidupan sosial Romawi. Alasannya sangat sederhana: kehidupan sosial sendiri memang menuntut kita memainkan berbagai peran — anak, orang tua, pemimpin, bawahan, tetangga, jemaat. Setiap peran membawa ekspektasi, tanggung jawab, dan cara bicara yang berbeda.
2.Dari sinilah kata person — dalam bahasa Latin persona, dalam bahasa Inggris person, dalam bahasa Indonesia pribadi — berkembang menjadi sebutan untuk manusia sebagai individu yang menempati peran-peran tertentu dalam tatanan sosial. Ini bukan perkembangan yang kebetulan. Ini mencerminkan pemahaman bahwa menjadi manusia berarti selalu hadir dalam relasi dan dalam peran.
III.Dua kata, dua arah makna
1.Di sinilah perjalanan dua kata itu mulai berpisah. Person berkembang ke arah yang lebih substantif — ia merujuk pada makhluk yang memiliki kesadaran, kehendak, dan martabat. Dalam filsafat Kristen, kata ini menjadi sangat teknis dan mulia: Allah Tritunggal terdiri dari tiga Pribadi (tres personae), satu hakikat. Konsili Kalsedon tahun 451 menggunakan kata ini untuk menegaskan bahwa Kristus adalah satu Pribadi dengan dua natur. Person menjadi kata yang berbicara soal kedalaman ontologis — siapa seseorang di hadapan Allah.
2.Persona, di sisi lain, bertahan lebih dekat pada makna aslinya: wajah yang ditampilkan, peran yang dimainkan, citra yang diproyeksikan ke dunia luar. Psikolog Carl Jung kemudian mengambil kata ini secara teknis untuk menyebut “lapisan terluar kepribadian” — bagian diri yang ditampilkan kepada masyarakat, yang berbeda dari shadow atau sisi gelap yang tersembunyi.
IV.Relevansi teologisnya
1.Pemahaman etimologis ini bukan sekadar pelajaran sejarah. Ia membuka ruang untuk pertanyaan yang lebih serius: di manakah batas antara persona yang sah — peran sosial yang memang harus kita emban — dan persona yang berbahaya, yaitu topeng yang kita pakai untuk menyembunyikan diri dari Allah dan sesama?
2.”Ujilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku; selidikilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku.” — Mazmur 26:2
Daud berdoa untuk diuji sampai ke kedalaman person-nya — bukan peran yang ia tampilkan sebagai raja, melainkan siapa ia sesungguhnya di hadapan Allah.
Inilah kunci pembedanya: person adalah siapa Anda di hadapan Sang Pencipta; persona adalah apa yang Anda tampilkan di hadapan sesama.
Keduanya tidak harus bertentangan. Tapi ketika keduanya semakin jauh jaraknya — ketika persona yang ditampilkan tidak lagi mencerminkan person yang sesungguhnya — di situlah yang Yesus sebut kemunafikan mulai bekerja. Dan di situlah Injil datang bukan untuk memperbaiki topeng, melainkan untuk melepasnya.