POS PEMUNGUTAN TOL?

Ketika Penjaga Gerbang Berubah Wajah

 

I.Mimpi Lama yang Berbalik Arah

Dua puluh tahun lalu, Tim Wu, seorang ahli hukum dari Columbia, mencetuskan istilah net neutrality — netralitas jaringan (internet). Gagasannya sederhana: internet harus seperti jaringan listrik di rumah Anda. Colokan listrik tidak peduli apakah Anda mencolok setrika, televisi, atau komputer. Semua diperlakukan sama. Internet, katanya, harus begitu juga.

Yang ditakutkan waktu itu adalah penyedia layanan internet — perusahaan telekomunikasi — yang bisa saja mempersulit akses demi keuntungan sendiri. Namun dua dekade kemudian, Wu justru menunjuk ke arah yang berbeda. Bukan lagi penyedia internet yang menjadi ancaman, melainkan platform-platform besar yang berdiri di atasnya: mesin pencari, toko aplikasi, dan media sosial. Wu menyebut mereka “toll collectors” — para pemungut tol yang menguasai titik-titik distribusi, identitas, dan pasar aplikasi. Ia menulis dengan tegas: “The current platforms are not neutral.” Platform hari ini tidak netral.

 

II.Tiga Gerbang yang Dikuasai

Bayangkan Anda ingin menjual produk, mengabarkan Injil, atau sekadar didengar. Anda harus lewat algoritma. Itulah gerbang pertama: distribusi. Ingin masuk ke berbagai layanan digital? Anda memakai akun Google atau Facebook sebagai kunci. Itulah gerbang kedua: identitas — mereka yang sesungguhnya memegang “KTP digital” kita. Ingin membuat aplikasi sendiri? Anda wajib membayar potongan hingga 30 persen kepada Apple atau Google. Itulah gerbang ketiga: pasar aplikasi. Tiga gerbang ini dulunya dibangun sebagai jalan yang menghubungkan orang. Kini mereka menjadi pos pemungutan tol.

 

III. Menara yang Menjulang Terlalu Tinggi

Kisah ini sesungguhnya bukan kisah baru. Ini adalah Kejadian 11 dalam pakaian digital — Menara Babel. Allah memberi manusia mandat budaya di Kejadian 1:28: berkaryalah, ciptakanlah, kelolalah bumi. Facebook, Google, dan yang lainnya lahir dari dorongan itu — awalnya benar-benar terasa sebagai inovasi yang menghubungkan dunia. Namun ketika inovasi tidak lagi tunduk pada keadilan Allah, ia berubah menjadi alat penumpukan kekuasaan. Calvin menyebut kecenderungan ini libido dominandi — nafsu untuk mendominasi. Menara yang tadinya dibangun untuk menyatukan, akhirnya dibangun demi nama besar penciptanya sendiri.

 

IV.Dosa Zakheus di Layar Ponsel

Dalam Alkitab, “tukang palak” yang sesungguhnya adalah para pemungut cukai — orang seperti Zakheus sebelum ia bertobat. Mereka duduk di jalan-jalan strategis dan memeras siapa saja yang lewat. Amsal 31:23 berbicara tentang orang yang “duduk di pintu gerbang kota” — posisi yang seharusnya menegakkan keadilan, bukan memerasnya. Platform digital hari ini melakukan hal yang sama, hanya dengan wajah baru: bukan lagi di gerbang kota, tetapi di layar ponsel kita. Karena itu, seruan Yesaya 1:17 — “belalah hak orang yang lemah” — tetap relevan. Keadilan menuntut pasar yang bebas, tetapi tidak boleh ada satu pihak yang menjadi tuan atas pasar itu sendiri.

 

V.Cermin yang Sering Kita Hindari

Namun sebelum kita terlalu sibuk marah kepada Big Tech, ada baiknya Saudara bertanya pada diri sendiri: di manakah saya sendiri sedang menjadi “tukang palak” kecil? Di grup WhatsApp keluarga, saya bisa menguasai arus informasi. Lewat gosip, saya bisa menguasai identitas orang lain. Lewat sikap dingin, saya bisa menagih “tol perhatian” dari orang-orang di sekitar saya sebelum mau memberi pengampunan atau penerimaan. Dosa toll collector bukan hanya soal korporasi raksasa. Ia juga bisa hidup di rumah, di gereja, bahkan di kantor kita.

 

VI.Tol yang Sudah Dibayar Lunas

Kabar baiknya, Injil justru membalikkan seluruh logika ini. Kristus tidak datang untuk menjadi toll collector yang menuntut bayaran sebelum orang bisa mendekat kepada Allah. Sebaliknya, Dialah yang membayar tol itu sendiri — di kayu salib. Karena kematian-Nya, jalan kepada Bapa kini terbuka lebar, cuma-cuma, bagi siapa saja yang datang kepada-Nya. Jika Kristus rela membayar tol demi kita, mungkinkah kita juga dipanggil untuk berhenti memungut tol dari sesama, dan mulai membuka jalan bagi mereka — dengan gratis, seperti yang telah kita terima?