SALIB KORBAN MANUSIA YANG KEJAM?

Menjawab Tuduhan “Cosmic Child Abuse”: Mengapa Salib Bukan Korban Manusia yang Kejam

PENDAHULUAN

Belakangan ini, ruang media sosial seperti YouTube sering diramaikan oleh diskusi kritis mengenai konsistensi iman Kristen. Salah satu argumen yang cukup sering dilemparkan adalah tuduhan bahwa Allah Kristen kontradiktif atau “menjilat ludah-Nya sendiri.”

Titik berangkat dari polemik ini didasarkan pada dua hal:

  1. Di Perjanjian Lama (PL), Allah melarang keras dan mengutuk ritual korban manusia kepada berhala.
  2. Namun di Perjanjian Baru (PB), Allah seolah melakukan hal yang sama dengan mengorbankan Yesus di salib.

Bahkan teolog progresif seperti Steve Chalke dalam bukunya The Lost Message of Jesus sampai memopulerkan istilah cosmic child abuse (penyiksaan anak secara kosmik)—sebuah pandangan bahwa Allah Bapa memalsukan keadilan dengan menyiksa Anak-Nya sendiri demi melampiaskan murka atas dosa manusia.

 

JAWAB  IMAN REFORMED

Apakah benar salib sekejam dan sekontradiktif itu? Mari kita bedah masalah ini secara jernih melalui kacamata Iman Reformed (Teologi Kalvinis):

  1. Allah Tidak Pernah Berubah (Imutabilitas Allah)

Dalam iman Reformed, Allah itu tidak berubah sifat-Nya. Di Perjanjian Lama, Allah melarang keras korban manusia untuk berhala (seperti dewa Molokh) karena manusia berdosa tidak akan pernah bisa menghapus dosa sesamanya, dan ritual tersebut merendahkan martabat manusia.

Ketika Yesus mati di Perjanjian Baru, itu bukanlah ritual persembahan manusia kepada berhala. Salib adalah tindakan hukum yang sah dari Allah sendiri untuk membereskan masalah dosa secara tuntas. Allah tidak berubah, karena esensi salib sangat berbeda dengan kekejaman ritual pagan.

  1. Yesus Bukan Sekadar “Manusia Biasa” yang Dikorbankan

Kritik yang menyebut salib sebagai “korban manusia” gagal memahami identitas Yesus. Dalam teologi Reformed, Yesus adalah Allah yang sejati dan Manusia yang sejati (dua kodrat dalam satu Pribadi).

Allah tidak mengambil seorang manusia asing yang tak bersalah lalu menghukumnya. Sebaliknya, Allah sendiri yang mengambil rupa manusia untuk menanggung hukuman itu. Yang tergantung di salib adalah Allah Anak yang berinkarnasi. Ini adalah tindakan pengorbanan diri Allah (self-substitution), bukan mengorbankan pihak ketiga.

  1. Menolak Istilah Cosmic Child Abuse

Istilah penyiksaan anak ini sangat ditolak karena menggambarkan Allah Bapa sebagai figur yang kejam dan Yesus sebagai korban yang dipaksa. Kenyataannya:

  • Sukarela, bukan paksaan: Yesus dengan sukarela menyerahkan nyawa-Nya. Dalam Yohanes 10:18 Yesus berkata, “Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri.”
  • Karya Bersama Tritunggal: Salib bukanlah Bapa melawan Anak, melainkan rencana agung bersama antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang didasari oleh kasih yang sama kepada manusia.
  1. Keindahan Penal Substitutionary Atonement

Ini adalah inti dari teologi salib kaum Reformed. Dosa manusia harus dihukum karena Allah itu adil dan suci. Jika Allah membiarkan dosa begitu saja, Dia tidak lagi adil. Namun karena manusia tidak akan kuat menanggung hukuman kekal tersebut, Yesus berdiri di posisi kita untuk menggantikan kita.

Melalui salib, keadilan Allah yang radikal dan kasih Allah yang radikal dipuaskan bersamaan. Allah menuntut keadilan, tetapi Dia sendiri yang membayar tuntutan hukum tersebut melalui Anak-Nya.

 

Pegangan Pastoral untuk Kita:

Saat berhadapan dengan narasi digital yang mereduksi iman, tetaplah kokoh pada doktrin Tritunggal. Salib sama sekali tidak menunjukkan Bapa yang kejam, melainkan bukti kasih tertinggi di mana Allah rela turun sendiri ke dalam sejarah untuk menyelamatkan jiwa kita. Responslah kritik dengan hikmat, kelembutan, dan pemahaman teologis yang utuh.