I.APA ITU SEPTOLESCENT
Septolescent adalah gabungan kata septuagenarian, orang berusia tujuh puluhan, dan adolescent, remaja. Istilah ini dipopulerkan oleh Leo Tin Boon, mantan pilot Angkatan Udara Singapura, untuk menggambarkan orang berusia 70 tahun ke atas yang menolak menua secara mental dan spiritual. Bagi mereka, penuaan adalah keniscayaan biologis, tetapi menjadi pasif, pahit, kesepian, dan kehilangan tujuan adalah sebuah pilihan. Septolescent ditandai dengan rasa ingin tahu yang tinggi, tetap aktif secara fisik, memiliki pertemanan yang hidup, terus belajar, memiliki proyek baru, optimis, bersyukur, dan suka menolong. Sederhananya, mereka menjalani prinsip growing old without growing old — bertambah umur tanpa menjadi tua jiwanya.
II. BAGAIMANA PANDANGAN INI DIPROMOSIKAN
Pandangan ini dipromosikan melalui buku, seminar lansia, media sosial, reels, dan komunitas senior. Narasinya sangat positif dan mudah diterima: usia 70 bukan akhir, melainkan babak baru. Para promotornya menekankan gaya hidup sehat, olahraga ringan, pola makan, menjaga otak dengan membaca, menjaga hati dengan persahabatan, dan menjaga jiwa dengan rasa syukur. Di berbagai negara Asia, konsep ini menjadi semacam gerakan melawan stereotip bahwa lansia harus diam di rumah, sakit-sakitan, dan hanya menunggu waktu. Mereka ditampilkan sebagai sosok yang bugar, fashionable, melek teknologi, berwisata, dan masih produktif.
III. TANGGAPAN MASYARAKAT
Tanggapan masyarakat terbagi dua. Banyak yang menyambut dengan antusias, terutama generasi lansia sendiri. Mereka merasa diberi harapan dan izin untuk kembali bermimpi. Anak-anak mereka pun lega karena orang tua mereka tidak lagi murung dan bergantung penuh. Namun, ada juga yang kritis. Sebagian menilai konsep ini terlalu idealis dan hanya berlaku bagi lansia yang sehat dan berkecukupan secara ekonomi. Bagi yang sakit kronis, miskin, atau ditinggal pasangan, tuntutan untuk selalu ceria bisa menjadi beban baru. Ada pula yang menganggapnya sekadar tren media sosial yang menutupi realitas kesepian dan ketakutan akan kematian.
IV. PANDANGAN IMAN KRISTEN
Iman Kristen tidak menolak semangat septolescent, tetapi memberinya arah dan dasar yang lebih dalam. Alkitab berkata, “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia” — Yesaya 46:4. Tuhan tidak mempensiunkan umat-Nya. Kaleb pada usia 85 tahun masih berkata, “Aku masih sama kuat” — Yosua 14:11. Semangat, syukur, dan pelayanan adalah buah Roh — Galatia 5:22. Namun Kristen mengingatkan, nilai seseorang tidak terletak pada keaktifan, kebugaran, atau kemudaan. Paulus berkata, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu” — 2 Korintus 12:9. Lansia yang terbaring sakit pun tetap berharga. Selain itu, semangat muda harus diimbangi dengan kebijaksanaan penatua — Titus 2:2 — dan kesadaran akan kekekalan — Mazmur 90:12. Jangan sampai kita sibuk menjadi awet muda, tetapi lupa mempersiapkan diri bertemu Tuhan.
V. PESAN PASTORAL
Bapak, Ibu, Saudara yang terkasih, jika Tuhan masih memberi kita nafas, berarti Tuhan masih memberi kita tugas. Jangan biarkan usia memenjarakan semangatmu. Tetaplah belajar, tetaplah mengasihi, tetaplah melayani, dan tetaplah bersahabat. Tetapi jangan kejar kemudaan, kejarlah kekudusan. Biarlah di usia senja, hidup kita bukan hanya terlihat muda, tetapi terlihat seperti Kristus: bijak, lembut, penuh syukur, dan menjadi berkat. Menua itu pasti, tetapi menjadi berkat sampai akhir adalah pilihan iman.