SERI 5 KASIH SETIA TUHAN-FAITHFULNESS

Seri Kasih yang Banyak Sisi (Bagian 5): Mengenal Tuhan yang Berlimpah Setia-Nya (Abounding in Faithfulness / Truth)

PENDAHULUAN

Selamat datang kembali di seri esai blog kita. Kita telah memandang keindahan “berlian” Kasih Ilahi dari sisi Penyayang, Pengasih, Panjang Sabar, hingga Kasih Setia (Hesed). Sekarang, mari kita lihat satu pancaran kokoh berikutnya yang membuat kita bisa tidur nyenyak di malam hari tanpa rasa cemas. Sifat ini menjamin bahwa setiap janji yang keluar dari mulut Tuhan tidak akan pernah meleset, yaitu Berlimpah Setia-Nya (Abounding in Faithfulness).

Jika Hesed adalah tentang komitmen hati Tuhan yang menolak untuk melepaskan kita, maka sifat Berlimpah Setia-Nya ini adalah tentang integritas dan kebenaran tindakan-Nya. Tuhan adalah pribadi yang selalu memegang kata-kata-Nya.

 

I.Pancaran Kasih Tuhan: Fondasi Kokoh yang Tidak Pernah Ingkar

Apa artinya Tuhan itu berlimpah setia dan kebenaran? Sifat ini berarti Tuhan tidak pernah berbohong, tidak pernah berubah pikiran di tengah jalan, dan selalu bisa diandalkan secara mutlak. Kasih-Nya memastikan bahwa apa yang telah Ia janjikan di masa lalu, akan terus Ia genapi di masa kini dan masa depan. Tuhan bukan seorang politikus yang hobi mengumbar janji manis demi menyenangkan hati kita, lalu melupakannya begitu saja.

Bayangkan sebuah kompas pelaut yang sangat tua namun sangat akurat. Biarpun kapal dihantam badai besar, kabut tebal menghalangi pandangan, dan ombak bergulung-gulung, jarum kompas itu akan selalu konsisten menunjuk ke arah utara dengan tepat tanpa meleset satu milimeter pun. Kapten kapal bisa mempertaruhkan seluruh nyawa penumpang karena ia tahu kompas itu bekerja dengan kebenaran yang konsisten.

Seperti itulah sifat setia Tuhan. Dunia di sekitar kita bisa berubah dengan sangat cepat, janji-janji manusia bisa patah, tetapi janji perlindungan, penyertaan, dan kasih Tuhan tetap berdiri tegak layaknya batu karang yang tidak tergerus zaman.

 

II,Kontras dengan Manusia: Janji yang Mudah Goyah oleh Situasi

Ketika kita bercermin pada diri kita sendiri sebagai manusia, sifat setia ini sering kali terasa sangat rapuh. Mengapa? Karena hakikat manusia penuh dengan keterbatasan, rasa takut, dan dipengaruhi oleh situasi emosional atau materi.

Manusia sering kali bermaksud baik saat mengucapkan janji, tetapi ketika keadaan menjadi sulit, mahal, atau tidak menguntungkan lagi, kita dengan mudah melanggar janji tersebut. Kita berjanji untuk selalu ada untuk seorang teman, tetapi ketika kita sibuk, kita mengabaikan mereka. Kita berjanji dalam pernikahan untuk setia dalam suka dan duka, tetapi saat duka melanda terlalu lama, ego kita mulai mencari jalan keluar. Kesetiaan manusia sangat dinamis dan sering kali goyah saat diuji oleh kepentingan pribadi.

 

III. Aplikasi Praktis: Menjawab Kasih Tuhan

Mengenal Tuhan yang berlimpah setia-Nya seharusnya membebaskan kita dari kecemasan hidup, sekaligus membentuk kita menjadi pribadi yang kata-katanya bisa dipegang. Berikut adalah langkah praktisnya:

  1. Kepada Tuhan: Mempertaruhkan Hari Depan pada Janji-Nya

Kita sering kali cemas akan hari esok—tentang kesehatan, keluarga, atau masa depan materi kita. Kecemasan ini muncul karena kita lupa betapa setianya Tuhan.

  • Aksinya: Ambil satu janji Tuhan yang ada di kitab suci (misalnya janji bahwa Ia tidak akan pernah meninggalkan kita). Ketika rasa cemas atau takut melanda minggu ini, ucapkan janji itu dalam doa Anda sebagai jangkar pikiran. Katakan, “Tuhanku setia, dan Ia pasti memegang kata-kata-Nya.” Istirahatlah dengan tenang di atas fondasi kesetiaan-Nya.
  1. Kepada Sesama: Menjadi Pribadi yang Berintegritas

Kita dipanggil untuk mencerminkan kesetiaan Tuhan dengan cara menjaga setiap ucapan dan janji yang keluar dari mulut kita sendiri kepada sesama manusia.

  • Aksinya: Mulailah dari hal-hal kecil minggu ini. Jika Anda berjanji akan menelepon seseorang jam 7 malam, tepatilah. Jika Anda berjanji membantu tugas rekan kerja, selesaikanlah dengan sungguh-sungguh. Jika keadaan mendesak membuat Anda terpaksa membatalkan janji, bicaralah dengan jujur dan bertanggung jawab sejak awal. Jadikan kata “ya” Anda berarti “ya”, sehingga orang-orang di sekitar Anda tahu bahwa mereka bisa mengandalkan Anda.