TAK TERSELAMI NAMUN DEKAT

ALLAH YANG TAK TERSELAMI NAMUN DEKAT
(Renungan dari Yesaya 40:28)

  1. Allah yang Melampaui Pengertian Manusia

“Pengertian-Nya tidak terselami.” Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak dapat dibatasi oleh pikiran manusia. Ia adalah Pencipta alam semesta, yang keberadaan dan karya-Nya jauh melampaui apa yang dapat kita pahami. Sering kali kita ingin mengerti segala sesuatu secara logis, tetapi ketika berbicara tentang Allah, kita harus mengakui keterbatasan kita.

Namun, ketidakterbatasan Allah bukanlah sesuatu yang menakutkan. Justru di situlah letak pengharapan kita. Jika Allah dapat sepenuhnya kita pahami, maka Ia tidak lebih besar dari kita. Tetapi karena Ia tak terselami, kita dapat yakin bahwa Ia memiliki hikmat dan kuasa yang jauh lebih besar dari segala persoalan yang kita hadapi.

 

  1. Allah yang Besar Sekaligus Pribadi

Menariknya, Alkitab tidak hanya menggambarkan Allah sebagai Pribadi yang agung, tetapi juga sebagai Pribadi yang dekat. Dalam Yesaya 40, Allah yang menciptakan bintang-bintang juga adalah Allah yang memberi kekuatan kepada yang lelah. Ia tidak hanya mengatur alam semesta, tetapi juga peduli pada kehidupan setiap individu.

Ini berarti kita tidak sedang berdoa kepada kekuatan yang jauh dan impersonal. Kita datang kepada Bapa yang mengenal kita secara pribadi. Ia tahu pergumulan kita, air mata kita, bahkan isi hati kita yang terdalam. Dalam setiap situasi hidup, kita memiliki Allah yang hadir dan peduli.

 

  1. Ketika Kita Tidak Mengerti Jalan-Nya

Ada masa dalam hidup ketika kita tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Mengapa doa belum dijawab? Mengapa kesulitan datang bertubi-tubi? Dalam momen seperti ini, mudah bagi kita untuk meragukan Tuhan.

Namun justru di sinilah iman bekerja. Kita belajar percaya bukan karena kita mengerti, tetapi karena kita mengenal siapa Allah itu. Ia setia, Ia baik, dan Ia tidak pernah salah dalam rencana-Nya. Ketika kita tidak dapat melihat jalan di depan, kita dapat tetap percaya kepada Dia yang melihat segalanya dengan jelas.

 

  1. Kekuatan Baru bagi yang Berharap

Yesaya 40:31 memberikan janji yang indah: mereka yang menanti-nantikan Tuhan akan mendapat kekuatan baru. Ini bukan sekadar kekuatan fisik, tetapi kekuatan batin—keteguhan hati, damai sejahtera, dan pengharapan yang tidak goyah.

Seperti rajawali yang terbang tinggi, orang yang berharap kepada Tuhan tidak lagi terikat oleh keadaan. Masalah mungkin tetap ada, tetapi cara kita menghadapinya berubah. Kita tidak lagi bergantung pada kekuatan sendiri, melainkan pada kuasa Tuhan yang tidak terbatas.

 

  1. Mengenal Hati Allah

Walaupun kita tidak dapat memahami seluruh pikiran Allah, kita dapat mengenal hati-Nya. Dalam iman Kristen, Allah menyatakan diri-Nya melalui Yesus Kristus—Pribadi yang menunjukkan kasih, pengorbanan, dan kesetiaan Allah kepada manusia.

Di dalam Kristus, kita melihat bahwa Allah bukan hanya besar, tetapi juga penuh kasih. Ia tidak jauh, melainkan dekat. Ia tidak acuh, melainkan peduli. Ia tidak diam, melainkan berbicara dan bekerja dalam hidup kita.

 

Penutup: Percaya di Tengah Keterbatasan

Iman bukan tentang mengetahui semua jawaban, tetapi tentang mempercayai Allah yang memegang semua jawaban. Ketika kita menghadapi hal-hal yang tidak kita mengerti, kita diundang untuk tetap berharap kepada-Nya.

Allah yang tak terselami itu adalah Allah yang kita kenal—Allah yang menguatkan, menuntun, dan tidak pernah meninggalkan kita. Dalam Dia, kita menemukan kekuatan untuk terus berjalan, bahkan di tengah ketidakpastian.

Doa:
Tuhan, Engkau Allah yang besar dan tak terselami, namun Engkau juga Bapa yang dekat. Ajarlah aku untuk tetap percaya, bahkan ketika aku tidak mengerti jalan-Mu. Beri aku kekuatan dan pengharapan baru setiap hari. Amin.