EVALUASI REFORMED : TEOLOGI ANDY STANLEY
Menimbang “Unhitching” dan Otoritas: Evaluasi Reformed terhadap Teologi Andy Stanley
PENDAHULUAN
Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap teologi populer dikejutkan oleh pendekatan provokatif Pdt Andy Stanley. Melalui berbagai khotbah dan bukunya seperti Irresistible, Stanley menawarkan paradigma baru untuk menjangkau generasi skeptis: sebuah iman yang tidak lagi bergantung pada otoritas Alkitab secara keseluruhan, melainkan berfokus secara eksklusif pada peristiwa sejarah Kebangkitan Yesus.
Namun, bagi tradisi Reformed—yang berakar kuat pada kedaulatan Firman—pendekatan ini menimbulkan alarm teologis yang serius.
Mari kita evaluasi tiga pilar utama pengajaran Stanley.
I.Pemutusan Hubungan dengan Perjanjian Lama (Unhitching)
1.Stanley mengusulkan agar orang Kristen “melepaskan diri” (unhitch) dari Perjanjian Lama. Argumennya adalah bahwa hukum-hukum kuno tersebut seringkali menjadi sandungan bagi kaum modern dan bahwa Perjanjian Baru telah menggantikan sepenuhnya sistem lama.
2.Evaluasi Reformed: Teologi Reformed memegang teguh Teologi Perjanjian (Covenant Theology). Alkitab tidak dilihat sebagai dua buku yang terpisah, melainkan satu rencana penebusan yang sinambung. Perjanjian Lama adalah “janji” dan Perjanjian Baru adalah “pemenuhan”.
3.Tanpa Perjanjian Lama, kita kehilangan definisi tentang kekudusan Allah, asal-usul dosa, dan alasan mengapa Kristus harus mati sebagai Anak Domba Paskah. Melepaskan PL bukan sekadar strategi komunikasi, melainkan amputasi teologis yang membuat PB kehilangan dasarnya.
II.Alkitab sebagai “Rumah Kartu” vs. Fondasi Iman
1.Stanley berpendapat bahwa mendasarkan iman pada ineransi (ketidakbersalahan) Alkitab sangat berbahaya. Jika satu fakta sains atau sejarah dalam Alkitab terbukti salah, maka seluruh iman Kristen akan runtuh seperti “rumah kartu”. Karena itu, ia mendorong jemaat untuk mendasarkan iman hanya pada fakta sejarah Kebangkitan.
2.Evaluasi Reformed:
Perspektif Reformed menolak pemisahan antara “Kristus sejarah” dan “Alkitab sebagai Firman”. Prinsip Sola Scriptura menegaskan bahwa Alkitab adalah otoritas tertinggi yang berbicara dengan suara Allah sendiri.
- Masalahnya: Kita tidak mengetahui tentang Kebangkitan kecuali melalui kesaksian Alkitab. Jika kita meragukan otoritas naskah para penulis Alkitab karena mereka dianggap “takhayul”, maka dasar kita untuk memercayai laporan mereka tentang kubur yang kosong juga ikut hancur.
III. Pragmatisme dan Khotbah “Seeker-Sensitive”
1.Dalam hal metodologi, Stanley cenderung meninggalkan khotbah ekspositori (ayat demi ayat) demi pesan yang lebih topikal dan relevan secara psikologis. Ia berfokus pada pertumbuhan angka dan kenyamanan pengunjung gereja.
2.Evaluasi Reformed:
Tujuan utama gereja dalam tradisi Reformed bukan hanya evangelisasi, tetapi muliakan Allah dan pengudusan jemaat. Khotbah ekspositori memastikan bahwa pengkhotbah menyampaikan seluruh kehendak Allah, termasuk bagian-bagian yang tidak “nyaman” didengar. Pragmatisme Stanley berisiko mengubah gereja menjadi klub sosial yang berpusat pada kebutuhan manusia (anthropocentric), alih-alih pada kemuliaan Allah (theocentric).
IV.Aplikasi Praktis: Bagaimana Kita Bersikap?
Sebagai orang percaya yang ingin tetap setia pada kebenaran sekaligus relevan bagi dunia, ada beberapa langkah yang bisa kita ambil:
- Cintai Alkitab secara Utuh: Jangan hanya membaca Perjanjian Baru. Pelajari bagaimana nubuat-nubuat di Perjanjian Lama menemukan kegenapannya di dalam Kristus. Pahami bahwa seluruh Alkitab adalah satu cerita tentang Yesus.
- Berakar pada Doktrin, Bukan Tren: Strategi penjangkauan jemaat akan selalu berubah, namun kebutuhan manusia akan penebusan dosa adalah konstan. Pastikan iman Anda dibangun di atas pengajaran rasuli yang kokoh, bukan sekadar retorika yang enak didengar.
- Apologetika yang Berpusat pada Firman: Kita tidak perlu meminta maaf atas Alkitab di hadapan sains atau budaya modern. Gunakan akal budi untuk menjelaskan iman, tetapi biarkan Alkitab tetap menjadi otoritas terakhir yang menghakimi budaya, bukan sebaliknya.
- Membangun Komunitas Pemuridan: Gereja bukan sekadar tempat untuk “merasa baik”, tetapi tempat untuk bertumbuh dalam pengenalan akan Allah. Carilah komunitas yang berani mengajar dengan mendalam, bukan hanya yang menawarkan hiburan.